
Farel terus mengotak-atik keyboard laptopnya. Nampak laki-laki itu begitu serius menjalankan pekerjaannya. Mengingat pesta pertunangannya menjadi pertaruhan. Membuat laki-laki itu semakin tidak sabar ingin segera menyelesaikan permasalahan itu. Sedangkan Rical dan Alex hanya diam menunggu dan tidak menggangu jalan kerja sang ahli IT itu.
Tap …. Rical dan Alex menoleh cepat saat mendengar suara keyboard Farel yang ditekan kuat. "Sudah?" tanya Rical tidak sabar.
"Mendekatkan," ucap Farel. Mendengar kalimat Farel dengan cepat dua laki-laki itu mendekat ke arah Farel.
Beberapa video mulai terputar di layar laptop milik Farel. Tiga pasang mata itu menatap setiap pergerakan manusia di dalam layar itu dengan pandangan serius. Sampai pada menit ke lima belas, tiga laki-laki itu tersenyum miring. "Berani juga dia, pantas saja anggota lain tidak curiga. Pengkhianatnya adalah anggota terpercaya, bedebah," desis Rical.
"Baiklah, sekarang kau tangkap pengkhianat itu secara diam-diam. Aku akan menyusun rencana, tapi … Farel, kau harus memberi sinyal kepada Tiger. Kita harus mengikuti permainan dulu. Aku yakin, mereka pasti akan melakukan sesuatu supaya Jarko ikut salah paham kepada Death. Dengan kata lain, ada kemungkinan kita harus berperang dulu. Hanya sebentar, untuk mengecoh dua laki-laki gila itu," jelas Alex.
Rical mengepalkan tangannya sambil menyeringai. "Sampai itu semua terjadi, perketat keamanan," sambung Alex.
"Berapa hari?" tanya Rical.
"Dua hari aku rasa cukup, seperti yang aku katakan. Kita main santai, tapi cepat," tutur Alex.
__ADS_1
...*****...
"Kenapa belum ada yang sampai? Ini sudah jam dua, kemana sebenarnya mereka?" ucap Siera nampak kesal.
Cara tertawa mendengar kalimat Siera. "Kamu sabar saja, mungkin sebentar lagi. Maklum saja, Kak Farel harus mengurus perusahaan sendirian saat ini. Sedangkan Kak Juan juga harus mengurus urusan Death dan persenjataan. Begitu pula dengan Kak Rical yang masih cukup sibuk dengan hotel barunya. Tidak usah kesal seperti itu, aku yakin Kak Farel orangnya setia, kok," goda Cara kepada Siera.
Mendengar kalimat Cara membuat Siera mendengkus malas. "Bukan begitu, Ra. Dia juga tidak memberi kabar, aku kan jadinya khawatir," tutur Siera kesal.
Dua perempuan yang berada di sana kembali tertawa mendengar perkataan Siera. "Aku Untung diberi kabar oleh Bang Alex. Katanya masih ada urusan di Death," ucap Lamira.
"Kamu Len, kamu dapat kabar dari Kak Rical?" tanya Siera kepada Helen yang nampak terdiam karena masih kurang paham.
Tiga perempuan yang mendengar itu menganga tidak percaya. "Memangnya masa depan seperti apa?" tanya Lamira.
Helen nampak diam karena bingung tidak mengerti. "Aku juga tidak tahu," balas Helen jujur.
__ADS_1
Tiga wanita itu hanya bisa menghela napas mendengar jawaban dari Helen. "Sudahlah, dia kan memang begitu," celetuk Lamira pasrah. Mendengar itu Siera dan Cara terkekeh kecil.
"Tapi setidaknya kalian masih dapat kabar, lah aku? Boro-boro," ketus Siera merasa begitu kesal.
Cara dan Lamira kembali tertawa mendengar kalimat kesal Siera. "Sudah, mungkin Kak Farel memang sangat sibuk sampai tidak sempat memegang ponsel," ucap Cara.
"Iya, Kak. Mungkin saja dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa segera ke sini," tambah Lamira.
"Nah, seperti itu. Sabar saja," kata Cara.
"Sayang." Suara berat Geo mengalihkan perhatian tiga perempuan yang berada di bawah pohon rindang itu. Nampak Geo mendekat dengan Geno berada di dalam gendongan laki-laki itu.
"Sepertinya Geno sudah lapar, dia membuka-buka mulutnya sedari tadi," tutur Geo.
"Sepertinya iya, Dad. Sudah lebih satu jam," balas Cara.
__ADS_1
Secara perlahan Reo memindahkan tubuh putranya itu ke dalam pelukan Cara. Laki-laki itu ikut duduk di samping Cara menahan tangan sang istri dengan sebuah bantal. Itu Geo lakukan supaya Cara tidak terlalu merasa berat menahan tubuh bayi kecil mereka itu. Setelahnya laki-laki itu menarik punggung Cara untuk bersandar di tubuh kekarnya. Itu adalah hal biasa yang dilakukan sang pemimpin mafia itu saat sang istri menyusui bayi mereka.
Sedangkan tiga gadis yang memperhatikan itu semua, hanya bisa berdecak kagum di dalam hati. 'Benar-benar membuat iri,' batin mereka merasa iri.