
Sasdia dan Torih menatap interaksi antara Jesy dengan Rian dari kejauhan. Sepasang paruh baya itu merasa hati mereka menghangat melihat Jesy mulai memperlihatkan kemajuan. Meski sangat sedikit, tetapi itu sudah menjadi suatu hal besar bagi mereka.
"Aku yakin anak kita pasti bisa kembali seperti dulu kan, Mas?" ucap Sasdia.
"Tentu, Sa. Sudah tiga tahun lamanya, Dokter Rian terus berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada Jesy. Lihatlah sekarang anak kita sudah mulai menampakkan senyum tipisnya lagi," sahut Torih.
"Aku senang Mas, akhirnya penantian kita selama tiga tahun ini tidak sia-sia. Meski Jesy masih enggan mengeluarkan suaranya. Tapi aku sudah sangat senang melihat raut wajahnya tidak separah tahun-tahun sebelumnya," papar Sasdia.
"Iya, seperti yang Dokter Rian katakan, semuanya memang butuh proses. Bahkan Dokter Rian tidak menyangka, jika perkembangan Jesy akan lebih cepat dari perkiraannya," balas Torih.
"Iya, Mas. Sudah tiga tahun menunggu, aku baru kemarin mendengarkan suaranya kembali secara nyata. Meski kalimat yang dia ucapkan begitu menyayat hati, tapi aku sudah sangat senang," ucap Sasdia.
Wanita paruh baya itu terdiam sambil mengingat suara Jesy yang selama tiga tahun ini terkurung di dalam tenggorokannya. Meski kalimat Jesy membuat hatinya teriris, tetapi Sasdia tetap merasa senang dengan kemajuan itu. Wanita paruh baya itu menatap lurus ke arah sang putri, sambil mengingat kalimat yang diucapkan Jesy kemarin.
"Aku juga ingin bahagia."
Kalimat itu terus terngiang di telinga dan pikiran Sasdia. Apa sebegitu tersiksa dan tidak bahagianya Jesy sampai sang putri merasa begitu tertekan dengan kehidupannya saat ini. Torih yang tahu dengan isi pikiran Sasdia menepuk pundak sang istri pelan. "Jangan diingat lagi kata-kata itu, Sa," tutur Torih.
__ADS_1
...*****...
"Geno, coba lihat ini." Seorang anak laki-laki berusia tiga tahun memperlihatkan sebuah robot kecil di tangannya kepada anak laki-laki lain. Sedangkan anak laki-laki yang diajaknya berbicara, sama sekali tidak menghiraukan.
Melihat itu anak laki-laki yang tadi berbicara itu merasa kesal dan tidak terima diabaikan. "Geno! Lihat ini … aku bilang lihat ini!" pekik anak laki-laki itu marah.
"Kau belisik sekali, pelgi sana jangan menggangguku," sahut anak laki-laki yang dipanggil dengan nama Geno itu.
Merasa begitu kesal dengan sikap Geno yang selalu mengabaikannya, Pandi berteriak memanggil Cara. "Mommy … Mommy! Geno jahat!" teriak Pandi.
Sedangkan Cara yang mendengar teriakan Pandi, dengan cepat mendekat ke arah dua anak laki-laki berusia tiga tahun itu. "Ada apa? Kenapa berteriak?" tanya Cara.
"Itu, Geno tidak ingin membawaku main lagi," adu Pandi.
Sedangkan Geno saat ini sudah menatap Pandi dengan mata kesalnya. Mendengar aduan dari Pandi, Cara hanya bisa menghela napas berat. 'Kenapa sifat putraku ini begitu mirip dengan Daddy-nya? Irit bicara dan begitu dingin, padahal dia masih kecil seperti ini. Bagaimana kalau sudah besar nanti ya?' batin Cara meringis.
"Geno, Sayang. Jangan seperti itu, bermainlah dengan Pandi. Dia sudah sengaja datang ke sini hanya untuk bermain dengan kamu loh," bujuk Cara.
__ADS_1
"Tapi dia itu celewet cekali Mommy, telingaku cakit jadinya," sahut Geno dengan suara cadelnya.
"Aku kan hanya ingin melihatkan ini kepadamu," protes Pandi.
"Tapi jangan belisik!" balas Geno lagi.
Cara yang mendengar perdebatan antara dua anak laki-laki berumur tiga tahun itu. Hanya bisa menggaruk kepala belakangnya bingung. Padahal dua anak laki-laki itu berbicara saja masih begitu susah. Namun, mereka sudah bisa berdebat bahkan nampak begitu bijak.
"Mommy." Suara berat Geo mengalihkan perhatian Cara dari dua anak laki-laki di hadapannya.
Sedangkan Geo ikut menoleh ke arah dua anak laki-laki yang saat ini masih saja berdebat tidak jelas. "Mereka berdebat lagi?" tanya Geo.
"Yah, seperti yang Daddy lihat," balas Cara pasrah.
Melihat wajah frustasi milik istrinya Geo hanya bisa terkekeh kecil. "Aku heran saja, kenapa anak kita begitu menuruni sifat kamu? Irit bicara, dingin, datar dan tidak seperti anak pada seusianya," papar Cara heran.
Geo kembali terkekeh mendengar kalimat sang istri. Setelahnya laki-laki itu menoleh ke arah Geno dan Pandi. Nampak Geno masih memperlihatkan wajah cueknya, sedangkan Pandi terus berceloteh tanpa henti. "Melihat mereka, aku teringat masa kecilku dulu bersama Farel. Persis seperti ini," papar Geo.
__ADS_1