Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
233. Hilang (lb)


__ADS_3

Tring … Tring … Tring …


Dalam keheningan itu, suara ponsel Rical berbunyi mengalihkan perhatian. Rical mengambil telepon genggamnya itu dan mengernyit saat melihat siapa yang menghubunginya. "Halo," sapa Rical.


"Tuan, Nona Helen masih belum kembali. Tadi dia sempat mengatakan kepada saya, kalau dia ada urusan sebentar. Saya sudah masuk mencari dirinya, tapi ada yang mengatakan dia nampak pergi menjauh dari lingkungan kampus. Saat ini saya masih mencari, tapi untuk masuk ke lingkungan kampus seluas ini, saya kesulitan sendiri, Tuan."


Mata Rical melotot mendengar perkataan pengawal pribadi Helen. Tangan laki-laki itu mengepal erat dengan rahang yang mengeras. "Fu**!" umpat Rical keras.


Seluruh manusia yang berada di sana terkejut mendengar teriakan marah dari laki-laki itu. "Tunggu di sana, dan terus bergerak," desis Rical.


"Baik, Tuan," balas laki-laki di seberang telepon.


"Ada apa?" tanya Alex.


"Rel lacak keberadaan Helen, dan kau bangsat! Di mana sepupu gilamu itu?" Rical mendekat ke arah Romy yang nampak bergerak ketakutan. Rasa sakit tangannya yang patah masih begitu terasa sakit. Dia tidak ingin menambah penderitaan.

__ADS_1


"Dia tadi mengatakan ingin ke kampus, aku tidak tahu. Mungkin sekarang dia di sana," balas Romy ketakutan.


"Brengsek!" Rical berteriak merasa begitu marah.


"Gudang lama kampus, cukup jauh dari area pendidikan." Kalimat Farel membuat Rical menoleh cepat. Setelahnya Rical menatap tajam ke arah Romy yang saat ini nampak begitu tertekan.


"Jika terjadi apa-apa kepada gadisku, aku jamin kau dan sepupu gilamu itu akan segera merasakan bagaimana sengsaranya berada di neraka Death," desis Rical.


Romy nampak terkejut mendengar kalimat Rical. "Ga-gadismu? Aku pikir dia lebih gila dengan menginginkan istri Geo," gumam Romy salah tangkap.


Kali ini perjalan itu dipimpin oleh Rical, lebih tepatnya didahului. Sebab laki-laki itu memacu mobilnya bak orang gila yang kesetanan. Geo yang melihat itu bergerak cepat mengikuti laju mobil Rical. "Ck, seharusnya aku mengambil alih mobilnya tadi. Apa dia ingin mati sebelum menolong Helen?" gumam Geo.


Beberapa menit perjalanan sekumpulan laki-laki itu. Mereka sudah sampai di kampus ternama itu. Seluruh pasang mata yang melihat segerombolan mobil dan motor yang begitu legendaris itu, merasa merinding sekaligus kagum. "Death? Ada apa, kenapa mereka datang ke sini dengan pasukan sebanyak ini?" ucap para mahasiswa bertanya-tanya.


Brum … Brum … Ckitt …

__ADS_1


Brak …. Rical keluar dari mobil dengan gerakan cepat. Laki-laki itu menoleh ke arah Farel yang sekarang sudah berjalan lebih dulu. "Cepat!" ucap Rical tidak sabar.


Seluruh mahasiswa yang berada di sana memilih menjauh dengan tangan memegang ponsel masing-masing. Jelas saja mereka mengabadikan momen itu dengan ponsel mereka. Sebab momen seperti ini jelas akan sulit mereka saksikan lagi. Meski mereka tidak tahu apa penyebab Death datang ke kampus mereka.


Para perempuan yang melihat empat laki-laki yang memandu jalan, merasa begitu terpana. Apa lagi kepada laki-laki yang berjalan paling depan, Geo Vetro. Laki-laki mengagumkan hanya hanya mampu dimiliki oleh Cara. "Belok kanan," ucap Farel.


Ratusan laki-laki terpilih itu mengikuti langkah kaki Geo yang sedang memimpin jalan. Rical di belakang Geo nampak sudah begitu tidak sabar. "Brengsek!"


Sepanjang perjalanan, Rical terus mengumpat merasa marah kepada dirinya sendiri yang tidak becus menjaga gadisnya. "Tenanglah, Cal," tutur Alex.


Mata Rical menangkap bangunan tua yang berdiri terpisah. Laki-laki itu berlari mendahului yang lain merasa tidak ada kesabaran lagi. Teriakan Helen mulai terdengar di telinga laki-laki itu. Jelas saja itu membuat Rical semakin merasa marah. "Tidak, jangan! Tolong … tolong …."


Melihat pergerakan Rical, seluruh anggota Death tanpa aba-aba langsung mengepung gudang tua itu. Saat ini bangunan tua itu sudah dikepung oleh ratusan anggota Death. Maka bisa dipastikan, tidak ada satu pun orang yang akan bisa kabur dari jeratan Death.


Brak …. Rical menendang pintu gudang itu, sehingga pintu yang cukup besar itu ambruk ke lantai. Mata Rical menggelap melihat pemandangan di dalam gudang itu. "Anj***!"

__ADS_1


__ADS_2