Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
254. Bapak Luknut (lb)


__ADS_3

"Astaga, dia cantik sekali matanya mirip sekali dengan Helen," ucap Siera.


"Iya, untung dia tidak mirip dengan Rical. Kalau tidak aduh sudahlah," balas Alex.


Mendengar kalimat Alex, Rical menoleh cepat sambil menatap sahabatnya itu dengan pandangan kesal. "Apa maksudmu? Jadi maksudmu kalau anakku itu menuruni wajahku dia akan jelek, begitu?" protes Rical.


"Lah, aku tidak mengatakan seperti itu loh tadi. Kau saja yang merasa jelek," balas Alex santai.


"Bang …."


"Kak," tegur Helen cepat.


Rical menoleh sambil tersenyum bodoh ke arah istrinya itu. "Maaf, Sayang. Aku lupa," balas Rical.


Empat tahun berada di Indonesia, Helen mulai mengerti dengan bahasa Indonesia meski belum begitu lancar. Jika mendengar orang berbicara dia mengerti maksud dari ucapan orang itu. Namun, untuk berbicara terkadang wanita itu masih merasa kesulitan.


"Tapi kenapa Geo dengan Cara masih belum datang?" tanya Alex.


"Katanya dia sudah di jalan, Cara kesulitan karena Kak Geo dan Geno kembali berdebat. Belum lagi dengan Geno dan Pandi yang selalu tidak akur," ucap Siera.

__ADS_1


Mendengar ucapan Siera, Alex dan Rical terkekeh membayangkan perdebatan antara ayah dan anak yang sama-sama kaku itu. "Aku heran saja, kenapa bisa Geo malah meladeni perdebatan anaknya yang masih seumur itu," tutur Alex.


"Iya, aku tidak menyangka ternyata Geo begitu pencemburu. Bahkan kepada anaknya sendiri, benar-benar kulkas itu," tambah Rical.


"Biarkan saja kulkas itu dipusingkan oleh sifat dingin putranya sendiri. Aku tidak menyangka, baru sebesar itu Geno sudah begitu menyalin sifat bapaknya. Besar nanti aku yakin Geno akan jauh lebih parah daripada Geo saat ini," papar Alex.


"Iya, Keno saja tidak mengikuti sifat Farel. Kenapa bisa Geno malah menyalin berkali lipat sifat dingin Geo," tutur Rical.


"Ya, itu karena aslinya Farel memang bukan laki-laki dingin. Farel kan memang aslinya laki-laki yang cerewet persis seperti Keno," ucap Alex.


"Ah, iya. Benar juga," balas Rical.


"Kalian beli apa itu?" tanya Lamira.


"Mi …." Anak laki-laki berusia 1 tahun yang berada di gendongan Farel, mengembangkan kedua tangannya ke arah Lamira. Farel bergerak dan memberikan anak laki-laki itu kepada ibunya.


"Cucu," ucap salah satu anak laki-laki yang saat ini sedang berdiri berdampingan. Satu anak laki-laki mendekat ke arah Rical dan memberikan susu kotak yang ada di tangannya kepada sang ayah.


"Oh, kamu membeli susu kotak ini untuk Papi?" goda Rical kepada putranya itu.

__ADS_1


Nampak anak laki-laki itu menggeleng cepat sambil meraih kembali susu kotak itu dari tangan kekar Rical. Melihat itu semua orang tertawa, apalagi anak laki-laki itu mendekat ke arah Farel yang sedang membukakan susu kotak kepada satu anak laki-laki lagi. "Astaga, sudah dua saja anakku ternyata," papar Rical.


"Iya kau yang paling cepat diantara kami," balas Alex.


"Pa …." Anak laki-laki yang tadi mendekat ke arah Rical, sekarang menyodorkan susu kotaknya kepada Farel.


"Razi, ke sinilah, biar Papi bukakan. Janji tidak akan Papi minum," tutur Rical kepada anak laki-laki itu.


Anak laki-laki itu nampak menggeleng kuat sambil semakin merapat ke arah Farel. "Makannya, itu karena kau selalu saja mengusili Razi," cibir Alex.


"Ya sudah, kalau kamu tidak ingin ke tempat Papi, tidak apa-apa. Papi sekarang ada anak baru," celetuk Rical semakin senang menjahili putra kecilnya itu.


Mendengar kalimat Rical, mata anak laki-laki yang bernama Razi itu mulai berkaca-kaca dengan bibir bergetar. Razi berjalan dan mendekat ke arah Helen dengan tangis yang sudah pecah. Seketika ruangan inap itu menjadi begitu berisik oleh suara tangis Razi. "Huaa, Mami …."


"Kak, kamu ini benar-benar," tegur Helen.


Rical hanya terkekeh bodoh, sambil melihat putranya yang saat ini masih menangis dengan air mata yang sudah membanjiri pipi tembamnya. Laki-laki itu mendekat ke arah Razi, yang tampak sudah mengepakkan kedua tangannya ke arah Helen yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit. "Sudah, ayo Papi gendong," tutur Rical.


"Bapak laknat memang," celetuk Alex.

__ADS_1


__ADS_2