
"Geno Vetro," ucap Geo.
"Geno? Nama yang sangat bagus," papar Cara.
"Sesuai, keponakanku memang sangat tampan," tutur Rical.
"Tentu saja, tidak seperti nama yang kau katakan kemarin. Hercules, huh …," ejek Alex.
"Tidak usah mulai." Farel segera bersuara saat melihat Rical hampir membuka mulutnya menyahut perkataan Alex.
"Ck, seharusnya dia mengalah. Aku kan lebih kecil," gerutu Rical kesal.
"Tidak malu kau dilihat Helen?" ejek Juan lagi.
"Diamlah, nanti Geno menangis lagi," papar Farel.
"Dia sudah tidur," ucap Cara.
"Sepertinya dia merasa begitu nyaman dengan Mommy," tutur Geo. "Sekarang kamu juga istirahat, Sayang. Biarkan Al pindah ke ranjangnya," sambung Geo.
"Kapan aku bisa pulang, Kak?" tanya Cara.
__ADS_1
"Nanti kita tanya Dokter, Baby. Kamu masih begitu lemah," jawab Geo.
"Tapi aku mau cepat pulang, Kak," ucap Cara.
"Iya, Sayang. Tapi kamu harus di sini dulu," tutur Geo.
"Tapi kita bisa meminta untuk cepat pulang kan, Kak? Aku juga tidak ingin Geno lama-lama di sini," papar Cara.
"Iya, Sayang. Nanti aku bernegosiasi dengan, Dokter," sahut Geo.
"Sekarang kamu tidur saja, Sayang. Nanti kamu kelelahan, biarkan Geno dipindahkan keranjangnya," ucap Geo.
...******...
Rical menoleh ke arah Helen dengan tatapan tidak dapat diartikan. Saat ini laki-laki itu masih saja suka bermain wanita. Kehadiran Helen memang sudah membuat Rical sedikit berubah, tetapi untuk hal bermain wanita laki-laki itu masih saja melakukannya. Mendengar kalimat Helen, membuat Rical merasakan sesuatu yang lain bergerak di dalam dadanya.
Mungkin rasa bersalah laki-laki itu lebih besar. Lirik merasa bersalah karena membawa gadis polos seperti Helen ke dalam kehidupan kelamnya. Sedangkan Helen, gadis yang begitu polos masih tidak mengerti dengan sifat brengsek laki-laki di sampingnya.
Helen menoleh kearah Rical saat tidak mendapatkan jawaban dari kalimat nyata di. Kening berkerut saat melihat tatapan kosong dari mata Rical. Entah apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu, sampai dia tidak menyadari jika Helen sedang menatapnya.
"Kak Rical." Rical terlonjak saat suara Helen mengejutkan gendang telinganya. Kening Helen semakin berkerut saat melihat gerakan terkejut laki-laki di sampingnya.
__ADS_1
"Apa suaraku mengejutkan Kakak? Padahal aku tidak berteriak," ucap Helen bingung.
"Ekhm … tidak, aku tadi hanya sedang memikirkan sesuatu. Aku merasa senang karena Cara sudah bangun dari tidur panjangnya," tutur Rical.
Helen mengangguk singkat mendengar perkataan Rical. "Aku juga merasa senang yang akhirnya Kak Cara bangun dari tidurnya. Aku kasihan melihat Kak Geo seperti orang yang tidak punya semangat hidup. Kak Siera juga sepertinya begitu tidak semangat. Meski aku tidak terlalu mengerti dengan bahasa Indonesia yang kalian ucapkan, tapi aku tahu kalau kalian selalu membahas hal yang menyedihkan," papar Helen.
Rical bernapas lega saat Helen tidak lagi membahas masalah bayi. Entahlah, Rical merasa bingung sendiri harus menanggapi perkataan hasil dalam membahas masalah bayi. Ya, Rical adalah seorang cassanova yang masih begitu menggilai selang***gan wanita.
Meski begitu Rical belum pernah menyentuh hati lebih dari sekedar pelukan sayang. "Iya, sudahlah sekarang kamu silakan ke kamar dan bersih-bersih. Nanti malam kita akan kembali ke rumah sakit."
"Ah, iya aku lupa. Kalau begitu aku ke atas dulu ya, Kak. Aku juga ingin membuatkan sesuatu untuk Kak Cara. Dia pasti merasa bosan harus memakan makanan rumah sakit."
"Kamu ingin membuat apa? Memangnya kamu bisa memasak?"
"Wah, Kakak meremehkan aku? Meskipun seperti ini, aku bisa memasak. Keahlianku itu adalah memasak, Kakak ingin apa biar aku buatkan? Memasak adalah hobiku, dan aku senang ternyata aku menemukan orang yang memiliki hobi yang sama denganku. Kak Siera, ternyata dia juga hobi memasak. Apalagi orang tuanya memiliki kafe ternama di kota ini. Aku pernah bermimpi ingin memiliki kafe seperti itu," ucap Helen antusias.
.
.
.
__ADS_1
Geno Vetro