
Geo duduk dengan tangan sibuk menggulir dan memainkan tablet di tangannya. Sesekali mata tajam itu melirik ke arah sang istri yang sedang sibuk dengan materi dan praktek senamnya. Kening Geo berkerut saat melihat laporan dari salah satu anggota Death.
Geo meraih telepon genggamnya dan mulai menghubungi Farel. "Di mana?" tanya Geo singkat.
"Di jalan, ke kampus Siera. Kenapa?"
"Kau sudah mengecek laporan dari anggota IT-mu?"
"Belum, ada apa? Ada yang tidak beres?"
"Perlu ditindak, cek secepatnya dan laporkan kepadaku," titah Geo.
"Okey." Setelahnya Geo mematikan sambungan telepon begitu saja. Belum selesai dengan telepon genggamnya itu, Geo sekarang menghubungi Juan sang wakil.
"Halo," sapa Alex di seberang telepon.
"Jam makan siang, kumpulkan seluruh kepala tanpa terkecuali. Cek laporan inti." Tanpa menunggu Alex untuk membalas kalimatnya, laki-laki itu kembali mematikan sambungan telepon begitu saja.
Sepertinya Geo akan menghubungi satu anggota inti Death lagi. "Yes, Ketua?" sapa Rical di sana.
"Persiapkan rancangan serangan sebelum jam makan siang. Cek laporan inti." Setelah mematikan sambungan telepon itu, Geo kembali fokus kepada tabletnya.
__ADS_1
Sebuah seringai iblis muncul di bibir laki-laki tampan itu. Namun, seringai itu menghilang saat mata tajam Geo menangkap pergerakan sang istri yang sedang mendekat ke arahnya. Geo berdiri dan mendekat ke arah Cara yang tampak sedikit kelelahan. "Lelah, Sayang?" tanya Geo.
"Lumayan untuk hari ini, mungkin karena sudah semakin besar juga baby kita," sahut Cara.
Geo menunduk sang istri untuk duduk di atas kursi tunggu. Setelahnya laki-laki itu mengambil botol mineral dan membuka penutup botol itu. "Minumlah, Mommy." Geo menyodorkan botol itu kepada Cara.
"Terima kasih, Daddy." Cara mengambil alih botol kecil itu dan meminum cairan jernih di dalamnya secara perlahan.
"Nanti ingin ikut ke markas, Sayang?" tanya Geo.
Cara menoleh ke arah Geo. "Ada apa di markas?" balas Cara balik bertanya.
"Tidak ada yang berbahaya kan, Kak?" tanya Cara khawatir.
Geo tersenyum sambil mengusap rambut Cara pelan. "Tidak, Sayang. Tenang saja, tidak usah dipikirkan," papar Geo.
"Kakak tidak bohong kan? Pikiran aku tidak tenang," pungkas Cara.
"Aku tidak bohong, Sayang. Jangan dipikirkan, nanti ikut aku ke markas. Nanti aku suruh Farel membawa Siera."
"Benarkan ini?" selidik Cara masih tampak tidak percaya.
__ADS_1
"Iya, Mommy. Mommy kamu tidak percaya sekali kepada Daddy, Sayang." Geo mengusap perut Cara dan mencium perut buncit itu gemas.
Cara terkekeh kecil melihat wajah datar Geo yang nampak sedang menahan gemas. Sepasang suami istri itu tidak menyadari jika sedari tadi aksi romantis mereka sudah menjadi pusat perhatian ibu hamil lainnya. "Seandainya suamiku seperti itu, adu … tidak akan pernah tua aku, karena perlakuan manisnya itu," celetuk seorang ibu hamil.
"Iya, sudahlah tampan, mapan, romantis pula. Tidak ada kekurangannya, kita sebagai wanita ini, memang membutuhkan laki-laki yang seperti itu."
"Benar, beruntung sekali jadi Ibu Cara. Pasti setiap hari hatinya selalu berbunga-bunga. Selama ini, bahkan suaminya tidak pernah absen ikut ke sini."
.
.
.
"Kak, akhir pekan nanti … kita pergi ke rumah kupu-kupu, ya." Cara bersuara dengan mata berbinar menatap sang suami.
"Rumah kupu-kupu?" tanya Geo.
"Iya, pasti akan sangat seru. Kita ajak yang lain juga. Ya, ya." Cara kembali menatap Geo dengan pandangan membujuk.
Geo terkekeh melihat wajah Cara. Laki-laki itu mencubit pipi tembam sang istri merasa begitu gemas. "Daddy apakan bagusnya Mommy kamu ini, Sayang? Gemas sekali, pipinya seperti bakpao," celoteh Geo gemas.
__ADS_1