
Siera terdiam mendengar kalimat Farel yang ada benarnya. Sebelum berpacaran dengannya, laki-laki datar di hadapannya ini sudah mendapat julukan jomblo sejati dengan satu sahabatnya lagi, yaitu Juan. 'Benar juga, tapi … ah sudahlah,' batin Siera.
"Iya aku tahu, sudahlah tidak usah membahas masalah berat badan. Kamu tahu kan bagaimana sensitifnya perempuan jika membahas masalah berat badan," ujar Siera.
Farel mendengar itu hanya bisa menghela napas pelan. Jika biasanya dia begitu pintar dalam bernegosiasi dengan lawan bisnisnya. Maka untuk bernegosiasi dan berdebat dengan Siera, bukanlah jalan yang baik. Farel lebih memilih mengalah daripada harus berdebat dengan sang kekasih. "Iya terserah kamu saja, Sie. Asal nanti kamu tidak tinggal tulang saja," celetuk Farel.
Mata Siera membola mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Farel. Wanita itu mendongak dan menatap Farel dengan mata memicing. Sedangkan Farel sudah terkejut melihat tatapan mata yang seharusnya dia hindari itu. "Ekhm … apa, Sie? Apa aku salah bicara?" tanya Farel tidak paham.
"Lihat saja, setelah ini aku akan memakan nasi dalam jumlah banyak. Kalau perlu aku akan memesan sepuluh piring hanya untuk diriku sendiri. Supaya aku tidak tinggal tulang," tekan Siera kesal.
Setelah mengucapkan itu Siera pergi begitu saja meninggalkan Farel yang sedang menggaruk kepala belakangnya merasa bingung. "Dia kenapa?" gumam Farel tidak peka.
Laki-laki itu menatap punggung kecil Siera yang mulai menghilang di balik pintu ruangan kerjanya. Brak …. Farel terlonjak saat pintu ruangan kerjanya ditutup begitu kasar oleh Siera. Jelas saja dengan hal itu Farel menjadi tahu jika Siera mungkin sedang merasa kesal. "Astaga, aku salah apa ini?"
Farel menoleh sekeliling merasa bingung dengan kesalahannya sendiri. Laki-laki itu benar-benar tidak tahu hal apa yang membuat Siera marah seperti itu. "Aku harus bertanya kepada siapa?" gumam Farel bingung.
__ADS_1
Cklek …. "Kenapa masih berdiri seperti patung di situ? Apa tidak ingin cepat diselesaikan pekerjaannya? Aku ingin segera ke tempat Geno." Farel kembali terkejut saat dengan tiba-tiba pintu ruangan itu kembali terbuka dan memperlihatkan kepala Siera.
Laki-laki itu kembali menggaruk kepalanya merasa bingung mendengar kalimat ketus Siera kepadanya. "Iya, Nyonya," balas Farel pelan. Entahlah, jika dulu Siera yang merasa takut berada di dekatnya. Maka sekarang keadaannya bertolak belakang. Farel akan merasa begitu bingung dan merasa ngeri jika Siera sedang marah seperti itu.
...*****...
"Daddy, kamar Geno sudah disiapkan?" tanya Cara kepada Geo.
"Sudah, Sayang," sahut Geo.
Geo tersenyum melihat wajah Cara yang nampak begitu penasaran. "Kejutan, Baby. Nanti kamu bisa melihatnya sendiri," balas Geo lembut.
Mendengar jawaban dari suaminya, Cara mengerucutkan bibir seakan merajuk. "Membuat penasaran saja Daddy kamu ini, Sayang," ucap Cara kepada Geno.
Geo terkecil mendengar kalimat kira yang sebenarnya sedang menyindir dirinya. "Sebentar lagi kan kita pulang, jadi Mommy bisa melihatnya secara langsung," balas Geo.
__ADS_1
Cklek …. Cara dan Geo menoleh mendengar pintu ruangan itu terbuka. Dua orang gadis masuk sambil melemparkan senyum manis ke arah Cara. Lamira dan Helen masuk dan mendekat ke arah ranjang Cara. "Hai Kak," sapa Lamira kepada Cara.
"Hai," balas Cara.
"Aku senang akhirnya kakak hari ini bisa pulang kembali ke mansion," celetuk Helen.
Cara mendengar itu tersenyum manis ke arah gadis itu. "Iya aku juga sudah sangat rindu kan mansion," sahut Cara.
"Aku ingin sekali rasanya menggendong Geno, tapi aku takut tidak bisa dan nanti malah menyakitinya. Aku juga sudah mengatakan kepada Kak Rical, kalau aku juga ingin mempunyai baby seperti Geno," tutur Helen lagi.
Cara terkejut mendengar kalimat Helen, setelahnya wanita itu melirik ke arah Geo. "Benarkah? Terus bagaimana tanggapan Kak Rical?" balas Cara ikut bertanya diakhir kalimatnya.
"Katanya besok kita buat juga. Terus juga katanya, aku disuruh minta ajarkan kepada Kak Cara, yang sudah berhasil membuat baby setampan ini. Boleh ajarkan aku, Kak?" kata Helen polos.
"Uhuk …." Cara dan Lamira terbatuk mendengar jawaban polos dari mulut Helen. Sedangkan Geo hanya terkekeh kecil melihat itu semua.
__ADS_1