Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
99. Takut (lb)


__ADS_3

"Tuan, Nyonya." Sekumpulan pelayan Rical menunduk sopan ke arah Geo dan Cara.


Cara tersenyum ramah sambil memeluk tangan kekar sang suami erat. Sepasang suami istri itu berjalan santai ke area ruang tamu kediaman Carves. Sesuai dengan perkataan Geo, sepulangnya dari kantor mereka langsung ke mansion Rical. "Setelah ini kita mampir di kafe tepi pantai ya, Kak. Aku sedang ingin memakan cumi bakar," ucap Cara.


Geo menunduk dan tersenyum tipis. "Iya, Sayang. Nanti aku booking tempatnya," ucap Geo.


"Tidak perlu Kak, cukup sisakan satu kursi saja untuk kita. Aku juga ingin menikmati senja nanti," balas Cara.


"Keinginan dikabulkan, My Queen." Geo mencubit pipi Cara gemas.


Cara terkekeh, mata wanita itu terhenti pada sebuah objek yang menjadi tujuan dirinya ke sana. Cara tersenyum manis ke arah dua manusia yang sudah memucat melihat kehadirannya. "Hai … lama tidak berjumpa, ya," sapa Cara.


Sasdia dan Jesy hanya diam tidak menanggapi sapaan Cara. Ibu dan anak itu merasa begitu takut mengingat kegilaan Cara beberapa hari yang lalu kepada mereka. Cara yang melihat wajah takut mereka tersenyum miring. Setelahnya wanita itu mendongak menatap wajah sang suami. "Kakak ingi ke atas kan? Pergilah, aku menunggu di sini," ucap Cara.

__ADS_1


Geo tersenyum ke arah Cara kemudian menatap seluruh pelayan Rical datar. "Pantau," titah Geo.


"Baik, Tuan," sahut mereka serentak.


"Aku ke atas, Baby. Kalau ada apa-apa, beri tahu mereka," papar Geo lembut.


"Iya, Kak," balas Cara.


Setelahnya Geo menunduk dan berlutut di depan sang istri menatap sejajar perut Cara yang masih datar. "Daddy pergi sebentar, Sayang. Jangan nakal ya, kasihan Mommy." Geo mengecup pelan perut rata istrinya.


"Sepertinya begitu, Sayang," sahut Sasdia.


Jesy menunduk sedih sambil mengusap perutnya yang juga masih rata. "Andai Rical juga melakukan hal seperti itu kepada anaknya. Sampai saat ini dia bahkan tidak pernah menyapa, jangankan mencium seperti itu," lirih Jesy sedih.

__ADS_1


Sasdia tertegun, dia mengingat kejadian dua puluh satu tahun yang lalu. Persis sama, Sasdia melihat dengan jelas wajah sedih Dea kala itu. Bahkan Sasdia dengan sengaja tersenyum mengejek ke arah Dea kala itu. Tepat saat Torih mengusap dan mencium perut ratanya, sedangkan Dea tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu. 'Apa ini benar-benar karma? Kenapa harus anakku yang menerimanya, Tuhan?' batin Sasdia menjerit.


Geo berdiri, setelahnya laki-laki itu mengantarkan Cara kehadapan sepasang ibu dan anak yang sudah kaku ditempat. "Kalau kalian masih ingin hidup tenang, jaga sikap. Jangan sentuh istriku, meski seujung kuku pun," desis Geo.


Glek …. Sasdia dan Jesy mengangguk kaku sambil menelan ludahnya kasar. Bulu kuduk mereka bahkan sudah berdiri sedari Geo melayangkan tatapan mematikan kepada mereka. Cara terkekeh remeh melihat wajah takut dua manusia dihadapannya itu. "Sudah, Sayang. Ke atas saja, aku tidak akan kenapa-kenapa di sini. Mereka tidak akan berani menyentuhku," ujar Cara.


"Baiklah, aku ke atas, Sayang," pamit Geo. Geo mengecup pelan bibir sang istri sebelum pergi dari sana.


Melihat kepergian Geo, Cara menoleh ke arah Sasdia dan Jesy yang terlonjak saat tiba-tiba Cara menatap mereka. Cara kembali terkekeh remeh melihat ketakutan ibu dan anak itu. "Kalian tenang saja, aku tidak akan melakukan hal kejam. Jika kalian patuh kepadaku," kata Cara santai.


Sasdia dan Jesy diam sambil mengepalkan tangannya. Rasa marah yang tidak dapat mereka luapkan membuat ibu dan anak itu memilih diam. "Shh …." Jesy meringis kala tidak menyadari terlalu mengepalkan tangannya yang masih terluka.


"Kenapa, Sayang?" tanya Sasdia panik.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Ma. Tanganku sedikit ngilu," jawab Jesy.


Cara menunduk menatap tangan Jesy yang masih tampak terluka. Wanita itu tersenyum miring melihat itu. "Tanganmu masih belum sembuh ternyata, apa aku sekuat itu sampai membuat tanganmu begitu terlihat parah," papar Cara santai.


__ADS_2