
"Hai, selamat malam." Suara berat seseorang mengalihkan perhatian empat pasang manusia yang sedang duduk santai sambil saling beradu cerita.
Mereka menoleh, melihat wajah sumber suara membuat wajah Geo semakin terlihat dingin. Sedangkan Alex, Farel dan Rical sudah menatap tajam laki-laki itu. "Lama tidak berjumpa, kalian sudah memiliki pendamping masing-masing, ya." Laki-laki itu kembali bersuara sambil menyeringai licik.
"Tidak usah memancing keributan Victor," ucap Alex dengan suara tegasnya.
"Aku tidak memancing, aku hanya ingin menyapa. Kita sudah lama tidak bertemu, dan aku sangat terkejut melihat kalian sudah memiliki wanita disisi kalian. Apa lagi dengan Tuan Vetro, istrimu cantik juga," papar laki-laki yang dipanggil Victor itu.
Mata Geo menggelap, pemimpin Death itu menatap nyalang Victor yang sedang memperhatikan Cara begitu intens. Sedangkan Cara sudah merapat ke arah Geo karena merasa tidak nyaman dengan tatapan dari Victor. "Pergi, atau mati," desis Geo tajam.
Victor tersenyum miring. "Kenapa? Padahal aku hanya menatapnya saja, mana tahu bisa berkenalan," celetuk Victor.
"Kau ingin memancing kemarahan Death? Tidak tahukah kau, wanita yang sedang kau tatap itu tidak hanya memiliki satu pawang. Tapi beribu pawang, bahkan dibelahan dunia mana pun. Satu nama teratas yang menjadi prioritas Death adalah dia," desis Rical.
__ADS_1
Victor tertawa mendengar perkataan Rical. "Apa perkumpulan kalian itu sekarang berubah menjadi perkumpulan pecundang yang berada di bawah naungan wanita?" ejek Victor.
"Victor Regas," desis Geo rendah. Tiba-tiba bulu kuduk Cara berdiri mendengar suara rendah sang suami.
"Kau pergilah," tutur Alex kepada Victor.
"Kenapa? Padahal kalimatku belum selesai. Aku tidak heran kalian tunduk dengan wanita itu. Karena dia memang cantik, aku juga ingin memilikinya."
Geo menyeringai menatap wajah Victor. Setelahnya laki-laki itu menoleh ke arah sang istri yang tampak cemas. "Kembali ke kamar tadi , Baby. Alex akan mengantarmu," bisik Geo pelan.
"Aku akan selesaikan ini dulu," ucap Geo.
"Alex, bawa mereka semua pergi dari sini." Setelah mengucapkan itu, Geo berdiri dan mendekat ke arah Victor.
__ADS_1
Sedangkan Rical yang menatap itu sudah mengusap wajahnya kasar. "Sh**, pestaku hancur," umpat Rical kesal.
"Salahmu, kenapa mengundangnya," ejek Farel.
"Kau ingin bermain?" tanya Geo pelan. Laki-laki itu berjalan semakin mendekat ke arah Victor dengan gaya santainya.
"Bukankah sudah lama kita tidak bermain?" Victor menyahut sambil tersenyum miring.
Geo mengangguk pelan sambil menunduk, kedua tangannya masih berada di dalam saku celana. Perlahan Geo mengangkat wajahnya dan menatap Victor yang sendang menyeringai. "Ternyata kau masih saja jelek, masih belum operasi plastik?" hina Geo.
Mata Victor menajam, kalimat itu adalah hal yang paling dibenci oleh laki-laki itu. Sekarang berbalik Geo yang menyeringai licik menatap Victor yang mulai terpancing amarah. "Brengsek!" umpat Victor marah.
Jelas saja suara berat itu sukses mengambil alih perhatian tamu lainnya. Semua orang terkejut dan terdiam mendengar teriakan itu. Melihat aura lain dari arah tempat berdiri Geo, membuat semua tamu diam dengan perasaan takut. Bahkan perkumpulan anggota Death yang mulai mendekat membuat mereka beringsut ketakutan.
__ADS_1
Termasuk dengan Jesy dan Sasdia yang sempat terlonjak mendengar teriakan keras itu. Melihat semua tamu mulai mundur membuat mereka ikut mundur, menjauh dari jangkauan persitegangan. "Ada apa itu, Ma?" tanya Jesy.
"Entahlah, Sayang. Sepertinya Tuan Vetro sedang bermasalah dengan laki-laki itu," balas Sasdia.