Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
137. Sepupu? (lb)


__ADS_3

"Mati kau bangsat." Victor melayangkan pukulan kepada Geo. Namun, jelas saja menghadapi Geo tidaklah semudah itu.


Hap …. Geo lebih dulu menahan kepalan tangan Victor. "Kau hanya pandai bermain pisau, beraninya ingin melawanku," papar Geo.


Sret … bruk …


Geo menarik tubuh Victor dan membanting kasar laki-laki itu ke lantai. Semua mata yang melihat kejadian itu berteriak histeris. Tidak sampai di sana, Geo mendekat dan menendang perut Victor tanpa basa-basi.


Suara erangan kesakitan dari mulut Victor bersahutan dengan teriakan ketakutan para tamu. Victor memegang perutnya yang terasa begitu sakit, belum dengan darah yang mengalir dari mulutnya akibat benturan keras itu.


Geo berjalan santai mendekat ke arah Victor yang masih terbaring. Bukannya takut melihat kedatangan Geo, Victor malah tertawa sinis. "Silakan tertawa," papar Geo.


"Huh, kau melakukan ini kepada sepupumu hanya karena seorang wanita?" ucap Victor sinis.


"Sepupu? Aku sudah lama tidak mendengar kata itu, selama ini … aku hanya memiliki satu sepupu," balas Geo datar.

__ADS_1


Cuih …. Victor meludahkan darah dari mulutnya sambil menatap tajam ke arah Geo. "Berikan wanita itu kepadaku, sepertinya darahnya akan sangat nikmat," tutur Victor.


Bruk …. Geo kembali menendang tubuh Victor dengan amarah memuncak. "Aku selama ini membiarkanmu tetap hidup, karena mengingat mendiang ibumu. Kau seharusnya syukuri itu. Jika kau berani membawa istriku, hari ini juga kau silakan bersiap menghadap Tuhan, mengikuti jejak korban-korbanmu."


Geo menginjak leher Victor dengan mata menggelap dipenuhi amarah. Suara deru napas Victor terdengar samar karena teriakan histeris tamu undangan lebih mendominasi. Jelas saja pemandangan kejam itu membuat semua orang berteriak ketakutan.


"Ge, sudah." Suara Juan mengalun di telinga Geo. Namun, laki-laki itu tidak menghiraukannya, Geo masih saja menginjak leher Victor.


"Di sini sangat ramai, Ge. Lebih baik bawa saja dia ke markas, setelah itu terserah kau ingin melakukan apa," sambung Alex.


Geo mengangkat kakinya dari leher Victor yang hampir saja meregang nyawa. Pemimpin Death itu menatap wajah Victor dengan tatapan dingin. Setelahnya laki-laki itu berbalik badan dan berjalan menjauh dari sana. "Bawa," titah Geo.


...*****...


"Tenanglah, Ra. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Siera. Gadis itu terus mengusap punggung Cara yang tampak begitu cemas sedari tadi.

__ADS_1


"Aku hanya khawatir kalau Kak Ge lepas kontrol. Di sana ramai, aku cemas kalau sampai ada yang melapor polisi," papar Cara cemas.


"Kamu lupa siapa suamimu? Tidak akan ada orang yang berani melapor polisi, Ra. Tenanglah, kasihan bayi kamu di dalam," balas Siera menenangkan.


"Benar, Kak. Tenanglah, Bang Alex tadi juga bilang semuanya akan baik-baik saja bukan?" tambah Lamira.


"Aku melihat aura lain dari tubuh Kak Ge, dia sepertinya begitu emosi," kata Cara.


"Tentu saja dia akan emosi, Ra. Orang itu membawa namamu, kamu tahu betul bagaimana Kak Geo begitu meratukan kamu," jelas Siera.


Cklek …. Empat wanita itu menoleh saat mendengar pintu kamar dibuka. Mata Cara membola dan tersenyum melihat kedatangan suaminya. Cara bergerak cepat ke arah Geo dan memeluk suaminya itu erat. Sedangkan Geo yang mendapat perlakuan tiba-tiba itu terdiam dengan raut sedikit bingung. "Kenapa, Sayang?" tanya Geo lembut.


Cara menggelengkan kepalanya, wanita itu masih memeluk Geo tanpa melepaskan barang seinci pun. Melihat itu Geo menoleh ke arah tiga wanita yang sudah terkesiap karena terkejut Geo menatap mereka. "Cara cemas, Kak," ucap Siera pelan merasa begitu gugup.


Mendengar suara pelan dari Siera, membuat Geo tersenyum tipis sambil menunduk menatap sang istri. "Tidak apa-apa, kenapa harus cemas, Sayang?" tutur Geo.

__ADS_1


"Aku ingin pulang," balas Cara pelan.


"Baiklah, ayo kita pulang."


__ADS_2