
"Jesy, anak Mama," panggil Sasdia. Saat ini Sasdia sedang berada di rumah sakit jiwa, tempat di mana Jesy dirawat. Wanita paruh baya itu datang sendiri sebab Torih saat ini masih bekerja di kafe.
"Mama tadi membeli roti storberi, memang tidak mahal, tapi enak. Mam sudah pernah mencobanya," tutur Sasdia mencoba membawa Jeay berinteraksi. Sasdia dan Torih saat ini memang sudah memiliki tempat tinggal baru. Sepasang suami istri itu menyewa satu kamar kost yang tidak jauh dari rumah sakit jiwa itu.
Mereka tidak sanggup untuk membayar kontrakan yang memiliki uang sewa lebih besar. Pada akhirnya mereka menyewa satu kamar kost yang rata-rata diisi oleh anak sekolah dan para mahasiswa. "Sayang, ini … makanlah." Sasdia menyodorkan sepotong roti kepada Jesy yang masih saja diam.
Jesy nampak diam, tetapi mulut wanita itu terus mengunyah roti yang disuapi Sasdia. "Papa hari ini tidak bisa datang, katanya tiba-tiba teman pergantian siftnya tidak datang. Jadi, Papa menggantikannya. Padahal Papa sudah sangat lelah, tapi dia masih saja memaksakan diri," papar Sasdia berbicara kepada Jesy, yang jelas saja tidak akan mendapat tanggapan.
Sasdia mendongak menatap langit sore yang nampak memerah. "Benar apa yang orang katakan, penyesalan itu datangnya terlambat. Mama … sudah tidak sanggup untuk membahas penyesalan lagi. Karena semuanya percuma. Mama berharap kamu segera sembuh dan kembali seperti dulu. Tidak apa-apa dengan kehidupan melarat ini, tapi … Mama ingin kamu sembuh."
Sasdia menunduk saat merasa matanya mulai berkabut. Bibirnya bergetar tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Sasdia memilih diam tidak ingin membuat Jesy ikut mengamuk. Wanita paruh baya itu diam beberapa menit sambil terus menyuapi sang anak. Sasdia menghela napas dalam sambil menatap wajah kosong Jesy.
__ADS_1
"Setidaknya Mama senang masih bisa melihat kamu di dunia ini. Meski dalam keadaan seperti ini. Mama mohon untuk tidak melakukan hal aneh lagi, Sayang. Mama bisa saja ikut bunuh diri jika kamu tiada," lirih Sasdia.
"Permisi, Bu." Suara seseorang mengalihkan perhatian Sasdia. Wanita paruh baya itu menoleh dan tersenyum tipis kepada seorang wanita yang merupakan salah satu karyawan rumah sakit itu.
"Nona Jesy sudah cukup lama di luar, tubuhnya pasti sudah lelah," papar karyawan wanita itu.
Sasdia mengangguk kecil sambil tersenyum menatap wajah anaknya. "Iya, Mbak. Saya juga akan segera pergi," balas Sasdia.
Karyawan wanita itu nampak tersenyum ke arah Sasdia. "Nona Jesy akhir-akhir ini lebih banyak diam. Ibu tenang saja, sepertinya kejadian waktu itu tidak akan terulang kembali." Perkataan karyawan itu membuat Sasdia tersenyum tipis.
Karyawan itu membalas senyum Sasdia. "Iya, Bu. Sudah menjadi tugas saya, kalau begitu saya pamit ingin membawa Nona Jesy kembali, Bu," pungkas karyawan itu.
__ADS_1
Sasdia mengangguk pelan. "Iya, Mbak. Silakan," sahut Sasdia.
Sasdia menatap punggung kecil putrinya yang mulai menjauh dituntun oleh karyawan wanita tadi. Wanita paruh baya itu kembali menunduk menatap kosong ke arah tanah. Entah apa yang dipikirkan wanita paruh baya itu, sampai dia tidak sadar jika tetesan air dari langit mulai turun.
...*****...
Seorang wanita paruh baya menatap sedih wajah pucat Cyra. 'Kamu wanita terkuat yang pernah Mama kenal. Kamu pasti bisa melawan hal yang membuat kamu tertahan di sana, Cara. Cepatlah bangun, anak kamu membutuhkan Mommynya,' batin wanita paruh baya itu.
"Ma." Suara Siera mengalihkan pandangan wanita paruh baya itu dari wajah Cara. Tiara, wanita paruh baya itu adalah Mama dari Siera. Hubungan baik Cara dengan Siera membuat Cara juga begitu dekat dengan Tiara dan Bagas, kedua orang tua Siera. Bahkan Tiara dan Bagas begitu menyayangi Cara selayaknya anak sendiri. Apa lagi saat Siera menceritakan kisah pahit kehidupan sang istri mafia itu.
"Papa sudah datang," ucap Siera. Tiara menoleh dan melihat keberadaan Bagas yang sedang berjalan mendekat ke arah ranjang.
__ADS_1
Bagas menatap tubuh tidak berdaya Cara yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Laki-laki paruh baya itu menghela napas pelan merasa sedih dengan keadaan Cara. "Apa masih belum ada kemajuan?" tanya Bagas kepada Siera.
"Belum, Pa," sahut Siera lemah.