Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
23. Posesif (LB)


__ADS_3

Jesy melotot terkejut saat melihat wajah tampan nan datar itu kembali. Wajah yang sedari dua hari yang lalu begitu susah untuk dilupakannya. Seperti kilat, Jesy mengubah mimik wajahnya menjadi seorang gadis yang tertindas. "Tuan Vetro, Nona Cara baru saja mendorongku. Dia bahkan tidak mengizinkan orang lain menolongku," lirih Jesy.


Cara dan beberapa orang yang sedari tadi di sana melotot terkejut. Setelahnya Cara tersenyum miring saat menangkap maksud gadis itu. 'Astaga, apa dia sedang memerankan sebuah drama sekarang? Pas sekali, aku sedang butuh hiburan.' Cara membatin sambil tersenyum senang.


Sedangkan beberapa orang di sana sudah menatap tidak suka ke arah Jesy. Berbeda dengan Geo yang hanya menatap Jesy tidak berminat. Laki-laki itu memilih menatap Cara. "Tidak apa-apa kan Sayang?" tanya Geo lembut.


Jesy melotot mendengar itu, gadis itu mendongak dan menatap tajam Cara yang sedang tersenyum mengejek ke arah dirinya. 'Brengsek,' umpat Jesy marah.


'Dia ingin mencuri perhatian calon suamiku? Meski aku yakin kalau Kak Re tidak akan peduli, tapi aku tetap tidak akan memberikan gadis sialan ini kesempatan,' batin Cara.


"Aku tidak apa-apa Kak, ada yang menolongku." Cara menoleh ke arah seorang gadis yang sudah terperanjat saat Geo ikut melihatnya.


"Tuan Vetro tolong aku, Nona Cara selama ini selalu menindasku." Jesy mendekat dan menyentuh kaki Geo.


"Lepas." Geo menatap tajam Jesy yang sedang memeluk kaki kirinya.


Cara mengepalkan tangannya melihat itu, gadis itu tidak suka jika Geo disentuh oleh perempuan lain. "Kau ingin patah tangan Nona Gerisam?" Suara rendah Cara membuat orang-orang yang berada di sana terkejut, termasuk Geo.


Geo menoleh dan meringis melihat wajah gelap milik kekasihnya. 'Dia benar-benar mirip aku,' batin Geo.


Jesy mendongak dan terkesiap melihat aura lain dari diri Cara. Tatapan mata gadis itu begitu lain, Jesy perlahan melepaskan tangannya dari kaki Geo. Entahlah, Jesy melakukan itu tanpa sadar, sebab tekanan dari tatapan mata Cara membuatnya seakan terhipnotis.


"Kau berani sekali menyentuh punyaku, sudah bosan hidup? Meski aku masih ingin bermain-main denganmu, tapi jika kau berani melampaui batasku … aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu." Cara berucap dingin sambil menatap datar Jesy. "Papa dan Mamamu masih ada untuk aku jadikan mainan, jadi … kehilangan satu mainan saja tidak akan membuat aku rugi," sambung Cara.


Glek …. Jesy menelan ludahnya kasar, begitu pula dengan beberapa orang yang masih di sana. Geo bahkan sudah menatap kagum ke arah Cyra. 'Dia adalah gadisku,' batin Geo bangga.


"Jaga sikap dan pakai otakmu itu jika kau masih ingin menetap di dunia ini." Cara meraih lengan kekar Geo dan menariknya pergi dari sana.


Namun, sebelum itu Cara sengaja menginjak tangan Jesy sehingga membuat gadis itu menjerit histeris. "Akhhh," jerit Jesy kesakitan.

__ADS_1


Cara membalikkan badannya menatap Jesy sinis. "Bukankah tadi kau katakan aku selalu menindasmu? Keinginanmu itu aku kabulkan Nona Gerisam." Cara tersenyum miring kepada Jesy yang merintih kesakitan.


"Satu hal yang perlu kau tahu, kekasihku ini tidak akan pernah melarangku untuk melakukan apa pun kepada kalian. Jadi, kata-kata yang kau lontarkan kepadanya tadi … hanyalah sampah baginya." Cara menatap datar Jesy setelahnya menarik Geo pergi dari sana.


Jesy masih menangis sakit, tangannya berdarah. Jelas saja sebab Cara menginjaknya menggunakan sepatu dengan hak yang lumayan runcing. Beruntung tangannya tidak berlubang. Para karyawan hanya menatap Jesy tanpa berniat membantu. Mereka cukup kasihan mendengar rintihan gadis itu, tetapi mengingat sifat angkuh Jesy membuat mereka menghiraukannya.


"Nona Cara itu orangnya baik, tetapi sekalinya marah ya begini. Mencari masalah kok sama calon istri Tuan Vetro," ejek seseorang.


"Benar, malah mainnya fitnah lagi," tambah seorang karyawan. Jesy menghiraukan perkataan para pegawai yang mencibirnya. Gadis itu mencoba meraih ponsel untuk menghubungi orang tuanya.


...*****...


"Kamu benar-benar gadisku," bisik Geo. Cara dan Geo sedang berada di dalam lift. Cara yang mendengar bisikan Geo mendongak dengan wajah kesal.


"Berani sekali dia memegangmu, aku tidak suka," gerutu Cara.


Cara menjadi ingat kejadian beberapa bulan yang lalu, di saat dirinya mencoba bernegosiasi dengan Geo untuk membantunya membalas dendam. Saat itu Cara juga memegang kaki Geo persis seperti yang dilakukan Jesy tadi. Geo saat itu juga terlihat marah dan tidak suka disentuh olehnya. Ternyata memang sifat laki-laki itu yang seperti itu.


"Cara!" Panggilan seseorang mengalihkan perhatian Geo dan Cara. Mereka melihat keberadaan Alex dan Farel yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Kamu tadi begitu mantap, aku suka." Alex menyodorkan dua jari jempolnya kepada Cara.


Cara mengernyit bingung. "Apa yang mantap Kak?" tanya Cara.


"Kejadian di lobi tadi, kami melihatnya dan kami suka itu," jelas Alex. Cara mengangguk mengerti.


"Ternyata kalian benar-benar jodoh. Aku pikir hanya Tuan Vetro ini saja yang memiliki sifat posesif dan pencemburu. Ternyata … Nyonya Vetro ini juga begitu posesif dan pencemburu ya," goda Alex.


Cara mencubit lengan kekar Juan merasa tidak terima digoda seperti itu. "Mengerikan," celetuk Farel singkat.

__ADS_1


"Benar, mana mengerikan lagi. Aku benar-benar tidak bisa membedakan kalian," ucap Alex.


Geo menarik tangannya Cara pergi dari sana, hal itu membuat Juan mendengus kesal. "Laki-laki tembok itu benar-benar," gerutu Alex.


Farel menoleh ke arah Alex sehingga membuat Alex ikut menoleh. Mereka saling pandang beberapa saat. "Maksudku bukan kau, ah … sudahlah, kalian memang sama saja." Alex pergi meninggalkan Farel begitu saja.


...*****...


"Sayang," pekik Sasdia.


"Tolong Ma, sakit," rintih Jesy.


"Kenapa bisa seperti ini Sayang? Siapa yang melakukan ini kepada putri Mama?" ucap Sasdia panik.


"Tidak usah banyak omong Sasa, bawa saja cepat," sela Torih.


Torih dan Sasdia datang ke perusahaan VT Group saat mereka menerima telepon dari Jesy. Mereka membawa Jesy ke rumah sakit, wajah gadis itu sudah pucat karena menahan sakit.


"Mama tidak terima ini, siapa yang membuat kamu seperti ini Sayang?" Sasdia bertanya saat mereka sudah di dalam mobil menuju rumah sakit.


"Cara," sahut Jesy singkat.


Sasdia dan Torih melotot terkejut, mereka tidak menyangka ternyata gadis itu berani bermain fisik. "Anak gembel sialan itu membuat kamu seperti ini? Mama akan membuat perhitungan dengannya nanti, tenang saja Sayang. Kalau perlu kita laporkan dia ke polisi, kita tuntut gadis sialan itu," geram Sasdia.


"Kau pikir hal itu semudah melontarkannya, heh? Kau lupa siapa dia sekarang? Bahkan orang di belakangnya adalah Tuan Vetro, jangan bertindak bodoh. Kalian benar-benar berotak dangkal, aku sudah katakan pikirkan matang-matang sebelum berurusan dengannya," desis Torih.


"Tapi dia membuat anak kita seperti ini Mas, aku tidak terima," protes Sasdia.


"Anakmu saja yang bodoh, untuk apa dia datang ke VT Group? Jelas saja di sana tidak akan ada yang membantu dan membelanya, sebab di sana adalah ladang kekuasaan Cara," cibir Torih.

__ADS_1


__ADS_2