
"Sekarang kau silakan pergi dari hadapanku Nona Gerisam, sebentar lagi aku akan kedatangan tamu," papar Rical santai.
Ceklek …. Jesy menoleh saat mendengar suara pintu dibuka. Mata gadis itu melotot saat melihat seorang wanita berpakaian seksi masuk dan mendekat ke arah mereka. "Hai Sayang." Wanita itu memeluk dan mencium Rical mesra.
Rical menoleh ke arah Jesy yang sudah menatap mereka benci. "Apa kau ingin menyaksikan adegan panas kami? Aku tidak masalah, atau mungkin … kau ingin ikut bergabung? Ayo kita bermain bertiga." Rical tersenyum miring ke arah Jesy yang sedang menatapnya marah.
"Brengsek." Jesy mengumpat, setelahnya perempuan itu pergi dari ruangan Rical dengan wajah marah.
Brak …. Jesy menutup pintu ruangan Rical dengan begitu kasar. Rical menatap kepergian Jesy dengan senyum miring. 'Wanita bodoh,' ejek Rical di dalam hati.
...*****...
"Bagaimana ini?" gumam Jesy kehilangan akal.
"Aku harus mencari cara, dia harus mau menikahiku," sambung Jesy.
"Siapa yang menikah Sayang?" Suara Sasdia mengejutkan Jesy, hal itu membuat Sasdia mengernyit bingung.
"Mama mengejutkanmu?" tany Sasdia.
__ADS_1
"Huh … iya Ma, aku hanya sedang berlatih dialog tadi. Aku ada penilaian di kampus," kilah Jesy.
"Maaf Mama jadi menganggumu," ucap Sasdia.
"Tidak, aku sudah selesai," balas Jesy.
"Tapi Sayang, kamu jangan terlalu keras dengan memaksakan kemampuan seperti itu. Akhir-akhir ini Mama perhatikan wajahmu begitu pucat, jangan terlalu keras berpikir." Kalimat Sasdia mampu membuat jantung Jesy berdegup lebih kencang.
'Apa iya aku pucat? Jangan-jangan ….'
"Jesy." Jesy kembali terkejut saat mendengar panggilan Sasdia kepadanya.
"Oh … tidak ada Ma, aku hanya merasa kurang enak badan saja akhir-akhir ini. Mungkin karena terlalu memaksakan otakku," kilah Jesy.
"Jangan dipaksa Sayang, nanti kamu sakit. Mama tidak mau kamu kenapa-napa," papar Sasdia khawatir.
"Biarkan saja dia berusaha, dengan berusaha keras saja dia masih belum bisa mengalahkan Cyra. Apa lagi kalau dia hanya bersantai." Torih yang baru saja sampai tiba-tiba ikut menyambar ke dalam pembahasan ibu dan anak itu.
"Kamu tidak boleh begitu Mas, Jesy sudah berusaha bahkan sampai dia tidak enak bedan seperti ini. Kenapa sekarang kamu malah membandingkan anak kita dengan anak gembel itu?" sanggah Sasdia tidak terima.
__ADS_1
"Tapi itu kebenarannya bukan? Nilai Cyra masih berada jauh di atas Jesy," ejek Torih santai.
"Kamu benar-benar keterlaluan Mas, dia anak kita," ucap Sasdia.
"Cyra juga anakku bukan?" sahut Torih santai.
Sasdia dan Jesy menatap Torih tidak percaya, Sasdia tertawa mengejek. "Sekarang kamu mengatakan kalau dia anakmu? Selama ini ke mana saja kamu Mas? Apa kamu lupa kalau dulu kamu adalah orang yang paling membencinya di dalam rumah ini, kamu bahkan hampir membuatnya mati waktu itu. Sekarang dengan santainya mengatakan kalau dia anakmu, munafik kamu Mas," sindir Sasdia.
Prang …. Torih membanting gelas yang berada di tangannya sambil menatap tajam ke arah Sasdia yang sempat terlonjak. "Kamu tidak usah membahas itu, ck … memang setiap aku pulang hanya akan membuat kepalaku semakin pusing." Torih pergi dari sana dengan wajah marahnya.
Sedangkan Sasdia dan Jesy hanya menatap itu dengan pandangan sendu. Kehidupan harmonis keluarga mereka benar-benar telah lenyap. Jesy meringis sambil memegang perutnya yang terasa begitu sakit. "Shh," ringis Jesy.
"Kenapa Sayang?" Sasdia mendekat ke arah Jesy dengan wajah khawatir.
"Shh … perut aku sakit Ma," ucap Jesy meringis.
"Kenapa bisa sakit? Kamu mau datang bulan? Tapi ini sudah tanggal dua puluh Sayang, bukankah kamu biasanya datang bulan tanggal empat, berarti kamu sudah selesai datang bulan bukan?" tutur Sasdia.
Jesy terdiam mendengar perkataan Sasdia, wanita itu baru menyadari hal penting itu. 'Bulan ini … aku belum datang bulan,' batin Jesy panik.
__ADS_1