Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
160. Tersedak (lb)


__ADS_3

"Hei, ke sini kau." Jesy menoleh ke arah Rical yang baru saja memanggil dirinya.


"Apa apa?" tanya Jesy.


"Buatkan Helen susu, dia belum minum susu pagi ini," titah Rical.


Jesy mengepalkan tangannya mendengar perintah Rical. Helen yang memiliki kondisi tubuh yang lemah, membuatnya harus selalu minum susu setiap pagi. Namun, biasanya yang akan membuatkan susu Helen adalah para pelayan Rical. "Ke mana para pelayanmu itu? Aku tidak mengerti membuatnya," ujar Jesy.


"Kau juga palayanku, kau pikir siapa kau di sini? Kalau tidak bisa tinggal belajar. Bawa Mamamu itu sekalian, cepatlah … sebelum Helen turun," tutur Rical. Dengan sangat terpaksa, Jesy pergi menuju dapur untuk membuatkan susu yang dimaksud Rical.


"Kamu sedang apa, Sayang?" Jesy menoleh dan melihat keberadaan Sasdia mendekat ke arahnya.


"Kolamnya sudah bersih, Ma?" tutur Jesy balik bertanya.


"Sudah, kamu ada keperluan apa ke dapur?" balas Sasdia.


"Aku disuruh membuatkan susu untuk Helen," sahut Jesy kesal.


"Apa? Yang benar saja, siapa yang menyuruhmu? Apa perempuan penggoda itu?" papar Sasdia marah.


"Bukan, Ma. Rical yang menyuruhku," sahut Jesy.


"Kenapa dia menyuruhmu? Biasanya para pelayan itu yang membuatkannya," dengkus Sasdia.


"Sudahlah, sebelum Rical mengamuk, ini bagiamana cara membuatnya? Aku tidak mengerti," sela Jesy.

__ADS_1


"Ck, suamimu itu benar-benar. Perempuan penggoda itu dia belikan susu mahal seperti ini. Sedangkan kamu yang sedang hamil, tidak pernah dibelikan susu. Padahal kamu butuh itu untuk menambah nutrisi kehamilan. Sudah, biar Mama saja membuatnya. Kamu duduk saja," tutur Sasdia dengan nada kesal.


.


.


.


"Kak," sapa Helen.


"Hai, duduklah." Rical menarik tangan Helen dan membawa gadis itu duduk di sampingnya.


"Hari ini kamu ada jadwal ke kampus?" tanya Rical.


"Alisa tidak ada jadwal? Perlu aku temani?" tawar Rical.


"Memangnya boleh Kakak ikut masuk?" tanya Helen.


"Apa saja bisa aku lakukan, itu hal gampang bagiku," ucap Rical dengan nada angkuhnya.


"Tapi Kakak kan sibuk, tidak perlu. Aku pergi sendiri saja, kapan lagi kan. Ke depannya juga Kak Siera akan segera wisuda, jadi aku akan tetap sendiri nanti."


"Cobalah mencari teman."


"Sudah aku coba, tapi … lumayan sulit. Aku kurang bisa berbaur dengan mereka, entahlah. Mungkin nanti akan aku coba lagi."

__ADS_1


"Rical, ini susunya." Suara Jesy mengalihkan perhatian Erick dan Helen.


Erick tersenyum sinis saat melihat Sasdia sedang membawa nampan berisi segelas susu. "Kau benar-benar dimanja, ya. Padahal hanya pelayan," hina Rical.


Jesy dan Sasdia hanya diam sambil menekan rasa marah di dalam hati mereka. Semenjak kejadian di kolam berenang itu, Jesy dan Sasdia sudah tidak berani menyahut Rical sebagai mana dulunya. "Kalian tidak memberi hal aneh di dalam susu ini, bukan?" Rical menatap Sasdia dan Jesy dengan pandangan menyelidik.


"Tentu saja tidak," balas Jesy cepat.


"Minumlah." Rical menyodorkan gelas berisi susu itu kepada Helen.


Helen menerimanya dan mendongak menatap Sasdia dan Jesy bergantian. "Terima kasih." Helen tersenyum ramah kepada sepasang ibu dan anak itu.


Secara perlahan Helen meminum susu itu. "Uhuk …." Helen terbatuk dan memuncratkan susu yang ada di dalam mulutnya.


Rical yang melihat itu terkejut dan panik saat melihat Helen tidak berhenti terbatuk. Laki-laki itu menatap tajam ke arah Sasdia dan Jesy yang sudah memucat ditempat. "Apa yang kalian masukkan ke dalam susu itu, hah?" murka Rical.


"Ti-tidak ada, itu aku sendiri yang membuatnya dan aku tidak memberi apa-apa," balas Sasdia ikut panik.


"Bohong!" Rical berdiri dan berniat untuk mendekat ke arah Sasdia dan Jesy.


Namun, pergerakannya terhenti saat tangan Helen menggapai tangan kekar laki-laki itu. Helen yang masih terbatuk kecil menatap Rical sambil menggelengkan kepalanya. "Apa? Ada yang sakit?" tanya Rical khawatir.


"Uhuk … tidak, Kak." Helen menyahut di sisa batuknya. "Aku tidak apa-apa, Kak. Aku hanya tersedak," sambung Helen pelan.


Mendengar penjelasan Helen, Sasdia dan Jesy menghela napas lega. Sedangkan Rical juga menghela napas, rasa cemasnya perlahan menghilang. "Pelan-pelan," ucap Rical.

__ADS_1


__ADS_2