Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
50. Kesakitan (lb)


__ADS_3

"Jadi kapan kita akan melakukan akadnya Tuan Carves?" tanya Torih.


"Terserah, aku tidak terlalu peduli," sahut Rical santai.


Sasdia menatap tajam Rical merasa tidak terima. "Kenapa kau berbicara seperti itu? Ini adalah pernikahan, bukan mainan," protes Sasdia.


Rical menatap Sasdia sambil tersenyum miring. "Bukankah ini semua berawal dari permainan anak Anda sendiri. Aku tidak salah di sini, jadi jangan berbicara seakan menyudutkan aku sebagai tersangka. Dalam hal ini tidak ada korban," ucap Rical datar.


"Jesy adalah putri kami satu-satunya, kami tidak terima kalau dia hanya dinikahi sirih. Kami menginginkan pesta besar," ujar Sasdia.


Rical tertawa sinis. "Masalah ini sudah kami bahas sebelumnya Nyonya Gerisam, jadi … jangan membuang-buang waktuku untuk hal ini lagi," balas Rical.


"Kau seharusnya tidak boleh seperti itu, kau laki-laki bukan? Jangan pengecut, bertanggung jawablah seutuhnya," geram Sasdia.


Rical tertawa keras. "Bertanggung jawab? Apakah keluarga kalian ini pantas membahas masalah tanggung jawab tentang ini? Lupa bagaimana sejarah keluarga kalian dengan Nyonya Vetro? Perlukah aku ingatkan kembali?" sindir Rical.


Sasdia dan Torih terkejut, sedangkan Jesy hanya diam sambil menghela napas kesal. "Sudahlah, lanjutkan saja. Aku tidak apa-apa Ma, setidaknya sampai anak ini lahir." Jesy menoleh ke arah Sasdia.


"Tidak bisa begitu Sayang, kenapa harus ada tes DNA segala? Kau yang menghamili anakku, seharusnya hal seperti jtu tidak perlu dilakukan," protes Sasdia lagi.


"Siapa yang tahu kalau anak Anda ini juga sudah bermain bersama laki-laki lain." Rical tersenyum remeh.


"Apa maksudmu? Anakku tidak seperti itu, jaga mulutmu!" teriak Sasdia marah.


Rical tersenyum miring. "Tidak seperti apa? Bukankah kalian baru mengetahui kalau anak kalian ini sedang mengandung, padahal belum menikah. Jadi Anda tidak tahu apa-apa saja yang dilakukannya di luar sana bukan?" Rical menatap Sasdia dan Torih bergantian.

__ADS_1


Sasdia dan Torih terdiam, apa yang dikatakan oleh Rical ada benarnya. "Cukup Rical, sekarang langsung saja kepada intinya," sela Jesy cepat.


...*****...


Cara dengan Geo sedang berjalan-jalan menikmati sore menjelang senja di sebuah taman yang sangat indah. Taman itu di kelilingi sungai kecil sehingga menambah kesan asri dari taman itu. "Capek Kak, duduk di sini dulu ya," ucap Cara.


Geo menunduk dan tersenyum tipis. "Baiklah, kamu duduk di sini dulu. Aku beli air di sana." Geo menunjuk sebuah kedai kecil di area taman, tidak jauh dari tempat mereka berada.


"Iya," sahut Cara. Setelahnya Geo mencium puncak kepala Cara dan pergi dari sana. Setelah kepergian Geo, Cara menoleh sekeliling dan meringis. Kebanyakan pengunjung taman adalah sepasang kekasih, atau mungkin sepasang suami istri seperti mereka. Namun, karena kebiasaan yang berbeda dengan negara Indonesia membuat Cara sedikit gamang. Sebab hampir semua pasangan itu melakukan hal romantis secara terbuka.


"Beberapa hari ke depan, aku sepertinya harus terbiasa dengan lingkungan di sini," gumam Cara.


Tatapan Cara yang sedari tadi mengedar terhenti kepada satu objek, Cara mengernyit saat melihat Geo yang sedang berjalan secara tiba-tiba ditabrak oleh seorang wanita. Cara mendengus saat dapat membaca gerakan disengaja, wanita itu sepertinya sudah memantau Geo dan sengaja menabrakkan diri kepada suaminya. "Wanita gatal itu." Cara mengumpat kesal sambil berdiri dari duduknya.


Sedangkan ditempat Geo, laki-laki itu sedang menatap datar wanita yang sekarang sedang meringis di atas tanah. "Shh, kakiku sakit. Hei, tidakkah kau ingin menolongku? Kau yang menabrakku, seharusnya kau bertanggung jawab," ucap wanita itu.


"Lepas," desis Geo tajam.


"Tidak akan, kau harus bertanggung jawab dulu," sahut wanita itu keras kepala.


"Le … pas!" tekan Geo mengulang kalimatnya. Wanita itu terkejut, dengan perlahan dia melepaskan tangannya dari kaki Geo. Sebab tatapan dan suara dingin Geo mampu membuatnya merinding.


"Sayang, kenapa?" Suara seseorang mengalihkan perhatian Geo dan wanita yang masih duduk di atas tanah itu.


Cara datang dan memeluk lengan kekar sang suami sambil melirik sinis ke arah wanita yang sedang menatapnya terkejut. "Kenapa By?" Cara mendongak menatap wajah Geo yang sempat menggelap.

__ADS_1


"Tidak Sayang, hanya kuman saja," sahut Geo.


Wanita itu melotot terkejut. "Hei, kau mengatakan aku kuman? Dia menabrakku, kakiku jadinya begitu sakit. Dia malah tidak mau bertanggung jawab," ucap wanita itu kepada Cara.


"Oh begitukah?" papar Cara pura-pura bertanya.


"Iya, dia harus bertanggung jawab dulu. Suruh dia menggendongku," ucap wanita itu.


"Sudah Baby, tidak usah dihiraukan. Ayo kita kembali ke sana, kamu sedang capek," ajak Geo.


"Tunggu dulu Kak," tahan Cara.


Cara menatap wanita yang masih duduk di atas tanah itu. "Jadi suamiku menabrakmu sampai kau jatuh seperti ini?" tanya Cara.


"Suami?" gumam wanita itu.


"Iya, dia suamiku. Kau pikir dia masih single?" ejek Cara.


"Eh, dia memang menabrakku. Jadi kau harus menyuruhnya untuk bertanggung jawab," balas wanita itu cepat.


Cara tersenyum miring. "Bagian mana yang sakit?" tanya Cara.


"Ini, kaki ku sakit." Wanita itu menjulurkan dan menunjuk kakinya sambil berpura-pura meringis. Cara mengangguk kecil sambil memiringkan kepalanya.


"Akhhh …." Tiba-tiba saja Cara menginjak kaki wanita itu sehingga membuat wanita itu menjerit kesakitan.

__ADS_1


"Bukankah kau mengatakan kalau kaki ini sakit? Aku kabulkan, aktingmu kurang bagus. Jadi … seperti ini baru namanya kesakitan." Cara tersenyum miring ke arah wanita itu.


__ADS_2