
Langkah kaki Cara yang sedang berjalan bersama Siera terhenti saat tiba-tiba dua wanita menghadang jalan mereka. Cara menatap dua wanita itu dengan kening berkerut. Sedangkan Siera melotot melihat wanita paruh baya yang masih begitu diingatnya. "Permisi, kami ingin lewat," papar Cara sopan.
"Kau istri Geo?" Patricia menatap Cara dari atas sampai bawah seakan sedang menilai. 'Cantik juga dia,' sambung Patricia di dalam hati.
"Maaf, Tante siapa, ya?" tanya Cara masih dengan nada sopan. Meski Cara jelas menangkap nada angkuh pada kalimat Patricia.
"Dia Mamanya Kak Farel, Ra," bisik Siera.
Mata Cara membola, setelahnya wanita hamil itu menatap wajah Patricia. 'Memang ada kemiripan dengan Kak Farel,' batin Cara.
"Kalian sama-sama manusia rendahan, ya. Kau percaya diri sekali menikah bahkan sampai hamil seperti ini dengan keponakanku. Dan kau, kau percaya diri sekali mendekati anakku," tutur Patricia sinis.
"Oh, jadi Tante ini adalah Mamanya Kak Farel. Senang bertemu dengan Tante," papar Cara sopan.
"Tapi aku tidak senang bertemu denganmu." Patricia menatap remeh Cara. Sedangkan wanita yang sedari tadi diam di samping wanita paruh baya itu sudah tertawa.
__ADS_1
"Sayang sekali kalau begitu," sahut Cara santai.
"Huh, aku tidak ada urusan denganmu. Aku ingin menegaskan kepada kalangan rendah seperti kalian, untuk sadar dengan posisi di dunia ini. Kau jauhi anakku, dia akan aku nikahkan dengan wanita kelas elegan. Kelas yang sepantaran dengan kami." Patricia meraih tangan wanita di sampingnya sambil tersenyum sinis.
"Aku Zena, calon istri Farel." Wanita di samping Patricia bersuara begitu angkuh sambil menatap wajah Siera sinis.
Cara tertawa keras mendengar perkataan Zena. "Calon istri? Apa kau masih tidur, Nona?" ejek Cara.
Zena menatap Cara dengan pandangan tajam. "Apa kau? Jangan macam-macam ya kau, aku tidak berbicara denganmu," geram Zena.
"Tahu, kau diam saja. Tidak usah ikut campur," tambah Patricia.
"Apa maksudmu? Kau mengatakan aku liar?" murka Zena tidak terima.
"Loh, aku tidak menyebut namamu. Kau saja yang terlalu merasa," balas Cara santai.
__ADS_1
"Kau benar-benar tidak memiliki adab, jelas saja karena kalian hanya manusia dari kelas rendahan. Tidak memiliki sopan santun," geram Patricia.
"Kira-kira mana yang lebih tidak beradab, aku atau orang yang memotong langkah orang lain dan berlanjut dengan menghina status orang lain?" papar Cara datar.
"Kau …." Siera mendorong tubuh Zena yang berniat mendekat ke arah Cara.
"Kau sudah bosan hidup? Tidak tahu siapa dia? Menyentuhnya sama saja kau mengakhiri hidup," ledek Siera.
"Kalian sama saja, tidak punya sopan santun. Aku tidak sudi jika anakku menikah denganmu." Patricia menatap tajam Siera dan Cara secara bergantian.
"Maaf, Tante. Tapi, kalau boleh saya jujur … bahkan Kak Farel menyuruh aku melawan jika Tante bertindak. Tapi, aku masih merasa sungkan dengan hal itu. Namun, tidak untuk dia … bagaimana pun aku akan mempertahankan hak milikku. Kak Farel milikku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya," tekan Siera.
"Kau …."
Klap …. Tangan Zena yang hampir menyapa pipi mulus Siera terhenti, saat Siera lebih dulu menahan tangan wanita itu. "Shhh, lepaskan." Zena meringis kala merasakan sakit di tangannya.
__ADS_1
"Maka dari itu, Nona. Sebelum bertindak, cari tahu dulu lawanmu. Sahabatku ini adalah atlet karate yang saat ini meningkat menjadi pelatihnya. Setahu aku, dia sudah cukup lama tidak turun lapangan. Mungkin, kamu bisa menjadi pembukanya bulan ini." Cara tersenyum miring menatap wajah pucat Zena.
"Lepaskan tangan Zena." Patricia yang ikut terkejut mendengar perkataan Cara, mendekat dan mencoba melepaskan genggaman Siera di tangan Zena.