
"Apa kau? Ingin berkelahi? Ayo, ke sini kau." Lamira menggulung lengan bajunya dan menatap nyalang tiga perempuan dihadapannya.
Dani dan Tiwi hanya diam sambil menatap remeh Andini dan dua temannya yang sekarang nampak mulai memucat. "Apa kau, sok berani sekali kau," tutur Andini.
"Aku atau kau yang sok berani? Kau sudah aku ajak berduel, tidak kau tanggapi, berarti kau yang sok berani kan?" sinis Lamira.
"Aku berani, siapa yang takut kepadamu. Aku hanya tidak ingin bersentuhan dengan kulitmu itu. Tidak level, Papamu saja sudah tidak menganggap kau anak. Apa lagi aku, jijik berdekatan denganmu," balas Andini.
"Mulutmu itu benar-benar harus aku beri paham, biar tahu siapa Lamira."
"Akhh …." Andini berteriak saat dengan tiba-tiba Lamira menghampirinya dan menarik rambutnya kasar.
"Hei, kau sudah gila." Dua teman Andini yang berniat membantu dengan segera ditahan oleh Dani dan Tiwi.
"Shhh, lepaskan … sakit!" rintih Andini.
"Lepaskan Andini, kalian benar-benar sudah gila." Salah satu teman Andini memberontak kesal.
"Masih ingin mencari gara-gara kau denganku, heh?" Lamira mempermainkan kepala Andini yang saat ini sudah seperti kepala singa. Kekuatan Andini kalah jauh dari kekuatan Lamira yang memang begitu perkasa.
"Lepaskan, sakit! Lihat saja, aku akan melaporkan ini kepada Papaku. Aku jamin kau akan dapat masalah, kau tidak memiliki orang tua untuk membelamu," cerca Andini.
__ADS_1
"Silakan, aku tidak takut," tantang Lamira.
"Hei, apa yang kalian lakukan. Berhenti!" Suara melengking seorang guru mengalihkan perhatian Lamira dan yang lainnya.
Andini dan dua temannya tersenyum senang melihat itu. "Mampus kau, lihat saja … sebentar lagi kau akan aku buat memohon ampun," papar Andini.
"Memangnya aku takut?" Setelah mengucapkan kalimat itu, Lamira mendorong kepala Andini sampai wanita itu terjatuh.
"Akkh …." pekik Andini.
"Lamira!" tegur guru yang baru saja sampai di tempat kejadian.
Guru itu menatap tajam Lamira merasa begitu kesal. "Kalian semua bukannya belajar, malah berkelahi di sini," geram guru perempuan itu.
"Lamira yang lebih dulu menyerang kami, Buk," bela Andini.
"Benar, Buk," tambah dua teman Andini. Sedangkan Lamira hanya memutar bola matanya malas mendengar itu.
"Kalian semua ikut Ibu," titah guru perempuan itu tegas.
.
__ADS_1
.
.
"Lihatlah, ini semua ulah dia, Pak. Aku tidak terima, kepalaku sakit dan rambutku banyak yang rontok," keluh Andini.
"Benar kamu yang membuat Andini menjadi seperti ini Lamira?" tanya kepala sekolah.
"Benar, Pak," sahut Lamira jujur.
Mendengar itu Andini dan dua temannya tersenyum miring merasa sudah menang. Sedangkan kepala sekolah itu menghela napas pelan mendengar jawaban Lamira. "Kenapa kamu melakukan itu Lamira? Tidak baik bertindak dengan cara kasar, apa lagi dengan teman sekolah kamu sendiri," nasehat kepala sekolah.
"Dia bukan teman saya, Pak. Tidak sudi aku memiliki teman seperti mereka, apa lagi Andini. Dia selalu mengejek mendiang Mama saya," sahut Lamira cepat.
Andini yang mendengar itu melotot tidak suka. "Aku juga tidak sudi memiliki teman sepertimu, anak haram!" geram Andini.
"Andini!" tegur kepala sekolah.
"Aku sudah biasa mendengar hinaan seperti itu dari mulutnya, Pak. Tapi … hari ini kesabaranku sudah habis. Apa aku harus selalu sabar, boleh saja asal di dunia ini ada orang yang menjual stok sabar. Jadi disetiap stok sabarku habis, bisa aku beli lagi," tutur Lamira datar.
Kepala sekolah itu kembali menghela napas mendengar perkataan Lamira. Sepertinya saat ini dia sudah mengerti pokok permasalahan dua perkumpulan yang cukup terkenal di sekolah ini. Meski Lamira masih tergolong murid baru di sekolahnya, tapi wajah imutnya membuat Lamira dengan cepat dikenali dan disukai warga sekolah. Apa lagi saat mereka mengetahui, jika sifat Lamira yang tomboy, begitu bertolak belakang dengan wajah imutnya itu.
__ADS_1