
"Sh**!" umpat Elzar.
"Ada apa?" tanya Jarko nampak tegang.
"Pertahankan data, jangan sampai bobol!" teriak Elzar. "Virusnya semakin kuat, bangsat!" sambung Elzar.
Jarko yang mendengar itu ikut tegang, rahang laki-laki itu sudah mengeras. Sedangkan Romy hanya diam dengan setumpuk benang kusut di dalam benaknya. 'Bagaimana kalau ini semakin parah?' batin Romy khawatir.
Ting … Ting … Ting …
Semua orang nampak semakin tegang kala suara peringatan bahaya mulai menggema di dalam ruangan itu. Elzar dan Jarko nampak semakin tegang dan kehilangan akal. "Fu**!" umpat Elzar.
Ting … "Seluruh data berhasil dipindahkan ke dalam akun Farel Jhons … Seluruh data berhasil dipindahkan ke dalam akun Farel Jhons!" Suara notifikasi menggema di dalam ruangan sempit itu. Semua orang yang mendengar nama familiar itu merasa sangat terkejut.
Begitu pula dengan Jarko yang sudah terdiam di tempatnya. "Farel Jhons? Jadi …?" Jarko berucap dengan wajah nampak masih tidak percaya.
"Semua data-data kita kosong," gumam Elzar lesu.
__ADS_1
Jarko tersadar mendengar suara Elzar. Laki-laki itu menoleh cepat dan mengambil alih komputer untuk mengeceknya sendiri. Benar apa yang dikatakan Elzar, Jarko tidak menemukan satu pun data-data Tiger di dalam folder khusus itu. "Bangsat!" murka Jarko.
Semua orang yang berada di sana terkejut mendengar suara Jarko yang nampak begitu marah. "Kenapa mereka menyerang kita? Selama ini kita tidak ada masalah apa-apa dengan Death? Apa ini?" geram Jarko.
"Romy," panggil Elzar.
Romy terkejut saat mendengar suara Elzar memanggil namanya. Sedangkan Jarko sudah menatap dua laki-laki itu dengan pandangan serius. "Ada apa? Ada sesuatu yang tidak aku tahu?" tanya Jarko.
Elzar menatap Jarko dengan pandangan serius. "Kemarin aku diminta Romy untuk membobol pertahanan Death. Romy mengatakan keadaannya mendesak sehingga aku terpaksa membantunya. Awalnya aku pikir ada apa? Aku pikir tidak akan separah ini," ungkap Elzar.
"Bukan, Romy mengatakan kalau dia akan segera melapor kepadamu. Jadi kau belum melaporkan hal itu kepada Jarko?" tutur Elzar.
"Maaf, bukannya aku tidak ingin melapor. Kemarin aku ada kendala, tapi aku bisa jelaskan kenapa aku melakukan ini semua. Ini semua aku lakukan juga untuk Tiger. Aku akui aku memang salah karena bertindak tanpa memberi tahumu. Aku kemarin begitu panik dan marah, sehingga aku melakukan semuanya begitu saja. Bahkan sampai aku tidak bisa menjelaskan kepada Elzar," papar Romy mencoba terlihat santai.
"Katakan cepat! Ini masalah serius, semua data-data kita sudah berada di tangan mereka," desis Jarko tidak sabar.
Romy mengambil sesuatu dari saku celananya. Setelah laki-laki itu memberikan benda itu kepada Jarko yang nampak bingung sekaligus penasaran. Jarko menatap benda yang diberikan Romy dengan pandangan serius. Sedangkan Elzar yang merasa penasaran, ikut mendekat ingin tahu. Beberapa menit melihat dan memahami benda itu, rahang Jarko mengeras.
__ADS_1
"Jadi mereka yang ingin mencari masalah dengan Tiger. Apa karena nama mereka sudah mendunia, mereka berpikir Tiger akan takut?" desis Jarko nampak begitu marah.
Sedangkan Elzar nampak diam seakan sedang memikirkan sesuatu. Raut wajah laki-laki itu nampak bingung dan bimbang. Elzar seakan kurang percaya dengan apa yang dia lihat. "Kumpulkan semuanya, kita akan berdiskusi untuk menyerang. Kita akan berperang untuk mengambil alih data-data Tiger. Yang paling penting, kita akan berperang untuk menaikkan nama Tiger yang seakan diinjak," geram Jarko.
Sedangkan ada empat pasang mata yang sedari tadi ikut menyaksikan kegaduhan itu melalui layar laptop. "Bodoh," ejek Geo.
"Tapi Romy itu cukup pintar juga, aku tidak menyangka dia sudah menyiapkan alibi begitu cepat. Benar-benar otak licik," pungkas Rical.
"Jadi bagaimana sekarang? Apa kita layani perang mereka?" tanya Alex kepada Geo.
Geo nampak diam dengan wajah datar seperti biasa. Siapa pun itu, tidak ada yang bisa menebak isi pikiran dan pemimpin Death itu. "Persiapkan saja, aku ingin memukul mundur mereka tanpa harus beradu fisik. Tapi, sepertinya bermain dengan Jarko akan cukup menyenangkan. Sepertinya dia tipe pemimpin yang bodoh saat dikuasai emosi. Mudah tertipu."
Geo bersuara sambil tersenyum miring membayangkan pertemuan dua perkumpulan ternama di Indonesia itu. "Aku pikir juga begitu, jadi kita turun semua?" tanya Rical.
"Bukankah kau ingin menangkap langsung bedebah itu?" tanya Geo.
"Iya, tubuhku sudah gatal ingin melemparkan dia ke kerak neraka," desis Rical.
__ADS_1