
Mobil yang ditumpangi Geo dan Cara berhenti tepat di depan teras luas mansion Vetro. Sang pemimpin mafia itu turun dari mobil dan mengelilingi mobil itu menuju ke arah pintu satu lagi. Laki-laki tampan itu membukakan pintu untuk sang istri. "Jangan, Sayang."
Suara Geo menghentikan pergerakan kaki Cara. Wanita itu baru saja berniat akan menurunkan kakinya untuk berjalan. Namun, Geo menghalanginya dengan menahan kedua kakinya itu. "Jangan kelelahan dulu, memang berjalan baik untuk memulihkan luka jahitan di perut kamu. Tapi, tubuh kamu masih lemah dan rentan pendarahan seperti yang Dokter katakan. Biar aku gendong," jelas Geo begitu lembut.
Cara tersenyum menanggapi perkataan sang suami yang begitu perhatian kepadanya. Sedangkan yang lain, yang sedari tadi berdiri menyambut kedatangan Cara hanya bisa tersenyum melihat keharmonisan sepasang suami istri. "Kak Geo benar-benar suami idaman kan. Andai ada kembarannya," bisik Lamira kepada Helen dan Siera.
"Kak Geo kan hanya untuk Kak Cara," celetuk Helen polos.
"Ya kan, mana tahu ada kembarannya kan Kak," tutur Lamira kepada Siera.
"Iya, nikmat kan," balas Siera.
"Ekhm …." Tiga gadis itu terlonjak kaget saat mendengar tiga laki-laki berdeham secara bersamaan.
Lamira dan Siera terkekeh bodoh menatap wajah Alex dan Farel yang saat ini sudah nampak begitu kesal. Sedangkan Helen sedang menatap wajah Rical dengan pandangan polosnya. "Kak Rical kenapa? Haus?" tanya Helen polos.
"Pfft …." Lamira dan Siera mengulum bibir menahan tawa mendengar kalimat bodoh Helen. Sedangkan Rical sudah menghela napas panjang mendengar itu.
__ADS_1
"Ekhm … ayo kita ke dalam, Kak." Lamira dengan cepat menarik tangan Siera dan Helen. Setelahnya Lamira menarik cepat dua gadis itu ke dalam mansion.
Melihat kepergian tiga gadis itu, tiga laki-laki yang masih berada di sana saling tatap. Kemudian mereka secara serentak mendengus kesal. "Kenapa mereka lebih menginginkan laki-laki datar dan kaku seperti Geo," tutur Alex kesal.
"Entah, padahal bagus aku yang lebih humoris ini," tambah Rical.
"Kalau kau jelas bermasalah di sifat brengsekmu itu. Kalau aku jadi wanita, jelas juga aku tidak akan mau," papar Alex.
Rical yang mendengar itu menatap Juan dengan pandangan kesal. "Kau juga, kalau aku jadi wanita, aku juga tidak akan mau denganmu. Laki-laki nakal yang suka mengerjai ceweknya," ketus Rical.
"Itu lebih baik, dari pada kau yang …."
Alex dan Rical saling pandang dan menatap punggung Farel yang mulai menjauh dari sana. "Dia juga, datar sekali," gerutu Alex.
"Tembok."
"Es."
__ADS_1
"Kulkas."
"Ro …."
"Maaf, apa saya boleh masuk?" Kalimat Alex terpotong saat suara seorang laki-laki menyapa indera pendengaran mereka.
Dua laki-laki itu menoleh dan melihat keberadaan Bagas di sana. Bagas berdiri sedikit canggung menatap dua inti Death itu. "Oh, silakan masuk, Om," ucap Alex.
"Terima kasih." Bagas menyahut sambil membungkuk kecil kepada Alex dan Rical. Setelahnya laki-laki paruh baya itu berjalan ke dalam mansion meninggalkan Alex dan Rical yang mungkin masih melanjutkan percakapan tidak penting mereka.
...*****...
"Mas, hari ini kita ke tempat Jesy berdua kan?" tanya Sasdia.
Torih menoleh dan mengangguk pelan. "Iya, Sa. Nanti kita belikan lagi dia roti stoberi, aku senang melihatnya makan lahap seperti itu. Tubuhnya sudah begitu kurus," balas Torih.
Saadia tersenyum miris mengingat keadaan putrinya saat ini. Tubuh Jesy memang semakin kurus. Keadaan Jesy juga masih seperti itu saja. Tidak ada angsuran, tetapi setidaknya Jesy sudah kurang dalam mengamuk tidak jelas. "Iya, aku … merasa begitu gagal rasanya sebagai orang tua, Mas. Anak kita hanya satu, tapi kita tidak bisa membahagiakannya," tutur Saadia.
__ADS_1
Torih terdiam mendengar perkataan Sasdia. "Sudahlah, Sa. Kamu jangan membahas itu, jika membahas itu … maka aku adalah manusia yang paling gagal di dunia ini. Aku memiliki dua putri, yang satu aku buat sengsara dengan siksaanku sendiri. Sedangkan yang satunya, malah berakhir seperti ini karena didikan yang salah," papar Torih lemah.
Sasdia menoleh ke arah Torih dan menatap suaminya itu dengan pandangan sayu. "Iya, Mas. Lebih baik kita tidak membahas ini lagi. Sekarang lebih baik kita berangkat saja lagi. Takutnya nanti malah hujan, satu minggu ini setiap sore rutin turun hujan," kata Sasdia mengalihkan pembicaraan.