
"Sayang, kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak merindukan Mama?" tanya Patricia, Mama Farel.
"Ada apa Mama ke sini?" balas Farel dengan nada datarnya.
Siera kembali dibuat terkejut dengan respon yang diberikan Farel untuk mamanya. 'Apa hubungan mereka tidak sehat?' batin Siera.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa salah Mama menjenguk putra tunggal Mama sendiri?" tutur Patricia.
Farel tidak menyahut, laki-laki itu menatap Siera yang nampak terdiam bingung sambil memegang koper besar milik Patricia. "Sie." Suara Farel mengejutkan Siera dari lamunannya.
Patricia mengernyit saat melihat Farel mendekati gadis yang sempat dia katai pelayan. "Apa kamu yang membawakan koper besar ini?" tanya Farel.
Siera yang masih nampak bingung dan terkejut, hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Patricia yang melihat interaksi mereka, mendekat dan memicing menatap Farel dan Siera bergantian. "Kenapa kamu begitu lembut kepadanya? Bukankah dia hanya pelayan rendahan?"
Kalimat Patricia membuat Farel menoleh ke arah mamanya. "Jadi Mama yang menyuruh Siera membawa koper besar ini?"
__ADS_1
"Iya, itu tugasnya sebagai pelayan," balas Patricia angkuh.
"Dia bukan pelayan, Ma. Dia Siera, kekasihku," tekan Farel.
"Kekasih? Apa kamu sedang rabun? Zena yang begitu cantik kamu tolak untuk seorang gadis seperti dia? Dari awal bertemu saja Mama sudah mengira dia pelayan," papar Patricia sinis.
"Cukup, Ma!" geram Farel. Sedangkan Siera sudah mengepalkan tangannya merasa begitu terhina.
"Apa? Kamu pikir Mama tidak tahu seluk beluk keluarga gadis yang kamu katakan kekasihmu ini? Meski kita berjarak sangat jauh, tapi Mama selalu memantau semua kegiatan kamu. Mama tahu kalau dia hanyalah seorang gadis dari keluarga menengah. Tidak pantas bersanding dengan keluarga kita, Farel. Sadarlah, jangan mengikuti jejak sepupumu itu. Mama sudah memberi tahu Zena untuk menyusul ke sini, dia akan tinggal di sini bersama kita."
Mata Farel menggelap, rahang laki-laki itu mengeras. Siera yang sempat tertegun dengan semua hinaan dari Patricia, meringis kala merasakan tangan Farel yang sedang menggenggamnya semakin erat. Sepertinya laki-laki itu sedang menahan emosi. "Cukup, Ma. Aku tidak butuh aturan dari Mama lagi. Cukup dengan semua keegoisan Mama selama ini," desis Farel.
"Cukup!" Siera dan Patricia terkejut saat mendengar teriakan Farel. Siera mendongak dan terkejut melihat wajah Farel. Wajah yang biasanya begitu datar dan tampak santai, sekarang berubah menjadi begitu gelap dikuasai amarah.
"Jika Mama datang hanya untuk ini, silakan Mama kembali ke Amerika lagi. Aku sudah tenang di sini tanpa gangguan siapa-siapa. Jangan merusak kebahagiaanku lagi," tekan Farel.
__ADS_1
"Mama ti …."
"Biar aku yang pergi." Setelah mengucapkan itu Farel menarik tangan Siera pergi dari sana. Sedangkan Siera hanya patuh mengikuti langkah kaki sang kekasih.
"Farel, dengarkan Mama dulu. Farel!" Patricia terus berteriak sambil mengejar langkah kaki putranya. Namun, semua itu hanya sia-sia, karena Farel sudah lebih dulu melajukan mobilnya.
Melihat itu Patricia mengumpat marah. "Tidak bisa dibiarkan, Zena harus semakin mempercepat kedatangannya ke sini," gumam Patricia.
Patricia mengambil telepon genggam di dalam tas kecilnya dan menghubungi seseorang. "Zena," panggil Patricia.
"Iya, Tante."
"Kamu harus mempercepat keberangkatan kamu ke sini, Sayang. Farel itu sudah buta dan gila. Tante tidak ingin memiliki menantu seperti gadis itu, gadis rendahan. Sangat jauh darimu, bahkan tadi Tante sempat mengira dia itu pelayan."
"Hahaha, benarkah? Kalau begitu aku akan mempercepat tugasku di sini. Tante tenang saja, Farel pasti bisa aku dapatkan."
__ADS_1
"Baguslah, Tante menunggu kedatangan kamu ke sini ya, Sayang."
"Iya, Tante."