Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
128. Mantan (lb)


__ADS_3

Cara terus berjalan tanpa merasa lelah, wanita hamil itu sangat terlihat antusias melihat dan memilih perlengkapannya untuk acara di hotel Rical nanti. Geo yang mengikuti langkah kaki Cara sedari tadi sudah begitu cemas dengan pergerakan sang istri. Sudah satu jam lebih mereka berkeliling, tetapi masih belum menemukan barang yang sesuai dengan keinginan Cara.


"Sayang, kita berhenti dulu, ya. Nanti kamu kelelahan, kasihan dedek di sana," papar Geo.


Cara mendongak menatap wajah lelah sang suami. Wanita itu tersenyum manis ke arah Geo. "Ya sudah, aku juga ingin meminum hot chocolate. Ayo kita cari, Kak," tutur Cara.


"Kita berhenti saja, ya. Biar hot chocolate-nya dipesan saja," bujuk Geo.


"Tapi aku ingin langsung meminumnya di sana," ucap Cara.


Geo menghela napas berat. "Baiklah, kita cari yang dekat saja," cetus Geo mengalah.


"Ayo," ajak Cara antusias.


Geo terus melangkah mengikuti pergerakan Cara yang sedang menarik tangan kekarnya. Laki-laki itu berjalan dengan wajah datar seperti biasa. Mereka menghiraukan perhatian orang-orang yang sedari awal melihat mereka.


"Itu, Kak. Aku ingin topping yang melimpah," lontar Cara begitu semangat.


Geo terkekeh kecil melihat wajah senang milik istrinya. Wanita itu mendekat ke arah kafe sambil sambil mengayunkan genggaman tangan mereka. "Kita duduk di sana ya, Kak. Sepertinya di sana seru." Cara menunjuk tempat duduk di sudut kaca.


"Iya, Sayang." Geo dan Cara mendekat ke arah kursi. Dengan gerakan cepat Geo menarik kursi itu untuk sang istri. Cara tersenyum manis ke arah Geo kemudian menarik tangan laki-laki itu.


"Kak Ge, duduknya di sini," ucap Cara.


Geo tersenyum dan mengikuti keinginan istrinya. Laki-laki itu menarik kursi di depan Cara dan membawanya ke samping wanita itu. "Permisi, Tuan, Nyonya. Ingin memesan apa?"

__ADS_1


Suara pelayan mengalihkan perhatian sepasang suami istri itu. "Kak Ge minum hot chocolate juga, ya," ujar Cara.


"Iya, pesanlah," balas Geo lembut.


"Pesan hot chocolatenya dua, ya," tutur Cara ramah.


"Baik, mohon ditunggu, Tuan, Nyonya," papar pelayan itu sopan.


"Sepertinya tempat ini bagus juga ya, Kak. Kita na …."


"Tuan Vetro." Suara lembut seorang wanita memotong kalimat Cara.


Sepasang suami istri itu menoleh menatap wanita cantik yang sedang tersenyum manis ke arah Geo. Cara yang melihat itu memicing tidak suka. Jiwa posesifnya meronta-ronta, belum lagi dengan hormon ibu hamil yang membuatnya begitu sensitif. "Ternyata memang kamu, sudah lama sekali kita tidak bertemu? Kamu masih mengingatku bukan?" sambung wanita itu.


Geo menoleh ke arah sang istri dan tersenyum manis. "Mantan …."


"Apa?" sela Cara dengan mata melotot.


Geo terkekeh kecil melihat wajah terkejut istrinya. "Kalimat aku belum selesai, Baby. Dia mantan rekan bisnis," ungkap Geo lembut.


Bahu Cara turun sambil menghembuskan napas lega. Sedangkan wanita cantik yang sedari tadi berdiri mengeryit menatap ke arah Cara. "Dia siapa, Vet?" tanya wanita itu kepada Geo.


Kening Cara kembali berkerut saat mendengar panggilan wanita itu untuk Geo. "Ben? Siapa Vet, Kak?" tanya Cara lagi.


"Ekhm … aku memanggilnya dengan nama belakangnya. Oh iya, perkenalkan aku Sisca Oliver, kamu siapa?" Wanita yang mengaku bernama Sisca Oliver itu menyodorkan tangan kanannya kepada Cara.

__ADS_1


Cara menyahut tangan kanan wanita itu. "Aku Lavia Cara Vetro," tutur Cara.


Sisca nampak terkejut mendengar nama belakang Cara. Wanita itu melirik Geo yang masih tampak santai dengan wajah datarnya. "Bukannya kamu anak tunggal, Vet?" tanya Sisca.


"Iya, aku bukan adiknya. Tapi istrinya," sahut Cara.


Untuk yang kedua kalinya Sisca terkejut. Wanita itu menatap Cara intens dan melirik ke arah Geo. "Benarkah, Vet?" tanya Sisca pelan.


Geo mendongak sejenak. "Iya," jawab Geo singkat.


Sisca terdiam mendengar jawaban singkat itu. Setelahnya wanita itu kembali menatap Cara yang sedang tersenyum ke arahnya. Melihat itu, Sisca membalas dengan senyum kikuk. "Aku sangat terkejut, kamu menikah tidak mengundang aku," ucap Sisca.


"Benarkah? Maafkan Kak Ge, ya," papar Cara.


Sisca kembali tersenyum kikuk ke arah Cara. "Tidak masalah, aku mengerti karena kami sudah hampir empat tahun tidak bertemu," ungkap Sisca.


"Permisi." Suara pelayan membuyarkan suasana canggung itu.


"Kalau begitu aku permisi, senang berkenalan denganmu, Jes," tutur Sisca.


"Tolong panggil aku Cara, senang juga berkenalan denganmu Sisca." Cara tersenyum ramah.


"Oh, baiklah, Cara. Aku duluan, Vet," pamit Sisca.


"Hemm," deham Geo singkat.

__ADS_1


__ADS_2