
Siera menangis melihat wajah pucat Cara yang tidak sadarkan diri. Farel mencoba menenangkan sang kekasih yang nampak begitu kesulitan menahan air matanya. "Kak, Cara …," isak Siera.
"Iya, Sie. Tenanglah, dia akan baik-baik saja," ucap Farel mencoba menenangkan Siera. Meski jauh di dalam lubuk hatinya, laki-laki itu juga begitu khawatir dengan keadaan Cara.
Cklek …. Ruangan rawat Cara terbuka memperlihatkan sosok Geo yang berjalan masuk. Melihat kedatangan Geo, isakan Siera mulai mengecil. Meski sudah hampir setiap hari bersama, Siera masih menyimpan rasa takut dan segan kepada suami sahabatnya itu.
Geo terus berjalan mendekat ke arah ranjang sang istri. Mata dingin laki-laki itu sekarang sudah tidak terlihat. Hanya menyisakan mata sendu penuh kesedihan. Geo meraih tangan dingin Cara dan menggenggamnya lembut. 'Baby, anak kita butuh ASI, cepatlah bangun,' batin Geo sendu.
Cklek …. Pintu ruangan rawat Cara kembali terbuka. Seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu dengan mendorong sebuah ranjang bayi. Melihat itu semua mata merasa antusias bercampur sedih. "Letakkan di sini," titah Geo.
Dengan patuh perawat itu meletakkan ranjang bayi itu tepat di samping ranjang Cara. Setelahnya perawat itu bergerak kaku menuju pintu keluar. "Saya permisi, Tuan," pamit perawat itu.
Geo menatap wajah putranya yang sedari lahir tadi masih saja memejamkan matanya. Laki-laki itu bahkan belum bersitatap dengan sang anak. 'Dia sangat tampan, seperti keinginan kamu, Mommy,' batin Geo lagi.
__ADS_1
Farel dan tiga gadis yang berada di dalam ruangan itu ikut mendekat ingin melihat wajah sang putra pertama pemimpin Death itu. Farel tersenyum hangat saat melihat wajah keponakannya yang nampak terlelap nyaman. "Ini adalah penerus Death nantinya," ucap Farel.
Cklek …. Untuk kesekian kalinya, pintu ruangan rawat Cara dibuka dari luar. Dua sosok laki-laki masuk ke sana dengan keadaan tergesa. Dua pasang mata itu terdiam melihat wajah pucat Cara yang nampak terbaring lemah di atas ranjang. Hal yang semakin membuat mereka teriris adalah berbagai alat yang tertancap di tubuh wanita itu.
Alex dan Rical mendekat ke arah ranjang dengan mata sedih. "Dek," panggil Alex lemah.
Sedangkan Rical sudah mengalihkan wajahnya merasa matanya mulai berkabut. Melihat wajah pucat Cara saat ini sungguh membuat laki-laki merasa begitu sedih. Wanita yang biasanya selalu berucap dengan nada ceria, sekarang sudah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Alex memang laki-laki yang ganas jika menyangkut pertempuran. Namun, sedari dulu di antara empat sekawan itu. Alex memang laki-laki yang paling mudah bersedih dan menangis. 'Bangun kamu,' batin Alex asal.
Mereka mendekat dan menatap bayi kecil itu dengan pandangan berbinar. "Dia keponakanku," tutur Alex.
"Keponakanku, tidak lihat dia tampan seperti aku," sahut Rical.
__ADS_1
Farel yang mendengar perkataan dua laki-laki itu hanya bisa mendengus tidak habis pikir. Tadi saja larut di dalam kesedihan, kenapa sekarang malah bertengkar. "Tidak usah berisik, kelian bisa membangunkannya," tegur Farel malas.
"Eh, dia malah bangus sendiri," tunjuk Lamira terkejut. Bayi kecil itu menggeliat pelan sehingga membuat tujuh pasang mata itu menatapnya tanpa berkedip.
Perlahan mata manusia mungil itu nampak mulai terbuka. Tepat saat mata kecil itu terbuka, tujuh pasang mata yang menatapnya melotot terkejut. Wajah terpana tujuh manusia itu terpecah saat melihat sang bayi nampak mulai tidak nyaman. "Ya ampun, bola matanya indah sekali," celetuk Helen.
"Dia menuruni bola mata Papa kamu, Re," cetus Alex.
Geo diam tanpa menanggapi setiap perkataan manusia disekitarnya. Laki-laki itu tersenyum tipis menatap sang bayi di dalam keranjang itu. "Bola mata yang selama ini Daddy rindukan. Akhirnya bisa Daddy lihat kembali, wellcome boy," bisik Geo.
"Aku juga ingin anakku nanti memiliki bola mata sebiru laut itu. Pasti dia akan sangat tampan," cetus Alex.
"Aku jamin, anakmu nanti pasti akan menjadi idola para kaum hawa. Jauh mengalahkan bapaknya. Lihat saja, dari bola mata saja kau sudah kalah. Huh, dia benar-benar keponakanku," celetuk Rical.
__ADS_1
"Kalau saja dia sudah besar, aku pasti akan langsung jatuh cinta. Mata biru laut itu sungguh mempesona, mampu menghipnotis," papar Lamira tanpa sadar. Alex yang mendengar itu melotot menatap Lamira tajam.
Sedangkan Rical sudah mengulum bibirnya mencoba menahan tawa. "Belum apa-apa, kau sudah membuat satu pasangan panas saja," ucap Rical kepada bayi kecil itu.