Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
88. Hilang Kendali (lb)


__ADS_3

"Tuan, Nyonya hilang kendali," tutur orang diseberang telepon.


Geo mengernyit kala mendengar suara marah Cara dari dalam telepon. Dengan gerakan cepat laki-laki itu meninggalkan begitu saja berkas kantornya dan berniat menghubungi Farel. Namun, ternyata sepupumya itu sudah lebih dulu menghubunginya. "Kau sudah tahu?" tanya Farel.


"Hem, kau handle meeting nanti," titah Geo.


"Baik, segeralah. Cara sepertinya benar-benar hilang kendali," pesan Farel.


"Hem." Setelah itu Geo memasuki mobilnya dan segera melajukan benda mewah itu ke mansion Rical.


...*****...


"Sakit, Cara. Maafkan kami." Sasdia dan Jesy berteriak minta ampun. Sakit di kepala mereka membuat sepasang ibu dan anak itu mulai merasakan pusing.


"Apa selama ini kalian bersedia mendengar keluhan kami seperti itu? Kalian malah semakin menjadi di saat kami berteriak minta ampun," desis Cara.


"Aku memang seharusnya melakukan hal ini kepada kalian sedari dulu. Manusia tidak berhati seperti kalian pantas untuk merasakan hal yang bahkan lebih menyakitkan dari ini," sambung Cara.

__ADS_1


Wajah Sasdia dan Jesy memucat kala mereka melihat Cara mengambil sebuah pisau. Seluruh anggota Death sudah melotot terkejut, melihat aura Cara saat ini mereka seakan sedang melihat pemimpin mereka sedang beraksi. Bahkan pengawal dan pelayan mansion Rical sudah meneguk ludahnya merasa begitu ngeri. "A-apa yang ingin kau lakukan, Cara," ucap Sasdia panik.


"Akan aku kirim kalian ke tempat bundaku, supaya dia … juga bisa membalaskan dendamnya secara langsung," bisik Cara rendah.


Glek …. Sasdia dan Jesy menelan salivanya kasar. Dengan perlahan sepasang ibu dan anak itu beringsut ketakutan. Sasdia menoleh sekeliling. "Tolong kami, kenapa kalian hanya diam? Dia akan membunuh kami," teriak Sasdia.


Percuma, tidak ada satu orang pun yang bergerak untuk berniat menolong sepasang ibu dan anak itu. Cara yang melihat itu sudah teryawa licik. "Mereka hanya akan mendengar perintahku Nyonya Gerisam." Suara rendah Cara mampu menarik paksa bulu kuduk penghuni mansion. Bahkan ada dari mereka yang mengusap bulu tangan dan kuduknya yang mulai berdiri karena takut.


"Baby." Suara bass yang begitu hangat menyapa indera pendengaran seluruh penghuni mansion.


Geo mendekat dan menarik pelan pisau dari tangan sang istri. Cara hanya diam tanpa memberontak, kegilaannya tadi seakan lenyap seketika saat melihat wajah tampan sang suami. "What are you doing, Baby?" bisik Geo pelan.


"Aku, sedang bermain," sahut Cara.


"But, not for this. Kamu tidak boleh bermain dengan ini, Sayang," tutur Geo lembut.


Mulut Cara mengerucut membuat Geo tersenyum tipis. "Ayo kita pulang." Setelahnya laki-laki itu mengangkat tubuh sang istri dan menatap ke arah anggota Death yang sedang menunduk hormat.

__ADS_1


"Urus dan lapor," titah Geo dingin.


"Baik, Ketua," sahut mereka serempak.


Geo membawa tubuh Cara masuk ke dalam mobil. Namun, saat laki-laki itu akan membuka pintu penumpang, Cara bersuara. "Aku tidak ingin duduk di sana," rengek Cara.


Geo mengernyit. "Terus, ingin di belakang?" tanya Geo.


Cara semakin memancungkan bibirnya kesal. Hal itu membuat Geo semakin tidak mengerti. "Apa, Sayang?" tanya Geo lagi.


"Aku ingin duduk bersama Kak Ge," tutur Cara.


"Saat aku menyetir?" tanya Geo.


"Kenapa? Tidak boleh? Ya sudah ka …."


"No, Baby. Everything for you." Cup …. Geo mengecup singkat bibir sang istri, setelahnya laki-laki itu membawa tubuh Cara ke dalam mobil. Geo duduk dengan keadaan Cara berada di atas pangkuannya. Wanita itu terus lengket kepada Geo seakan tidak ingin berpisah. Sedangkan Geo yang melihat itu tersenyum, dia tidak keberatan melainkan merasa senang.

__ADS_1


__ADS_2