
Cara bersandar di dada bidang sang suami. Setelah aksinya di mansion Rical tadi, Cara pergi dengan Geo ke kafe di tepi pantai seperti keinginan Cara. Sekarang mereka sedang menikmati angin senja yang berhembus menyapu kulit mulus kedua insan itu. Cara duduk di sela kaki Geo yang sedang memeluk tubuhnya dari belakang. "Entah kenapa aku begitu menyukai senja," tutur Cara.
Geo mencium puncak kepala sang istri. "Senja memang memiliki daya pikatnya sendiri, Sayang," papar Geo.
Cara mendongak dan tersenyum tipis menatap wajah tampan sang suami. "Seperti suamiku ini? Daya pikatnya sungguh tidak main-main," goda Cara.
Geo terkekeh kecil. "Kamu lebih dari itu, kamu bahkan berhasil membuat aku gila, Baby," bisik Geo rendah.
Laki-laki itu mengangkat tubuh Cara dan memeluknya hangat. Geo membenamkan wajahnya di ceruk leher Cara merasa begitu nyaman. Angin senja ikut menyelimuti kehangatan sepasang suami istri itu. "Aku tidak bisa jauh darimu, Baby," sambung Geo pelan.
Cara tersenyum mendengar perkataan Geo. "Aku juga tidak bisa jauh dari Kak Ge." Cara menarik kepala sang suami dan menangkup wajah tampan itu hangat.
"Kamu semakin tampan, Kak. Aku menjadi semakin khawatir," sambung Cara.
Geo terkekeh. "Apa perlu aku memakai masker ke mana-mana?" canda Geo.
"Itu sepertinya ide yang bagus," balas Cara.
Geo terkekeh kecil, wajahnya masih ditangkup oleh kedua tangan sang istri. Cup …. Cara mengecup pelan bibir sang suami. 'Matamu sampai saat ini masih begitu menggoda, Kak,' batin Cara frustasi.
__ADS_1
Melihat mata tajam Geo yang selalu menatapnya hangat membuat Cara selalu jatuh tak berdaya. Tatapan hangat yang selalu mampu membuat seorang Cara tergila-gila. Geo sendiri mampu mengobati kesepian Cara yang selama ini ditinggal sang bunda.
Geo yang melihat mata mendamba Cara untuknya segera memeluk erat tubuh sang istri. Hormon ibu hamil membuat Cara lebih agresif akhir-akhir ini, dan Geo sebagai suami begitu mengerti. "Ayo kita pulang," bisik Geo. Setelahnya laki-laki tampan itu mengangkat tubuh Cara ala bridalstyle.
...*****...
Rical menatap gadis di sampingnya yang masih menunduk. Laki-laki itu menarik wajah sang gadis dan menatapnya intens. 'Gadis yang cantik,' batin Rical.
"Kau masih memikirkan ayah brengsekmu itu?" ucap Rical.
"Bagaimana pun, dia adalah ayahku, Tuan," sahut gadis itu pelan.
"Tuan, tidak bisakah Anda menolong saya?" papar gadis itu.
"Siapa namamu tadi?" tanya Rical.
"Helen Stamon," sahut gadis itu.
Rical mengangguk pelan. "Apa kau masih ingin menyandang nama Stamon?" tanya Rical.
__ADS_1
"Tentu saja, Tuan," balas gadis itu cepat.
Rical terkekeh melihat wajah lucu gadis di depannya. Wajah Helen sudah bengkak karena terlalu lama menangis. "Berapa umurmu?" tanya Rical lagi.
"Sembilan belas tahun ini," jawab Helen.
Rical kembali mengangguk. "Kau baru lulus sekolah?" Rical kembali bertanya.
"Aku tidak sekolah, Tuan," balas Helen.
Rical terdiam, tidak terlalu terkejut mengingat ayahnya adalah seorang laki-laki bejat. "Kau ingin bersekolah?" tanya Rical.
Helen menoleh menatap wajah tampan laki-laki di depannya. "Ingin pun, aku tidak bisa." Helen tersenyum miris.
"Ikut aku, aku akan menyekolahkanmu. Tidak gratis, kau bisa bekerja sebagai pelayanku," kata Rical.
Helen mendongak menatap wajah Rical terkejut. "Benarkah, Tuan? Saya hanya lulusan sekolah dasar, apa bisa?" tanya Helen.
"Itu hal mudah bagiku, kalau kau ingin, ikut denganku. Semua tanggunganmu akan aku urus," balas Rical.
__ADS_1