
Jesy mengepalkan tangannya meras begitu marah. Sedangkan Cara yang melihat sang lawan mulai terpancing sudah tersenyum puas. "Aku sarankan sekarang kau telepon Nyonya Gerisam untuk datang ke sini. Aku jamin kau tidak akan kuat menahan sendiri," tutur Cara.
"Tidak usah mengancamku, aku sama sekali tidak takut kepadamu. Seharusnya kau yang memanggil suamimu itu, tidak sadarkan kalau kau sedang berada di kandang lawan," ejek Jesy.
Cara terkekeh kecil. "Kandang lawan? Kau benar-benar tidak tahu apa-apa ya," balas Cara balik mengejek.
Jesy mengernyit tidak mengerti. "Sudah sampai?"
Suara berat seseorang mengalihkan perhatian sepasang adik kakak itu. Cara tersenyum tipis ke arah Rical yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka. Dengan cepat Jesy mendekat ke arah Rical dan memeluk lengan kekar suaminya itu. "Rical, wanita bodoh ini datang ke sini menyerahkan diri kepada kita," tutur Jesy.
Rical menunduk menatap datar wajah Jesy. "Jaga bicaramu," tegur Rical.
Jesy melotot mendengar balasan Rical yang tidak sesuai ekspektasinya. "Kenapa aku harus menjaga bicaraku? Bukankah bagus wanita ini datang ke sini? Ayo kita buat dia menyesal karena sok berani ke kandang lawan," sambung Jesy.
Rical melepaskan tangan Jesy dari lengannya. "Tidak usah banyak omong kau, cepat persiapkan meja makan untuk sarapan," ujar Rical.
"Tapi kan …."
__ADS_1
"Kau membantahku? Ingin benar-benar jadi gembel?" desis Rical.
Cara tersenyum mengejek ke arah Jesy yang sedang menatapnya tajam. Jesy pergi dari sana tanpa bersuara. Sangat terlihat wajah tidak terima di air muka Jesy. "Aku ingin meja makannya bersih tanpa debu, jika perlu kau lap dengan bajumu," ucap Cara dengan suara sedikit keras.
Jesy mengepalkan tangannya marah mendengar itu. "Wanita brengsek itu benar-benar kurang aja, kenapa juga Rical malah membelanya. Bukannya dia bermusuhan dengan Tuan Vetro? Aku harus apa kalau Rical saja ikut membelanya. Sepertinya aku memang harus menelepon Mama," gumam Jesy marah.
.
.
.
Cara memperhatikan isi meja luas itu. "Ekhm, sepertinya aku sedang ingin ayam bakar kecap Kak," balas Cara.
Rical menoleh, di sana tidak ada ayam bakar kecap. "Jesy, cepat pesan ayam bakar kecap. Cara ingin segera makan," titah Rical kepada Jesy.
Jesy yang masih sibuk menuangkan air untuk Rical melotot tidak terima. "Kenapa aku? Pelayanmu banyak Rical, lagi pula kenapa juga harus menuruti perkataan perempuan itu. Biarkan saja dia memakan apa yang ada di sini," ujar Jesy.
__ADS_1
"Kalau aku bilang pesan ya pesan, bangsat! Tidak usah banyak protes, moodku sedang tidak bagus hari ini. Jangan sampai kau menjadi sasaran amukanku," murka Rical.
Sepertinya perasaan laki-laki itu memang sedang tidak baik. Tidak biasanya Rical marah seperti itu, Jesy memang sudah biasa menghadapi sikap semena-mena Rical. Namun, sepertinya kali ini keadaannya berbeda.
Jesy yang sempat terkejut dengan segera bergegas dari sana dengan perasaan takut bercampur dongkol. Sedangkan Cara yang yang sebenarnya ikut terkejut mendengar nada tinggi Rical menoleh ke arah laki-laki itu yang sedang mengusap wajahnya kasar. "Tidak berjalan mulus Kak?" tanya Cara.
Rical menghela napas berat. "Maaf aku mengejutkanmu, ada sedikit kendala," papar Rical.
Cara mengangguk kecil. "Tidak terlalu parah bukan?" tanya Cara lagi.
"Tidak, hanya saja aku yakin suamimu akan mengamuk," balas Rical lesu.
Cara terkekeh mendengar nada lesu laki-laki itu. "Tapi … mungkin nanti kau bisa membantuku berbicara kepadanya." Rical menatap Cara dengan mata berbinar, isyarat akan membujuk.
Cara kembali terkekeh, sungguh lucu melihat wajah laki-laki yang biasanya terlihat sangar dan mesum itu sekarang berubah seperti seekor anak anjing. "Aku tidak mengerti masalah itu," sahut Cara.
Rical menghela napas pasrah. "Sudahlah, aku terima saja nanti," papar Rical pelan.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya berurusan dengan seseorang yang kerjanya perfeksionis Kak?" tanya Cara.
"Tidak mengenakkan, suamimu itu sama sekali tidak menerima bahkan secuil kesalahan pun. Tapi karena sifatnya itulah dia bisa menjadi penguasa bisnis dan dunia gelap," jelas Rical.