Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
179. Meminta Maaf (lb)


__ADS_3

"Kak, nanti kita naik kuda, ya. Di depan aku lihat ada kuda yang bawa becak," ucap Cara.


Geo menoleh dan tersenyum mendengar perkataan Geo.


"Kak, itu apa?" Cara menunjuk sebuah meja yang berada di sudut ruangan.


"Itu patung baru, dikeluarkan bulan ini," jelas Geo.


"Wah, aku baru tahu," pungkas Cara.


"Kenapa? Kamu ingin itu?" tanya Geo.


"Eh, tidak. Aku takut," balas Cara merasa ngeri.


Geo yang melihat Cara merapat ke tubuhnya tertawa kecil. Sepasang suami istri itu terus melanjutkan langkah mereka ke arah pintu besar ruangan kerja Geo. "Ada rapat?" tanya Geo kepada sekretarisnya.


"Tidak ada, Tuan," jawab wanita itu.


...*****...


"Hei, cepat bersihkan piring ini. Pelanggan semakin padat," titah seorang laki-laki.


"Baik, Pak," sahut Torih.

__ADS_1


"Sa, lebih baik kamu pulang saja. Tidak usah ikut bekerja. Nanti di kontrakan kamu juga harus bersih-bersih," tutur Torih kepada Sasdia.


"Untuk hari ini saja, Mas. Sepulang dari sini, kita mampir ke makam Dea dulu ya, Mas," ajak Sasdia.


Torih tersenyum tipis ke arah Sasdia. "Baiklah, tidak usah terlalu lelah, Jesy masih butuh kamu jenguk," pungkas Torih.


"Iya, Mas. Kamu pun juga jangan terlalu dipaksa, nanti sakit kita juga kesulitan," ucap Sasdia.


Torih terdiam mendengar perkataan Sasdia. 'Benar, jika aku sakit … tidak akan ada pemasukan seperti dulu. Aku harus menjaga tubuhku,' batin Torih.


"Hei, cepatlah! Kenapa kalian lelet sekali? Kalau begini lebih baik aku cari tenaga pemuda saja. Pergerakan kalian sangat lambat," teriak seorang pegawai kepada Torih dan Sasdia.


"Maaf, ini sudah selesai." Torih memberikan setumpuk piring kepada laki-laki muda itu.


Sasdia menatap kepergian laki-laki muda itu dengan pandangan tidak suka. "Dia tidak sopan sekali, padahal kita ini jauh lebih tua dari pada dia. Sudah sesuai dengan orang tuanya, tapi malah sangat angkuh padahal sama-sama karyawan," gerutu Sasdia merasa kesal.


"Sudahlah, Sa. Diamkan saja, yang penting kita masih dapat gaji, jadi bisa makan di sini. Orang seperti itu memang masih banyak di dunia ini," papar Torih.


Sasdia menghela napas panjang mendengar perkataan Torih. "Ya, begini ternyata tidak memiliki apa-apa. Selalu saja ditindas dan direndahkan," celetuk Sasdia pelan.


Torih kembali terdiam mendengar perkataan Sasdia. 'Bagaimana dengan Dea dan Cara selama ini?' batin Torih.


"Mas." Suara Sasdia mengejutkan Torih yang sempat sibuk di alam lamunannya.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Apa kamu lelah?" tanya Sasdia cemas.


"Tidak, aku hanya teringat dengan nasib Dea dan Cara yang mungkin sudah pernah melalui ini semua," ujar Torih jujur.


Sasdia ikut terdiam mendengar perkataan Torih. "Padahal seharusnya mereka bisa hidup senang bersamaku, tapi …." Torih terdiam tidak mampu meneruskan perkataannya.


"Sudahlah, Mas. Tidak ada gunanya lagi kita membahas itu semua, karena itu nanti kita berkunjung ke makam Dea. Aku adalah pangkal dari semua ini," tutur Sasdia.


.


.


.


Sasdia dan Torih berjongkok di depan sebuah makam yang nampak bersih dan terawat. Memang Cara mempekerjakan seseorang untuk selalu membersihkan dan merawat makam sang bunda. "Hai," sapa Sasdia pelan.


Sasdia menghela napas berat merasa dadanya begitu sesak seakan ada yang menghimpit. "Maaf …," lirih Sasdia.


Torih mengusap punggung sang istri saat melihat Sasdia nampak kesulitan untuk bersuara. "Aku memang kejam, maafkan aku." Sasdia menunduk dengan suara semakin melemah.


Tes …. Tetasan air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mata wanita paruh baya itu. "Hiks … aku begitu berdosa," isak Sasdia.


"Tenang, Sa," bisik Torih mencoba menenangkan sang istri.

__ADS_1


"Maafkan aku, Dea. Aku benar-benar minta maaf. Aku membuat hidupmu seakan berada di dalam neraka. Begitu pula dengan putrimu, sekarang aku sudah mendapatkan balasannya. Tapi entah kenapa harus putriku yang menerimanya?" Sasdia meraung tidak mampu lagi menahan suaranya.


__ADS_2