Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
252. Berdebat (lb)


__ADS_3

"Sekarang bagaimana? Apa mereka kita bawa saja, Dad?" tanya Cara.


Geo menoleh menatap Geno dan Pandi yang masih nampak tidak akur. "Geno," panggil Geo.


Geno yang sedang bersedekap dada sambil menatap dingin ke arah Pandi, menoleh saat mendengar suara berat Daddy-nya. "Iya, Dad," balas Geno.


"Kamu tidak menyapa Daddy, padahal Daddy baru pulang," papar Geo datar.


"Celamat datang, Dad," tutur Geno dengan wajah datar khas anak kecil itu.


Geo menganga mendengar tanggapan dari putra tunggalnya itu. Sedangkan Cara saat ini sudah mengulum bibir penahan tawa melihat ekspresi suaminya. "Kenapa, Dad? Bagaimana rasanya menghadapi manusia kaku?" ejek Cara.


Geo menoleh ke arah sang istri sambil menggaruk puncak kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Ya, aku akui dia memang menuruni sifatku, Sayang. Tapi, aku rasa dia bahkan jauh lebih parah dari pada aku," papar Geo.


Cara terbahak mendengar kalimat Geo. Wanita itu menoleh menatap sang putra yang nampak masih diam mendengar celotehan Pandi. Wanita itu menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, kenapa Geno begitu menuruni sifat ayahnya. "Geno," panggil Cara.

__ADS_1


Geno kembali menoleh dan menatap ibunya dengan pandangan polos itu. "Iya, Mommy," sahut Geno lebih bernada.


Geo yang mendengar itu mendengus merasa kesal sendiri dengan sang putra. Memang sudah biasa baginya di mana Geno akan bersikap begitu manja lembut dan hangat kepada Cara. Namun, jika sedang bersamanya Geno akan begitu terlihat mirip seperti dirinya, dingin, datar, kaku dan irit bicara.


"Dengan Mommy saja kamu berbicara seperti itu. Kenapa dengan Daddy kamu begitu datar dan kaku?" celetuk Geo.


geno kembali menoleh ke arah ayahnya dengan mata polos tapi tidak berekspresi. "Kalena Daddy itu lawan aku," sahut Geno.


Cara dan Geo saling tatap dengan kening berkerut saat mendengar kalimat Geno. "Lawan bagaimana, Sayang?" tanya Cara lembut.


Mendengar perkataan Geno, Cara dan Geo sangat terkejut. Geo saat ini malah menatap putranya itu dengan pandangan kesal. "Mana ada Daddy yang mengambil alih Mommy dari kamu. Yang benar itu kamu yang mengambil alih Mommy dari Daddy," protes Geo.


Anak laki-laki berumur tiga tahun itu merasa tidak terima dengan perkataan ayahnya. Geno bertolak pinggang sambil mendongak menatap Geo yang jauh lebih tinggi dari dirinya yang masih begitu mungil. Geno menatap ayahnya dengan pandangan seakan menantang.


"Mana ada, Daddy celalu mengganggu aku caat belcama Mommy. Mommy cedang membuatkan aku cucu, Daddy mengganggu. Mommy cedang menemani aku tidul, Daddy juga mengganggu. Daddy pengganggu," celoteh anak laki-laki itu.

__ADS_1


Geo dan Cara kembali dibuat ternganga mendengar kalimat Geno. Sepasang suami istri itu kembali saling tatap dengan wajah tidak percaya. "Anak kamu, Dad," tutur Cara meringis.


Geo menghela napas sambil menunduk menatap putranya yang masih nampak sedang menantang dirinya. 'Ya, dia memang putraku. Tapi aku tidak tahu harus bangga atau malah kesal jika sudah menyangkut dengan Cara. Dia tidak mau kalah, membuat kesal saja,' batin Geo.


"Heh, dengarkan ini baik-baik Geno Vetro. Ini adalah istri Daddy dan dia adalah milik Daddy, ingat itu!" tutur Geo.


Mata bulat anak laki-laki itu membola sehingga memperlihatkan warna biru laut itu dengan jelas. Geno nampak kesal dan tidak suka saat melihat Geo memeluk Cara. Dengan gerakan cepat, Geno mendekat ke arah Cara dan memeluk kaki wanita itu erat. Tangan kecil Geno bergerak mendorong kaki Geo.


"Ini Mommy aku, Daddy menjauhlah. Jangan ambil Mommy," teriak Geno.


"Enak saja, ini istri Daddy," balas Geo tidak mau kalah.


"Ini Mommy aku! Mommy, culuh Daddy pelgi," papar Geno.


"Enak saja, kamu yang pergi sana. Pergi bermain dengan Pandi," balas Geo masih tidak ingin kalah.

__ADS_1


Pandi yang tadinya berceloteh kesal kepada Geno. Saat ini sudah terdiam dengan wajah bingungnya menatap perdebatan Geo dan Geno. Sedangkan Cara sudah menghela napas berat merasa frustasi dengan perdebatan Geo dan Geno. Bukan pertama kalinya sepasang ayah dan anak itu berdebat seperti ini. Sangat sering dan setiap hari Geo dan Geno berdebat tentang hal yang sama.


__ADS_2