
Cara berjalan saling bergandengan dengan Siera di koridor kampus. Dua perempuan itu saling bercakap membahas hal apa saja. "Dasar wanita bodoh ya," ucap Siera.
Cara tertawa kecil. "Biarkan saja, bagus malah dia masuk ke dalam jebakanku," tutur Cara.
"Iya juga, ada bagusnya juga dia angkuh dan matre. Jadinya gampang sekali diumpan dengan kekayaan, bodoh," balas Siera lagi.
"Ini semua juga karena karma perbuatan mereka selama ini," papar Cara.
"Kamu kapan akan memulainya?" tanya Siera.
"Secepatnya, mungkin sesekali kamu bisa ikut bersamaku. Kita bermain-main." Cara tersenyum ke arah Siera.
Siera tersenyum jahil. "Aku suka kalau permainannya seperti itu, ayo," balas Siera antusias. Setelahnya dua perempuan itu tertawa bersama.
Tawa Cara dan Siera terhenti saat melihat keberadaan Jesy yang sedang menatap mereka sinis. Cara tersenyum mengejek saat melihat dua teman Jesy yang sempat menghilang tanpa kabar, sekarang kembali lagi. "Wah, teman-temanmu sudah kembali kepadamu lagi rupanya. Mereka tersesat di mana sebelumnya?" ejek Cara.
__ADS_1
"Bukan tersesat Ra, mereka pergi saat keuangan Gerisam Group down. Sekarang mereka kembali karena Jesy sudah menikahi pengusaha kaya. Benar begitu bukan? Maaf ya, aku tidak suka basa-basi soalnya. Enak to the point," tambah Siera santai.
Sedangkan dua teman Jesy sudah menatap tidak suka ke arah Cara dan Siera. "Terserah kita, kenapa kalian yang sibuk," ucap Iren sinis.
"Kami tidak sibuk, hanya bertanya saja. Kami pikir kalian sudah menghilang dari bumi ini," balas Cara.
Iren dan Hesti melotot marah, tetapi mereka memilih diam tidak ingin berurusan dengan istri pemimpin mafia itu. "Sudahlah, kau tidak usah mengganggu temanku," sela Jesy.
"Teman? Kau murah hati ya Nyonya Carves, masih menerima mereka sebagai temanmu," ucap Cara.
"Tentu saja, aku bukan orang susah. Jadi siapa saja pasti ingin berteman denganku," papar Jesy angkuh.
"Istri sirih?" Iren dan Hesti nampak terkejut, sedangkan Jesy sudah menatap tajam Cara.
"Eh … kalian tidak tahu ternyata. Aduh, maaf ya Nyonya Carves, aku jadi membeberkan sesuatu yang ternyata kamu rahasiakan," ledek Cara.
__ADS_1
"Kamu hanya menikah sirih Jes?" tanya Hesti memastikan.
"Iya, kami berencana menikah resmi dan membuat acara beberapa bulan lagi," kilah Jesy.
"Maksudmu sembilan bulan atau sepuluh bulan lagi? Setelah anak itu lahir bukan?" celetuk Siera.
Iren dan Hesti kembali melotot menatap Jesy yang sudah memucat. "Kau sedang hamil? Bukankah kau katakan kalian baru menikah?" ucap Iren bingung.
"Ya ampun, ternyata kami di sini hanya untuk membuka rahasiamu Nyonya Carves. Sekali lagi maaf ya, kami pikir kedua temanmu ini sudah mengetahui kalau kamu hamil di luar nikah," tutur Cara santai.
Hesti dan Iren menatap Jesy dengan pandangan terkejut. Sedangkan Jesy sudah mengepalkan tangannya menatap benci ke arah Cara yang sedang tersenyum miring. "Jadi kau bisa menikah dengan Tuan Carves karena insiden, aku pikir Tuan Carves benar-benar menyukaimu. Pantas saja kalian hanya menikah sirih," ejek Hesti.
Napas Jesy memburu menatap Cara marah. "Kau selalu menghancurkan segalanya Cara," desis Jesy.
"Loh, kenapa aku? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, temanmu itu saja yang tidak bisa menerimamu apa adanya," ledek Cara.
__ADS_1
"Kau dulu sangat sok suci Jes, mengatakan semua laki-laki bertekuk lutut kepadamu. Aku tidak menyangka ternyata kau wanita murahan ya, sudah pernah dicicipi terlebih dahulu oleh Tuan Carves," ucap Hesti sinis.
"Tapi aku cukup terkejut kau bisa membuatnya menikahimu, kau memberikan syarat apa kepadanya? Melayaninya sepuluh kali dalam sehari atau bagaimana?" tambah Iren mengejek.