Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
240. Pertunangan dan Lamaran (lb)


__ADS_3

Rical menarik tangan Helen pelan ke atas podium. Proses pertunangan Farel dan Siera baru saja selesai. Sekarang para tamu sedang sibuk menyantap hidangan sambil mengucapkan selamat kepada Farel dan Siera. "Kita mau apa ke sini, Kak?" tanya Helen bingung.


Cara yang melihat itu, sudah tertawa kecil merasa senang saat Rical benar-benar menjalankan rencana mereka. "Dad, Kak Rical akan segera melamar Helen," tutur Cara kepada Geo.


"Iya, Sayang. Semoga saja kali ini air benar-benar bisa berubah," sahut Geo. Geo dan Cara saat ini sedang berdiri di samping podium dengan Geno berada di gendongan Daddy-nya. Sepasang suami istri itu nampak begitu serasi dengan keberadaan putra kecil mereka.


Seluruh pasang mata saat ini sudah menatap ke arah podium. Mereka penasaran dengan hal apa yang akan dilakukan Rical dan gadis di sampingnya. Kejadian di kampus yang menimpa Helen, sudah tersebar sebagai berita penting di negara itu. Sebab Rical dengan sengaja membiarkan nama Helen tersebar luas sebagai gadisnya.


"Mohon perhatian semuanya, saya di sini bukan sebagai tamu dan sahabat dari Farel Jhons. Tetapi saya berdiri di sini sebagai seorang laki-laki yang menginginkan seorang gadis untuk hidup berdampingan dengan saya sampai ke depannya. Gadis di samping saya ini adalah gadis spesial yang sampai saat ini mampu menarik seluruh perhatian saya."


Helen yang berada di samping Rical hanya diam karena tidak mengerti dengan apa yang diucapkan laki-laki itu. Rical menoleh ke arah Helen yang nampak kebingungan. Laki-laki itu tersenyum tipis menanggapi wajah bingung gadisnya. Beberapa detik kemudian Helen terkejut saat dengan tiba-tiba Rical berlutut di depannya.


"Kak," panggil Helen terkejut.

__ADS_1


Dengan tiba-tiba Rical menyodorkan satu cincin berlian kehadapan Helen. Sedangkan Helen yang melihat itu, jelas saja semakin terkejut dan tidak mengerti dengan kejadian saat ini. "Aku minta maaf karena selama ini menggantung hubungan kita dengan status tidak jelas. Kali ini aku ingin hubungan kita ini semakin jelas dan resmi di mata hukum dan negara. Helen, will you marry me?"


Mulut Helen terbuka lebar saat mendengar ujung kalimat Rical. Gadis itu bahkan menutup mulut dengan kedua tangannya merasa begitu terkejut. "Kak," panggil Helen pelan.


"Terima … terima!" Seluruh tamu undangan yang melihat kejadian itu sudah bersorak. Memandu Helen untuk menerima lamaran Rical.


"Apa kamu belum siap untuk menikah denganku atau memang tidak bersedia menikah denganku?" tanya Rical.


Helen menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan Rical. "Bukan, bukan seperti itu. Aku bersedia, tidak ada alasanku untuk menolak," sahut Helen.


Mendengar kalimat itu kedua sudut bibir Rical terangkat membentuk senyum lebar. Laki-laki itu nampak begitu senang mendengar jawaban dari Helen. Dengan gerakan pelan dan semangat Rical memasangkan cincin lamaran itu di jari manis Helen. "Terima kasih," bisik Rical.


Seluruh tamu undangan itu bertepuk tangan saat melihat kejadian romantis itu. Begitu pula dengan para teman mereka yang saat ini sudah tersenyum senang. "Akhirnya sang casanova kita saat ini sudah bertobat," celetuk Alex.

__ADS_1


"Dia malah membuat pesta pertunanganku menjadi lebih didominasi dengan lamaran ini," ucap Farel.


Mendengar kalimat Farel, para manusia yang berada di samping laki-laki kaku itu tertawa kecil. "Biarkan saja kapan lagi cassanova itu akan terlihat romantis seperti ini," sahut Alex.


"Ah, aku melihat ini menjadi ingin juga berada di posisi Kak Helen. Dilamar dengan begitu romantis di depan banyak orang," pungkas Lamira tiba-tiba.


Kalimat Lamira itu jelas saja mengundang tatapan dari lima pasang mata yang berada di dekat gadis itu. Juan saat ini sudah menatap Lamira dengan pandangan tidak dapat diartikan. "Kode itu kode," goda Cara.


"Tenang saja, untuk acara lamaran kita besok. Aku akan membuat sesuatu yang luar biasa yang bahkan tidak pernah kamu bayangkan selama ini. Aku akan membuat sebuah pesta lamaran yang akan selalu terkenang di dalam pikiran kamu," papar Alex.


Lima pasang yang mendengar kalimat Alex kini sedang menatap laki-laki itu. "Benarkah? Abang tidak sedang membuat kebohongan sekarang kan?" balas Lamira.


Mendengar kalimat Lamira, Alex melotot tidak percaya. "Hei, memangnya kapan aku berbohong kepadamu?" protes Alex.

__ADS_1


"Sering, kata Abang lagi di kantor, ternyata malah di markas. Kadang dibilang lagi di markas, ternyata malah di kantor. Sering seperti itu, dan itu berarti abang berbohong," sahut Lamira.


"Astaga … tapi aku sudah jelaskan masalah itu. Disaat kamu bertanya, aku sedang di kantor tapi saat kamu bertanya lagi, aku sudah berada di markas, begitu pun sebaliknya. Bukan berarti aku berbohong, kamu saja yang hampir setiap menit selalu bertanya kepadaku. Kamu pikir aku patung yang harus diam saja di satu tempat saat kamu bertanya. Terus nanti bergerak di saat kamu bertanya lagi, begitu?" ucap Alex frustasi.


__ADS_2