Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
64. Pembohong (lb)


__ADS_3

Jesy menatap tajam Hesti dan Iren, hubungan pertemanan mereka baru tadi malam membaik. Bukan, lebih tepatnya Hesti dan Iren baru tadi malam bersedia kembali berhubungan dengan Jesy saat dua perempuan itu tahu bahwa Jesy sudah menikah dengan Rical. Sekarang semuanya kembali memburuk, perlakuan Hesti dan Iren kembali hina kepada dirinya. "Jaga mulut kalian, apa kalian lupa kalau aku sekarang adalah Nyonya Carves. Terlepas dari bagaimana aku mendapatkannya, tidak usah banyak omong Bi***h," desis Jesy.


Cara yang melihat ketegangan antara Jesy dan dua temannya tersenyum puas. Dia yakin Jesy dan dua temannya itu awalnya berniat memancing amarahnya, siapa sangka kalau itu semua malah berakhir tragis untuk Jesy. Memang sepertinya Jesy tidak akan pernah diberi kesempatan untuk menang dari Cara. "Huh … ya, terserahmu. Intinya kami malas berteman dengan perempuan munafik seperti dirimu," ucap Hesti.


"Munafik dan pembohong, kami tidak tahu kau menyembunyikan apa lagi dari kami. Kalau kami tidak tahu ini, mungkin kami sudah seperti orang bodoh yang terus mengikuti perempuan pecundang seperti dirimu," sambung Iren.


"Ayo kita pergi." Hesti menarik tangan Iren meninggalkan Jesy yang sudah memerah menahan amarah.


Jesy menatap tajam Cara yang sudah tertawa puas. "Astaga, kau menjadi sendiri lagi ya? Bagaimana rasanya, tidak enak bukan? Aku sudah lebih dulu merasakan itu Nyonya Carves, tapi … kesunyianku lenyap ketika aku mendapatkan seorang teman yang benar-benar menerimaku apa adanya." Cara melirik Siera yang sedang tersenyum tipis.

__ADS_1


Cara kembali menoleh ke arah Jesy yang masih saja menatapnya benci. "Aku sarankan kau carilah teman yang setia, yang benar-benar menerima kekuranganmu. Bukan hanya teman kesenangan seperti itu," ejek Cara.


"Tidak usah menceramahiku B***h, aku tidak butuh teman," ujar Jesy sinis.


Cara tertawa mengejek. "Ya, terserah kau saja. Aku hanya menyarankan, sebab aku takut kau tidak kuat menahan bullyan seorang diri nantinya," balas Cara.


"Oh ya? Baguslah kalau begitu, mari kita lihat ke depannya." Cara tersenyum miring.


"Apa lagi yang kau rencanakan bangsat?" murka Jesy.

__ADS_1


"Jaga mulutmu itu, jangan terlalu dibuka lebar-lebar … bau tahu," papar Siera.


Cara terbahak mendengar ucapan Siera, sedangkan Jesy kembali mengepalkan tangannya marah. "Silakan kau tertawa sekarang Cara, kau tunggu saja pembalasanku," geram Jesy.


Tawa Cara tiba-tiba berhenti, wanita itu menatap Jesy sambil tersenyum miring. "Pembalasan? Kata itu hanya berlaku untukku Nyonya Carves, kita memang sedang berada di sesi pembalasan. Tapi … ini adalah skenario pembalasanku kepadamu dan kepada Papa dan Mamamu. Kau sekarang ini … sedang berada di dalam skenarioku, paham?" Cara berbisik sambil tersenyum licik kepada Jesy.


Jesy mengepalkan tangannya menatap tajam Cara. "Hidupmu dan kedua orang tuamu itu sekarang berada digenggamanku. Aku ingin membawa kalian ke mana dan seperti apa, semuanya tergantung aku, Nyonya Carves. Aku pemegang kendali kehidupanmu, jadi … aku selamat menikmati ya." Cara terkekeh jahat.


Napas Jesy memburu, dada wanita itu turun naik sebab begitu marah. Tangan kanan Jesy terangkat berniat menyapa pipi mulus Cara. Namun, keinginan Jesy tidak terkabul. Tangannya sudah lebih dahulu ditahan oleh Siera yang menatapnya tajam. "Tanganmu ini ingin aku patahkan?" desis Siera. Jesy meringis saat merasakan sakit di tangannya. Kekuatan Siera tidak main-main, jelas saja sebab Siera merupakan salah satu atlet karate terbaik di Universitas Alfa.

__ADS_1


__ADS_2