
"Kata dokter hari ini akan ada kedatangan psikolog muda dan berbakat ke rumah sakit. Nama Jessie menjadi salah satu pasien yang akan ditangani oleh psikolog muda itu," jelas Torih.
"Benarkah begitu, Mas?" tanya Sasdia.
"Iya, nanti kita bisa ikut melihat bagaimana cara mereka berinteraksi," tutur Torih.
"Wah, aku menjadi tidak sabar ingin segera melihat itu. Semoga saja dengan kedatangan psikolog muda ini, Jesy akan memiliki perkembangan, Mas. Aku sangat berharap," ucap Sasdia.
"Iya, semoga saja. Tapi jangan terlalu berharap kamu. Nanti kalau tidak sesuai harapan, kita juga yang akan semakin terpuruk," balas Torih.
Sasdia tersenyum mendengar kalimat Torih. "Iya, Mas. Saat ini, dapat melihat wajah anak kita saja setiap hari. Aku sudah merasa sangat senang," papar Sasdia.
"Apa kamu tidak ada niat untuk mendatangi Cara?" tanya Torih tiba-tiba.
Sasdia terkejut mendengar pertanyaan suaminya itu. "Maksud kamu, Mas?" tanya Sasdia.
__ADS_1
"Kita sudah sangat bersalah kepada Cara. Jika kepada Dea kita sudah meminta maaf, meski terlambat. Aku takut Jesy selama ini semakin tidak ada angsuran karena kita masih belum meminta maaf kepada Cara. Hati aku setiap harinya juga merasa ada yang mengganjal," terang Torih.
Sasdia terdiam dengar kalimat Torih yang ada benarnya. Wanita paruh baya itu menghela napas berat merasa apa yang dikatakan Torih juga dia alami. "Jujur saja aku juga merasakan hal yang sama, Mas. Apa yang kamu ungkapkan itu juga aku rasakan. Ada beban berat di dalam hatiku setiap hari dan itu membuat aku kesulitan untuk tidur. Mungkin memang karena kita belum minta maaf kepada Cara," lirih Sasdia.
"Jadi apa yang sebaiknya harus kita lakukan?" tanya Torih.
Sasdia menatap sang suami dengan pandangan bingung. "Aku juga tidak tahu, Mas. Jika kita meminta untuk bertemu dengan Cara, aku tidak yakin dia mau menemui kita. Aku begitu mengerti jika dia sangat membenci kita. Mungkin sampai saat ini dia masih belum terima dengan perlakuan kita selama ini. Aku bisa mengerti dan memang pikiranku terbuka baru kali ini," jawab Sasdia.
"Mungkin kita perlu mencobanya dulu. Jika dia memang tidak mau nanti, setidaknya kita sudah berusaha. Aku ingin segera melepaskan beban berat ini. Tidak sanggup rasanya untuk memikul kesalahan besar aku sebagai ayah kandung baginya, seumur hidup," ungkap Torih.
"Wah, perut kakak bulat sekali ya. Aku rasa saat aku hamil aku tidak sebulat ini," ucap Cara.
"Kamu kan hamil, Sie. Jadi kamu tidak tahu, kamu tidak melihat tubuh kamu secara jelas," balas Siera.
"Begitukah? Jadi perut aku juga sebulat ini waktu itu?" tanya Cara.
__ADS_1
Siera mengangguk menanggapi pertanyaan Cara. "Iya kamu bahkan lebih terlihat bulat, mungkin karena kamu lebih pendek dari Kak Marni," sahut Siera.
"Iya juga, Kak Marni kan tinggi sekali," pungkas Cara.
Wanita hamil yang dipanggil Marni itu hanya tersenyum mendengar perkataan Siera dan Cara. Sedangkan dua perempuan lainnya hanya diam dan sibuk dengan Geno. "Aku ingin sekali anakku nanti setampan Geno. Tapi kalau dia perempuan aku ingin nanti dia menjadi pendamping Geno," tutur Marni.
Cara terkekeh mendengar kalimat perempuan yang dua tahun lebih tua daripada dirinya. "Memangnya Kakak tidak melakukan USG?" tanya Cara.
"Tidak, Jarko tidak mengizinkan itu. Dia mengatakan ingin jenis kelamin anaknya menjadi sebuah teka-teki dan kejutan nantinya," jawab Marni.
"Iya juga," sahut Cara.
"Tapi setidaknya, saat anak Kakak lahir. Sudah dipastikan dia akan sepantaran dengan Geno," papar Siera.
"Benar, akhirnya Geno tidak sendiri nanti," balas Cara.
__ADS_1