
"Aaaaa …." Suara teriakan seorang bocah laki-laki mengejutkan orang-orang yang sedang berada di ruangan tamu. Bocah laki-laki itu menatap lurus pemandangan mengerikan di depan matanya.
Semua orang berbondong-bondong bergerak dan mendekat ke arah sumber suara. Begitu pula dengan Geo yang saat ini sedang mendorong kursi roda yang ditempati sang istri. Semua pasang mata menatap ke arah anak laki-laki berusia enam tahun, sedang berjongkok di samping pintu keluar dengan wajah pucatnya.
"Pandi, kamu kenapa, Sayang?" tanya Marni khawatir. Wanita itu mendekat ke arah sang putra yang saat ini sudah terdiam kaku dengan wajah pucat itu.
"I-itu, Ma. Geno." Pandi menunjuk ke arah kolam renang dengan wajah pucat.
Semua mata mengikuti arah tunjuk anak laki-laki itu dan terkejut melihat pemandangan di depan sana. Begitu pula dengan Cara dan Geo yang sudah melotot melihat ke arah putra mereka. "Dad, i-itu …."
"Tenang, Sayang," sela Geo cepat. Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah anak laki-laki berusia enam tahun itu secara perlahan.
"Geno," panggil Geno.
Anak laki-laki yang sedang berdiri di tepian kolam itu menoleh. Semua mata kembali dibuat terkejut dan tidak percaya saat melihat warna bola mata biru laut milik Geno, sekarang berubah menjadi hitam. Geo sempat mematung di tempatnya saat bola mata itu beradu tatap dengan matanya.
"Geno," panggil Geo lagi.
"Aku Taros," sahut anak laki-laki itu.
Deg …. Semua orang tertegun dan terdiam mendengar kalimat Geno. Tidak terkecuali Geo yang berada cukup dekat dengan sang putra. Geo menatap intens wajah putranya yang memang nampak sedikit berbeda.
__ADS_1
"Taros?" tanya Geo.
"Hem," deham Geno.
"Kamu yang melakukan semua ini?" Geo kembali bertanya sambil menunjuk seekor anjing yang sudah tidak bernyawa di bawah kaki Geno.
"Iya," sahut Geno.
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Geo.
"Dia sudah menyakiti Mamiku," desis Geno.
Kening semua orang berkerut mendengar kalimat Geno. Begitu pula dengan Geo yang saat ini nampak menatap datar ke arah putra tunggalnya itu. "Mami?"
"Maksud kamu, Mommy?" tanya Geo memastikan.
"Aku memanggilnya Mami, tidak ingin sama seperti Geno. Aku dan dia berbeda," ucap Geno.
Mendengar kalimat Geno, jelas saja semua orang yang berada di sana merasa bingung dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa Geno mengaku sebagai orang lain. Apalagi dia juga menyebutkan namanya sendiri dalam percakapan.
Geo nampak diam menatap wajah Geno yang masih saja datar tanpa ekspresi. Setelahnya laki-laki itu menatap bangkai anjing yang sudah tergeletak mengerikan di tepian kolam renang itu. Berlumuran darah, tepian kolam penuh dengan darah, begitu pula dengan tangan bocah laki-laki itu. 'Apa yang terjadi?' batin Geo.
__ADS_1
"Dad." Lamunan Geo terputus saat mendengar suara putranya. Ternyata Geno masih memanggil dia dengan panggilan Daddy.
"Yes, Boy," balas Geo.
"Aku ingin segera besar dan menghabisi apa saja yang menyakiti Mami," papar Geno.
Deg …. Semua orang kembali dibuat tertegun dengan kalimat anak laki-laki yang masih berusia enam tahun itu. "Kamu sudah besar, Boy," ucap Geo.
Secara perlahan, Geo mendekat dan berjongkok menyamai tingginya dengan sang anak. Laki-laki datar itu tersenyum hangat ke arah Geno. "Kamu memang sangat pantas untuk menjadi penerus Death. Ternyata, tanpa Daddy asah pun, kamu sudah bisa menjadi laki-laki tangguh yang sesungguhnya," bisik Geo.
'Bahkan aku tidak menyangka, kau tumbuh begitu cepat. Padahal aku berniat memulainya lada umurmu menginjak sepuluh tahun. Tapi jika sudah begini, aku bisa memulainya dari sekarang. Masalah Taros, sepertinya ini perlu aku bawa kepada yang ahli. geno harus aku bawa ke psikolog, aku harus tahu apa sebenarnya yang terjadi pada kepribadian putraku,' batin Geo.
Beberapa jam yang lalu, Cara mengalami kejadian yang cukup menegangkan dan menghebohkan. Wanita itu harus berurusan dengan seekor anjing gila yang entah bagaimana bisa menyelinap masuk ke dalam kediaman pemimpin Death itu. Anjing gila itu berhasil menggigit kaki Cara, meski hanya sedikit.
Cara dilarikan ke rumah sakit secepat mungkin. Sehingga Geo tidak sempat mengurus masalah anjing gila itu. Siapa sangka, ternyata sang putra sudah lebih dulu menghabisi binatang itu.
.
.
.
__ADS_1
Maaf, ya … aku masih sibuk banget🙏