Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
87. Kesetanan (lb)


__ADS_3

"Kau keterlaluan," murka Sasdia.


"Keterlaluan? Ini tidak panas, jadi bukan keterlaluan namanya," sahut Cara santai.


"Sayang, ayo kita bersihkan," ajak Sasdia khawatir.


Jesy mengepalkan tangannya marah. Wanita itu menatap tajam Cara yang sedang tersenyum manis ke arahnya. "Kenapa? Kau ingin lagi? Sepertinya kau sangat menikmati sekali," tutur Cara.


"Akan aku balas ini semua," desis Jesy.


"Pfft … aku tunggu, gembel. Setelah aku perhatikan lagi, kau benar-benar seperti gembel ya sekarang," ejek Cara.


"Diamlah, Cara," geram Sasdia.


"Aku punya mulut, bagaimana dong?" sahut Cara santai.

__ADS_1


"Ayo, Sayang. Tidak usah dihiraukan gadis kurang ajar ini," kata Sasdia.


"Kau mengatai aku kurang ajar?" bisik Cara.


"Kau memang kurang ajar, Jesy adalah adikmu. Kau memperlakukannya seperti ini, bahkan dia sedang hamil," geram Sasdia.


Wajah Cara tiba-tiba menggelap, perkataan Sasdia mampu membuat istri mafia itu mengingat kehidupannya dulu. "Kau membahas masalah itu sekarang? Dulu ke mana saja?" ejek Cara.


"Apa perlu aku ingatkan lagi bagaimana kelakuan kalian kepada aku dan bundaku dulu?" desis Cara. Sasdia dan Jesy terdiam saat sadar bahwa mereka salah bicara.


"Kau membahas masalah hamil? Aku tahu bagaimana kau memperlakukan mendiang bundaku dulu. Bahkan di saat dia hamil, kau memperlakukannya bak hewan peliharaan. Tanpa memiliki hati, kau dan suami brengsekmu itu menganiayanya secara fisik dan psikis. Aku … memiliki dokumen lengkap semua perjalan hidup keluarga Gerisam. Kau yang susah memiliki keturunan malah menyeret mendiang bundaku. Bukannya bertanggung jawab dengan kehidupan bundaku, kau malah membuatnya menderita," desis Cara.


"Kau beralasan kasta? Hanya karena bundaku berasal dari kelas bawah, kalian memperlakukannya bahkan lebih buruk dari binatang. Kalian memang an***g, bangsat!" Entah apa yang merasuki diri Cara sehingga membuat wanita itu tiba-tiba mengamuk.


Plak … bruk …

__ADS_1


Cara menampar keras pipi Sasdia sambil menangis histeris. Bayangan sang bunda yang begitu teraniaya dan tersiksa merasuki otaknya. Hal itu membuat jiwa tenang Cara tiba-tiba terusik. "Mama."


Jesy berlari ke arah Sasdia yang sudah terduduk di lantai sambil meringis kesakitan. "Kau sudah gila? Kau menampar orang yang lebih tua, tidak punya sopan satun," teriak Jesy.


Cara menatap tajam Jesy, wanita itu salah jika berani melawan Cara di saat jiwa iblis istri mafia itu sedang membuncah. Cara bergerak cepat ke arah Jesy dan menginjak kaki wanita itu tanpa ampun. "Akkhh …."


"Lepaskan," teriak Sasdia. Wanita paruh baya itu menangis histeris saat melihat tangan putrinya mulai mengeluarkan darah.


"Kau lupa kalau kau bahkan pernah menginjak tangan bundaku? Persis seperti ini, bahkan tulang tangan bundaku ada yang patah kala itu," desis Cara.


"Lepaskan!" Sasdia mencoba mengangkat kaki Cara dari tangan Jesy.


Cara malah semakin menginjak tangan Jesy yang sudah berteriak kesakitan. Semua orang yang menyaksikan aksi Cara hanya bisa diam sambil bergidik ngeri. Mereka tidak berani masuk ke dalam permasalahan yang menyangkut istri mafia itu. "Aku bersikap lunak, kalian malah menjadi-jadi. Brengsek!" Cara bahkan menarik rambut dua wanita itu kesetanan.


Jika waktu bisa diputar ulang, beberapa tahun yang lalu mereka pernah berada dalam keadaan kacau seperti ini. Namun, bedanya kala itu Dea adalah orang yang menjadi korban dari kegilaan sepasang ibu dan anak yang sekarang sedang menjerit kesakitan. Cara jelas mengingat betul bagaimana menderitanya sang bunda di bawah siksaan Sadia dan Jesy, ditambah oleh Torih.

__ADS_1


__ADS_2