Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
124. Kepala Botak (lb)


__ADS_3

"Jesy, ambilkan aku minuman. Aku haus sekali," ucap Cara kepada Jesy.


Sedangkan Jesy yang sempat melamun, terkejut mendengar suara Cara. "Biar saya saja, Nyonya Vetro," balas Sasdia.


"Tidak, kau sudah kelelahan membersihkan itu. Biarkan Jesy saja," sanggah Cara.


"Tidak apa-apa, aku tidak lelah," cetus Sasdia.


"Tidak usah membantah, Jesy ambilkan cepat," tegas Cara.


Sedangkan Jesy sudah mengepalkan tangannya marah. Namun, wanita itu tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Cara. Beberapa menit kemudian, Jesy kembali dengan membawa sebuah gelas di tangannya. "Ini, Nyonya." Jesy berucap dengan nada yang tampak begitu ditekan.


"Aku ingin minuman yang dingin. Berikan minuman terbaik di sini untukku," ujar Cara.


Jesy menggenggam erat gelas di tangannya merasa begitu kesal. "Biarkan saya saja, Nyonya. Jesy tidak boleh kelelahan," sela Sasdia.


"Selesaikan saja pekerjaanmu itu cepat, dan kau pergilah ganti air itu. Tenggorokanku sudah kering," pungkas Cara.


"Tapi …."


"Tidak apa-apa, Ma. Aku tidak lelah," tukas Jesy cepat.

__ADS_1


"Tidak usah banyak drama kalian, cepat saja lakukan apa yang aku perintahkan," potong Cara malas.


Sasdia menatap Cara tidak suka, sedangkan Torih sedari tadi hanya diam tidak tahu ingin berbicara apa. Lagi pula, laki-laki paruh baya itu masih waras untuk tidak berbicara di depan Geo. Apa lagi untuk melawan dan berdebat dengan Cara di depan laki-laki itu. "Sudah, Sasa," ucap Torih pelan.


Tidak berselang lama, Jesy kembali membawa gelas yang berbeda dari sebelumnya. "Stop." Pergerakan tangan Jesy terhenti saat mendengar suara Cara.


'Apa lagi?' batin Jesy kesal.


"Kenapa kau membawakan minuman stroberi untukku? Apa kau sudah lupa kalau aku membenci stroberi? Padahal kau sudah sempat menjadi babuku selama satu bulan lebih. Aku tidak menyangka ternyata otakmu separah itu, tidak mampu mengingat hal sepele seperti ini. Aku harap anakmu itu menuruni otak Kak Rical nantinya. Kasihan dia kalau otaknya sebelas duabelas denganmu, pasti akan selalu ditertawakan orang lain," ejek Cara.


Tangan Jesy mengepal erat merasa begitu tersinggung. Begitu pula dengan Sasdia yang ikut merasa sesak saat anaknya direndahkan seperti itu. "Ganti lagi," sambung Cara datar.


Jesy menghela napas mencoba mengontrol emosinya. Sedangkan Sasdia dengan cepat mengambil alih gelas yang berada di tangan Jesy. "Biarkan kali ini saya saja, Nyonya. Kasihan Jesy, dia sedang hamil. Anda juga sedang hamil, bukan? Saya rasa Anda mengerti bagaimana rasa lelah saat hamil," tutur Sasdia.


"Tidak usah memanjakannya, kalian bukan lagi keluarga kaya. Sadarlah dengan posisi saat ini. Belajarlah dari mendiang Bundaku, bahkan saat hamil berat pun dia tetap menjadi babumu. Bukankah waktu itu kau juga sedang hamil? Apa kau mengerti dengan keadaannya?" Cara menatap tajam Sasdia yang terdiam di tempat.


"Dia bahkan tidak berhenti menjadi babu sembari bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Karena dia sama sekali tidak dinafkahi oleh suami brengseknya," sambung Cara.


Deg …. Torih terdiam saat gilirannya datang untuk disindir. Laki-laki itu hanya mampu menundukkan kepala, tidak bisa berkilah. "Jadi sekarang tidak usah sok membicarakan hal pengertian denganku. Berkacalah," papar Cara sinis.


"Dan kau, cepat ganti minumanku," desis Cara.

__ADS_1


...*****...


"Kenapa, Sayang?" tanya Geo.


"Aku ingin sesuatu, Kak," ucap Cara pelan.


"Ingin apa?" tanya Geo lembut.


"Aku ingin sekali menggambar sekarang," balas Cara.


Geo mengernyit bingung. "Ya sudah. Aku pesan kertas dan peralatan lainnya," tutur Geo.


"Bukan, aku tidak ingin menggambar di kertas," sela Cara.


"Terus?" tanya Geo bingung.


"Aku ingin menggambar di kepala seseorang," ungkap Cara.


Kening Geo berkerut bingung. "Kepala, maksud kamu?" tanya Geo tidak mengerti.


"Carikan aku orang yang memiliki kepala botak. Aku ingin menggambar kepala orang sekarang," terang Cara santai.

__ADS_1


Mata Geo membola dengan mulut ternganga. 'Baru seumur ini kandungannya, tapi … keinginannya selalu aneh-aneh, bagaimana nanti kalau semakin besar?' batin Geo meringis.


__ADS_2