
"Ini sepertinya akan baik, Kak. Ambil yang ini saja, ya?" Siera menoleh ke arah Farel yang sedang duduk di atas sofa toko.
"Iya, Sie. Kalau kamu nyaman, itu saja," tutur Farel.
"Baiklah, aku ambil yang ini, Mbak," ucap Siera kepada karyawan toko.
"Baik, Nyonya. Ingin yang warna apa, Nyonya. Ini, ada empat warna berbeda." Karyawan toko itu menunjuk tiga kotak lagi.
Siera menoleh dan terkejut melihat berbagai macam warna. Hal yang membuat Siera ragu adalah, semua warna itu terlihat bagus dan cantik menurutnya. "Ya ampun, bagus semua. Aku jadi bingung," tutur Siera.
Tangan Siera meraih satu kotak dengan sepatu berwarna hitam. "Ini juga bagus, warna putih itu juga bagus. Eh …tapi warna emas dan silver elegan sekali," celoteh Siera.
Farel hanya diam melihat kebingungan Siera. Dia tidak ingin bersuara sebelum Siera bertanya. Dia tidak ingin terkena kalimat kesal dari Siera lagi. Cukup lama bersama Siera, membuat Farel menjadi mengenal dan tahu bagaimana sifat Siera.
Siera menoleh ke belakang menatap wajah Farel yang masih datar seperti biasa. "Bantu aku, Kak," tutur Siera.
'Baiklah, sepertinya kata kebenaran akan segera lari dari tubuhmu Farel. Siap-siap untuk serba salah dan selalu salah,' ucap Farel di dalam hati.
"Aku bingung, semua warna ini bagus dan cantik di mataku. Menurut kamu bagus yang mana, warna putih atau hitam?" tanya Siera.
"Putih sepertinya bagus, Sie," sahut Farel.
Kening Siera berkerut mendengar jawaban Farel. "Tapi kenapa aku lebih suka warna hitam?" celetuk Siera.
Farel hanya bisa menghela napas pelan mendengar kalimat Alisa. "Ya sudah, warna yang kamu suka saja," papar Farel pasrah.
"Tidak bisa begitu, Kakak bagaimana sih. Aku kan sedang bingung," ucap Siera kesal.
__ADS_1
'Aku harus menjawab apa?' batin Farel bingung.
"Sudah, sekarang warna hitam atau warna emas?" tanya Siera lagi.
"Warna hitam," jawab Farel.
"Ck, warna emas lebih bagus, Kak. Kan terlihat lebih elegan, iya kan Mbak?" Siera menoleh ke arah karyawan toko yang sedari tadi mengulum bibir mencoba menahan tawa melihat interaksi sepasang kekasih itu. Belum lagi wajah frustasi Farel membuat orang yang melihatnya ingin terbahak.
"I-iya, Nyonya," sahut pelayan itu kikuk.
"Tuh, memang bertanya kepada wanita lebih menyenangkan," cetus Siera.
Farel yang mendengar itu hanya bisa menghela napas napas berat. 'Aku sudah menebak ini,' batin Farel frustasi.
"Masih ada satu lagi, emas atau silver, Kak?" tutur Siera kembali bertanya.
'Jangan bertanya kepadaku lagi, Sa,' batin Farel seperti begitu tertekan.
"Masa iya, Kak? Emas bagus, silver juga bagus. Aku jadi bingung," ujar Siera bingung.
"Silver saja, sesuai dengan warna baju kita," pungkas Farel.
Siera menoleh cepat ke arah Farel dengan mata melotot. "Kenapa tidak kamu bilang dari tadi, Kak? Baju kita kan juga silver, kalau kamu bilang dari tadi tidak perlu aku memilih sampai seperti ini. Jelas akan memilih silver, kamu bagaimana sih, Kak?" gerutu Siera kesal.
'Salah lagi aku,' batin Farel pasrah.
"Sudah, Mbak. Aku pilih yang silver, tolong dibungkus ya," ucap Siera kepada karyawan toko.
__ADS_1
"Baik, Nyonya," sahut karyawan toko menahan suara.
"Lelah sekali aku, seharusnya sekarang kita sudah berada di dalam mobil, Kak. Kakak sih, kenapa baru bilang sekarang?" celoteh Siera.
"Iya, Sie. Aku salah," ucap Farel mengalah.
"Padahal ini baru acara pertunangan, tapi kenapa sudah begitu melelahkan? Bagaimana dengan acara pernikahan nanti," pungkas Siera.
"Aku sudah menawarkan hal mudah kepada kamu, tapi kamu malah ingin mengurusnya secara langsung. Padahal kamu bisa terima bersih sesuai dengan keinginan kamu," terang Farel.
"Aku tidak menyangka akan melelahkan seperti ini, Kak," tutur Siera.
"Lelah sekali?" tanya Farel.
"Tidak terlalu, tapi lumayan," sahut Siera.
"Apa kita perlu ke tukang pijat?" tanya Farel.
Mata Siera melotot mendengar perkataan Farel. "Tukang pijat? Untuk apa, Kak?" tanya Siera.
"Ya dipijat, kaki kamu," ucap Farel.
"Wah, boleh juga. Tapi Kakak tahu tukang pijat dari siapa?" tanya Siera bingung.
"Cara selama hamil tua ini sering memanggil tukang pijat ke mansionnya. Kalau tidak salah hari ini dia juga ada jadwal pijat kaki. Apa kita ke mansion Vetro saja?" tawar Farel.
"Iya, Kak. Ayo aku sudah rindu kepada Cara," sahut Siera antusias.
__ADS_1
"Kan setiap hari bertemu, Sie," tutur Farel bingung.
"Ck, sudah. Kamu ini, aku kan hanya berbasa-basi," celetuk Siera malas. Farel yang mendengar itu hanya bisa diam tidak ingin membuat Siera semakin kesal.