Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
122. Hampir Sama (lb)


__ADS_3

Cara menatap wajah lesu sang suami, wanita itu terkekeh kecil melihat wajah yang biasanya datar itu, kini malah terlihat tidak bersemangat. "Semangat dong, Daddy." Cara mencubit pipi Geo yang sedang menatapnnya lesu.


"Sepertinya Farel bisa mengambil alih rapat hari ini, Sayang," ucap Geo.


Cara mendongak dan kembali terkekeh melihat wajah tampan suaminya. "Apa sebegitu malasnya ke kantor hari ini?" tanya Cara.


Geo mengangguk pelan. "Malas sekali," balas Geo.


Cara tersenyum tipis melihat itu, seharunya Cara senang dengan hal ini. Sebab, semua orang juga tahu, bagaimana gila kerjanya Geo. Bahkan dulu laki-laki itu seakan tidak memerlukan mansion karena sangat sering Geo menginap di kantor. "Baiklah, sekarang inginnya ke mana?" ujar Cara.


Mata Geo berbinar mendengar kalimat sang istri. "Benarkah? Kita tidak jadi ke kantor?" tanya Geo senang.


Cara mengangguk sambil terkekeh kecil. "Iya, Kakak ingin ke mana?" balas Cara.


"Aku ingin makan sop kerang laut," jawab Geo antusias.


Mulut Cara menganga tidak percaya. Setelahnya wanita itu memegang perut kekar Geo sambil mengusapnya pelan. "Kamu yakin, Kak? Nanti perut kamu jadi bulat lagi? Aku kan suka yang seperti ini," papar Cara.


Geo menunduk dan terkekeh melihat wajah Cara. "Tidak akan, Baby. Akan tetap seperti ini, aku kan tetap olahraga." Geo mengusap rambut Cara lembut.


"Benar, ya. Jangan sampai seperti donat," rengek Cara.

__ADS_1


Geo terbahak mendengar kalimat Cara. "Tidak, Sayang. Aku sukanya donat kamu aja, aku enggak mau punya donat juga," bisik Geo nakal.


Cara melotot dan memukul lengan Geo kesal. Sedangkan Geo sudah tertawa melihat wajah kesal sang istri. "Kak Ge semakin mesum, ih," gerutu Cara.


"Mesumnya sama kamu saja, Baby," bisik Geo.


"Jelaslah, kalau sama wanita lain juga begini. Aku potong di Junior."


Glek …. Geo menelan salivanya kasar mendengar suara pelan Cara. Dengan gerakan cepat laki-laki itu memegang tubuh bagian bawahnya sambil meringis ngilu. 'Mommy, kamu mengerikan,' batin Geo ngeri.


...*****...


"Hai." Cara tersenyum manis ke arah Helen.


"Kamu sudah selesai mengurus semuanya?" tanya Cara lembut.


Helen mengangguk cepat. "Sudah, Kak Rical juga mendaftarkan aku ujian pengambilan ijazah," balas Helen antusias.


Cara tersenyum, dia ikut senang melihat wajah berbinar gadis itu. "Baguslah, setelah itu berarti kamu bisa kuliah," tutur Cara.


Helen kembali mengangguk senang. "Iya, aku sangat senang. Tapi, Kak Rical masih belum mengatakan apa tugasku di sini," ucap Helen.

__ADS_1


Cara menoleh ke arah Geo yang sedang sibuk dengan telepon genggamnya. "Kamu tunggu saja. Kalau Kak Rical menyuruh kamu yang aneh-aneh, katakan kepadaku," pungkas Cara.


Helen tertawa kecil sambil mengangguk singkat. "Aku senang Kak Cara ke sini," cetus Helen.


"Kenapa? Apa kamu kurang nyaman di sini? Ada orang yang mengganggumu?" tanya Cara. Wanita itu hanya takut kalau Jesy mengganggu Helen. Dilihat dari sifat dan karakter Helen, Cara seakan melihat dirinya yang dulu. Jelas saja gadis itu tidak akan membalas perbuatan Jesy kepadanya.


"Bukan, hanya saja aku sedikit kesulitan di sini. Tidak ada teman untuk berbicara, semuanya sibuk dan juga tidak mengerti bahasaku," ungkap Helen.


Cara mengernyit. "Begitukah? Jadi tidak ada yang mengajakmu berbicara?" tanya Cara lagi.


"Selama ini selalu aku yang mengajak mereka berbicara, tetapi tidak mendapat jawaban yang sempurna. Mereka tidak mengerti. Ah … iya, kemarin ada yang mengajakku berbicara, tapi aku yang tidak mengerti." Helen terkekeh kecil sambil menggaruk kepala belakangnya.


"Siapa?" tanya Cara.


"Itu, Kakak yang selalu bersama ibu-ibu itu. Dia sepertinya sangat serius, sayangnya aku tidak mengerti," papar Helen.


Cara terdiam, setelahnya wanita itu tekekeh kecil. "Apa yang kamu maksud, Jesy?" tanya Cara.


"Namanya Jesy? Aku tidak tahu, ternyata nama kami hampir sama," ucap Helen berbinar.


"Ya, tapi sifat kalian sangat bertolak belakang," gumam Cara.

__ADS_1


__ADS_2