
"Anak gembel? Kau masih saja menyeret mendiang bundaku di sini," ucap Cara.
Cara menatap dingin ke arah Sasdia yang sempat terkejut melihat perubahan tatapan dan raut wajah Cara. Wanita paruh baya itu menelan salivanya susah payah kala melihat Cara mulai mendekat ke arahnya. Jesy yang melihat itu berniat menggapai Cara, tetapi dengan gerakan cepat Melani dan satu pelayan lainnya segera menahan tangan wanita hamil itu. "Lepaskan aku wanita-wanita ja***g, aku majikan kalian di sini," teriak Jesy.
"Maafkan kami majikan, ini adalah perintah dari Tuan Carves. Kau tidak boleh menyentuh Nyonya Vetro, bahkan seujung kuku pun," ejek Melani.
"Rical bangsat!" teriak Jesy.
Sedangan Cara sedang menatap tajam Sasdia yang sudah mulai memucat. "Kau … orang yang membawa mendiang bundaku masuk ke dalam kehidupan brengsek kalian itu," bisik Cara.
__ADS_1
Aura wanita itu kali ini sukses membuat suara Sasdia menghilang tiba-tiba. "Dia datang atas keinginan dan paksaanmu bangsat. Setelahnya kau malah membuatnya menderita, sampai mengalir kepada anaknya yang hampir meregang nyawa. Kalian memang lebih hina dari pada binatang … jangan kau kira aku tidak tahu seluk beluk keluarga kita." Cara menyambung kalimatnya sambil menekan kata kita di dalam kalimatnya.
Sasdia menelan salivanya kasar, wajah wanita paruh baya itu pias. Sedangkan Jesy yang mendengar perkataan Cara ikut panik, takut kalau Cara melukai Mamanya. "Kau melupakan laki-laki yang menjadi sokonganku? Kau melupakan laki-laki yang berada di sampingku? Dengan semua kekuasaannya … aku bahkan bisa membuat kehidupan kalian hangus dalam hitungan detik. Tapi … aku sengaja ingin bermain, tidak aku sangka kau masih saja berani membawa nama mendiang bundaku ke dalam pergelutan kita," desis Cara.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk jangan pernah menyinggung mendiang bundaku yang sudah tenang di alam sana. Cukup semasa di dunia kau dan keluarga brengsekmu itu membuatnya sengsara," tekan Cara.
Setelahnya Cara menoleh pelan ke arah Jesy yang terkesiap mendapat tatapan tajam dari Cara. "Selama ini aku baru bermain dengan anakmu bukan? Kau belum sama sekali aku sentuh, tenang saja … kau ada giliran. Setelah aku pikir-pikir, melalui anakmu … kau pasti lebih merasakan sakit bukan?" Cara tersenyum miring ke arah Sasdia.
"Itu yang dirasakan bundaku selama ini," sambung Cara berdesis tajam.
__ADS_1
Cara kembali memundurkan langkahnya sambil terus menatap intens ke arah Sasdia. "Ingin aku tunjukkan dan contohkan salah satu perasaan yang pernah dirasakan oleh bundaku dulu?" tutur Cara.
Cara menaikkan sebelas alisnya kala melihat Sasdia mendongak dan melotot. Cara tersenyum miring sambil mendekat ke arah Jesy. Pergerakan itu membuat dada Sadia naik turun merasa panik. "Apa yang ingin kau lakukan?" teriak Sasdia.
Cara tidak menyahut, dia terus berjalan pelan ke arah Jesy yang sudah pucat ketakutan. Sungguh wanita yang saat ini berdiri mendekat ke arahnya bukanlah Cara yang dia kenal selama ini. "Jangan mendekat kau," ucap Jesy ketakutan.
Plak …. Wajah Cara masih saja dingin menatap Jesy yang sudah tertoleh karena tamparannya. Sedangkan Sasdia melotot terkejut melihat kejadian itu semua. "Jangan sentuh anakku!" teriak Sasdia histeris.
Cara menatap datar ke arah Sasdia yang sedang memberontak. "Ini hanya contoh Nyonya Gerisam, bundaku bahkan merasakan hal yang lebih kejam dari ini. Sakit fisiknya tidak terasa akibat goresan mental yang didapat saat melihat anak gadisnya diperlakukan bak binatang bahkan oleh keluarganya sendiri," desis Cara.
__ADS_1