
"Lamira Laksa." Pergerakan Lamira terhenti mendengar suara datar Farel. Gadis itu menatap terkejut ke arah Farel yang bisa mengetahui nama lengkapnya.
Alex pun ikut terkejut mendengar itu. "Kau anak Istak Laksa?" tanya Alex.
Lamira meringis, sepertinya dia tidak bisa menyembunyikan jati dirinya lagi. "Iya," sahut Lamira pelan.
Alex menatap memicing ke arah Lamira, setelahnya laki-laki itu menoleh ke arah Farel. Dengan gerakan cepat Alex merebut tablet di tangan Farel. Kening laki-laki itu berkerut membaca biodata lengkap gadis di sampingnya. Beberapa menit terdiam, Alex kembali menoleh ke arah Lamira yang sudah menunduk. "Kau tahu siapa kami?" tanya Alex serius.
Lamira melirik Alex dan menggeleng pelan. "Aku baru kembali kemarin dari London, Bang. Hari ini aku kabur karena ayah ingin menjodohkan aku dengan rekan kerjanya," ucap Lamira pelan.
Alex diam, apa yang dikatakan oleh Lamira benar. Laki-laki itu juga sudah membacanya secara jelas siapa dan bagaimana kehidupan Lamira. Gadis ceria itu ternyata tidak seceria yang terlihat. Istak Laksa adalah laki-laki keras yang mendidik putrinya juga dengan kekerasan. Istak adalah salah satu pengusaha ternama di Indonesia dan salah satu rekan kerja VT Group.
Alex menghela napas panjang. "Ayo aku antar kau pulang," ucap Alex.
"Tidak Bang, aku tidak ingin dinikahkan dengan laki-laki yang tidak aku cintai," ucap Lamira memohon.
Cara menatap Lamira dengan pandangan kasihan. Wanita itu merasa jika kehidupan Lamira mungkin saja hampir sama dengan dirinya. Memiliki ayah yang keras, gila harta dan egois. "Tolonglah aku, Bang," pinta Lamira pelan.
"Kira-kira bagaimana respon ayahmu nanti saat tahu putrinya kabur ke area pemimpin Death?" ucap Alex.
__ADS_1
Lamira terkejut. "Death?" gumam Lamira.
"Kau tahu Death?" tanya Alex.
Lamira mengangguk cepat. "Apa yang kau tahu?" tanya Alex lagi.
"Aku rasa tidak ada yang tidak tahu tentang Death. Death nama kumpulan mafia ternama di dunia. Sudah tersebar di pelosok dunia, mereka mafia keja. Aku tahu kalau markas utamanya ada di Amerika," jelas Lamira.
Alex mengangguk kecil. "Kau tahu siapa pemimpinnya?" tanya Alex.
Lamira mengernyit. "Kenapa jadi membahas ini?" balas Lamira bingung.
"Aku tidak tahu siapa pemimpinnya, karena aku belum pernah bertemu. Yang aku dengar dia laki-laki tampan, dingin dan kejam. Namanya Geo Vetro," jawab Lamira. Cara yang mendengar jawaban Lamira mencoba menahan tawa.
Alex menghela napas panjang. "Sekarang kau bertemu dengannya, itu orangnya. Tuan Vetro." Alex menunjuk keberadaan Geo yang menatapnya dingin.
Lamira terlonjak mendengar itu, gadis itu menatap ke arah Cara seakan meminta jawaban. Melihat Cara tersenyum manis ke arahnya membuat Lamira memucat. "Ja-jadi, dia pemimpin Death?" gumam Lamira.
"Kamu tahu juga tidak, siapa nama wakil pemimpin Death?" pancing Cara.
__ADS_1
Lamira terdiam, jika tadi dia dengan berani dan ceria menjawab pertanyaan Cara. Sekarang gadis itu malah terlihat kaku. "A-alex Rowin," sahut Lamira.
Beberapa detik kemudian Lamira melotot menatap Lamira yang sedang menatapnya santai. "Ka-kamu Alex yang itu, Bang?" tanya Lamira tergagap.
Sedangkan Alex memutar bola matanya malas. "Namaku tidak pasaran," sahut Alex.
Lamira menoleh ke arah Farel yang sedang duduk diam. "Berarti d-dia, Farel Jhons, ahli IT?" tanya Lamira terbata.
"Benar sekali, ternyata kamu benar-benar tahu tentang Death ya," sahut Cara.
Lamira menganga ditempat dengan wajah pucat. 'Ternyata aku masuk kandang harimau? Bagaimana ini?' batin Lamira panik.
Alex yang melihat wajah pucat milik Lamira menghela napas panjang. "Kau masih ingin di sini?" tanya Alex.
Lamira terlonjak, gadis itu melirik kaku ke arah Alex yang sedang menatapnya dengan alis bertaut. "Ma-maaf, Bang. Aku akan segera pulang, aku permisi." Lamira berjalan cepat ke arah pintu mansion dengan gerakan kaku.
Siera meringis melihat kepergian Lamira dengan wajah pucat. 'Aku saja rasanya ingin pipis di celana sekarang. Kalau bukan karena keberadaan Cara, mana berani aku duduk di sini,' batin Siera.
Sedangkan Cara menatap iba gadis itu, sangat terlihat wajah takut dari raut Lamira. "Kak, kenapa diam saja? Kasihan loh."
__ADS_1
Kalimat Cara menyadarkan keterdiaman Alex. Laki-laki itu menghela napas panjang sebelum bersuara. "Aku pergi dulu." Setelah mengatakan itu, Alex melangkah pergi dari sana.