
"Kau sudah gila? Singkirkan kakimu ini, aku akan melaporkanmu ke polisi," geram wanita itu. Sedangkan Geo sedari tadi hanya diam menyaksikan apa yang dilakukan oleh istrinya.
Cara tersenyum mendengar itu. "Kau ingin melaporkan aku? Silakan, aku tidak takut. Ayo, kalau perlu kau teriak," ujar Cara santai.
"Kau belum tahu siapa aku B***h, akan aku buat kau menyesal melakukan ini kepadaku," murka wanita itu.
Cara tersenyum miring, setelahnya Cara menunduk menyamakan wajahnya dengan wanita itu. "Kau yang tidak tahu siapa aku, ja***ng," tekan Cara.
Wanita itu menatap tajam Cara sambil menahan sakit di kakinya. Cara menatap benci tangan wanita itu. "Tangan ini yang dengan berani menyentuh milikku bukan?" Cara mengusap singkat tangan wanita itu.
Hal itu membuat wanita itu terkejut dan merasakan sedikit takut. "Jangan sentuh aku," ucap wanita itu sinis.
"Kau yang berani menyentuh punyaku," sahut Cara santai.
Setelahnya Cara melepaskan injakannya di kaki wanita itu. Namun, baru saja wanita itu akan bernapas lega dia kembali berteriak. "Akhhh …."
Cara beralih menginjak tangan wanita itu. Geo yang melihat kelakuan Cara sudah meringis kecil. Laki-laki itu bisa melihat aura tidak suka menguar dari tubuh Cara. Itu semua karena istrinya itu tidak terima ada wanita lain yang menyentuh dirinya, meski hanya di balik kain. 'Dia benar-benar posesif juga,' batin Geo meringis.
__ADS_1
Suara teriakan kesakitan wanita itu mampu menarik perhatian para pengunjung taman. Beberapa orang mulai mendekat menyaksikan itu. "Hei, kenapa kau injak tangannya sampai berdarah seperti itu?" protes seorang pengunjung.
Cara menoleh dan tersenyum tipis ke arah orang itu. "Aku hanya sedang memberinya pelajaran," sahut Cara santai.
"Kau keterlaluan, tangannya sudah berdarah," tambah seseorang lagi.
"Lepaskanlah," ucap beberapa orang.
Geo menatap datar sekumpulan orang itu, sedangkan Cara menghiraukan perkataan mereka. Cara masih saja menginjak tangan wanita itu. Saat beberapa orang mulai mendekat ke arah Cara untuk membantu sang wanita. Saat itu pula datang sekumpulan laki-laki berpakaian hitam khas Death mengepung tempat kejadian. Semua orang terkejut dan ketakutan melihat kehadiran anggota mafia ternama itu. Begitu pula dengan wanita yang berurusan dengan Cara.
"Berani sentuh wanita Tuan Vetro, siap-siap kehilangan nyawa," ucap salah satu dari sekumpulan laki-laki itu.
"Kau mengatakan kalau aku tidak mengenalmu bukan? Kalau boleh tahu, memangnya kau siapa? Kalau aku, sudah menunjukkan siapa aku. Sekarang giliranmu, silakan perkenalkan dirimu. Aku beri kau waktu," sambung Cara.
Wanita itu meneguk ludahnya susah payah. Dia tidak menyangka ternyata dia salah besar berurusan dengan orang. "A-aku minta maaf," ucap wanita itu tergagap.
"Aku bukan menyuruhmu meminta maaf, tapi perkenalkan dirimu," ujar Cara santai.
__ADS_1
Wanita itu kembali menelan ludahnya kasar. "Namaku Jeniver Brizi," cicit wanita itu.
"Hem … Jeniver, sepertinya kau punya kembaran di Indonesia," celetuk Cara asal.
"Hah?" tanya Jeniver bingung.
"Jadi … sekarang kau ingin aku melakukan apa untukmu?" tanya Cara.
Jeniver terkejut. "To-tolong maafkan aku Nyonya," pinta Jeniver.
"Setelah kau dengan berani menyentuh suamiku?" papar Cara.
"Aku benar-benar minta maaf Nyonya, aku tidak tahu kalau dia adalah Tuan Vetro," lirih Jeniver.
Cara mengangguk kecil. "Baiklah." Setelahnya Cara mengangkat kakinya dari tangan Jeniver yang sudah berlumuran darah.
Cara menoleh ke arah Geo yang sedari tadi anteng menyaksikan aksinya. "Sepatuku berdarah Kak," rengek Cara.
__ADS_1
Geo tersenyum, hal itu membuat semua orang ternganga terutama para wanita. Mereka jelas tahu bagaimana dingin dan kejamnya Tuan Vetro yang merupakan pemimpin Death itu. "Lepas saja," ujar Geo.
Geo mengangkat tubuh istrinya, kemudian laki-laki itu melepas sepatu Cara begitu saja. "Urus!" Geo berbicara kepada para anggotanya sambil mulai mengayunkan kakinya pergi dari sana.