Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
229. Semakin Bodoh (lb)


__ADS_3

Empat laki-laki tampan berjalan gagah keluar mansion Vetro. Geo memimpin jalan dengan gaya dingin seperti biasanya. Salah satu anggota Death dengan cepat membuka pintu mobil untuk sang ketua. "Jaga keamanan selagi aku pergi," titah Geo dengan nada tegasnya.


"Baik, Ketua," sahut mereka semua.


Empat laki-laki itu sudah masuk ke dalam mobil masing-masing. Beberapa mobil yang sudah menunggu sedari tadi mulai bergerak memandu perjalanan para inti Death itu. Geo memacu mobilnya dengan tampang dingin, aura yang sudah begitu lama terkubur seakan menguar kembali. "Sudah lama rasanya aku tidak merasakan ini," gumam Geo.


Perjalan para inti Death mengambil alih lebih dari separuh jalanan kota. Para pengguna jalan yang mengetahui kumpulan mobil itu milik siapa, mereka memilih menjauh dan menghindar. Beberapa menit, jalanan kota itu dikuasai oleh perkumpulan mafia tingkat internasional itu.


Beberapa menit berlalu, sampai perkumpulan mobil sampai pada sebuah lapangan luas. Puluhan mobil dan motor sudah nampak memenuhi lapangan luas itu. Geo memarkirkan mobilnya dan mulai memperhatikan sekitar. Mata tajam laki-laki itu menatap keberadaan Jarko yang saat ini nampak begitu tegang.


Geo tersenyum miring, secara perlahan laki-laki itu membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil sport itu. Geo memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Setelahnya laki-laki itu mulai berjalan mendekat ke pertahanan Tiger.


Sedangkan di bagian Tiger, seluruh anggota Tiger nampak menegang melihat wajah Geo secara langsung. Begitu pula dengan Jarko yang sempat tertegun. 'Auranya tidak main-main, dia bisa menekan sepuluh persen keberanian semua anggotaku hanya dengan tatapan itu. Memang gila,' batin Jarko.

__ADS_1


Seluruh anggota Jarko nampak menatap Geo dan tiga inti Death lainnya dengan tatapan kagum, takut dan tegang yang bercampur menjadi satu. "Ternyata aslinya mereka lebih mendominasi. Selama ini kita hanya mendengar beritanya, siapa sangka ternyata mereka lebih terlihat keren," bisik salah satu anggota Rical.


"Selamat malam, Tiger," sapa Alex santai.


Semua manusia itu tersadar saat mendengar suara berat Alex menggema di tempat sunyi itu. Termasuk Alex yang saat ini sudah menatap Alex dengan pandangan serius. "Aku tidak tahu apa permasalahan Tiger dengan Death yang selama ini baik-baik saja. Tapi tiba-tiba semua data-data Tiger malah kalian ambil alih. Aku hanya meminta data-data kami dikembalikan," ucap Alex.


Geo menyeringai mendengar kalimat Jarko. Sedangkan semua mata yang melihat seringai mengerikan itu sudah tercekat. Mereka menelan ludah merasa Geo mampu membuat mereka terdiam. "Apa pemimpin Tiger sudah berubah menjadi bodoh sekarang?" celetuk Geo datar.


Geo melangkahkan kakinya dengan gerakan santai. Secara perlahan pemimpin Death itu semakin mendekat ke arah Jarko. Melihat itu semua anggota Tiger nampak bersiap memasang kuda-kuda. "Anggotamu tanggap juga," papar Geo.


Jarko menatap wajah Geo yang saat ini tepat berada dihadapannya. Geo selayang lebih tinggi dari pada Jarko. 'Gila laki-laki ini, pantas dia menjadi penguasa. Bukan main,' ucap Jarko di dalam hati.


"Kau ingin data?" cetus Geo menyadarkan Jarko.

__ADS_1


"Iya," balas Jarko singkat.


Geo menatap pemimpin Tiger itu sejenak, setelahnya tersenyum miring. Geo memiringkan kepalanya menatap dingin ke arah Romy yang berada di belakang Jarko. Romy yang melihat tatapan dingin Geo, terkesiap di tempat sambil berusaha menelan ludahnya kasar. 'Dia melihatku?' batin Romy panik.


"Apa karena sudah semakin tua, kau semakin bodoh?" bisik Geo kepada Jarko.


"Bangsat!" geram Jarko.


Jarko yang merasa begitu terhina, mulai menyerang Geo. Laki-laki itu melayangkan tinjunya ke arah Geo yang masih nampak begitu santai menghindari serangan itu. Semua mata nampak tegang melihat pergelutan para pemimpin perkumpulan besar itu. Mereka menahan napas melihat Jarko yang terus menyerang, sedangkan tidak satu pun mampu mengenai Geo.


Ctak … Bugh …


Geo menyeringai saat Jarko melangkah mundur karena pukulannya. Hanya sekali pukulan, tapi mampu membuat sudut bibir pemimpin Tiger itu robek dan berdarah. 'Kemampuanku berada tiga tingkat di bawahnya,' batin Jarko.

__ADS_1


__ADS_2