
Rasa penyesalan dan rasa bersalah saat ini telah memenuhi setiap rongga dadanya. Jiwa Sasdia begitu terluka sampai membawa wanita itu ke dalam lubuk keterpurukan tanpa batas. Kondisi Jesy membuat Sasdia seakan kehilangan semangat hidup. "Aku tidak masalah jika harus hidup susah seperti ini. Tapi … aku ingin sekali Jesy kembali sehat seperti dulu. Aku ingin memeluk putriku seperti dulu. Aku ingin mencium Jesy seperti dulu. Aku ingin …."
Sasdia memukul dadanya yang terasa begitu sakit. Sesak di dalam jiwa masih belum terlepaskan sepenuhnya. "Tenang, Sa," tutur Torih cemas.
Sedangkan Cara yang berada tidak jauh dari sana, menatap sepasang paruh baya yang berada di makam bundanya dengan pandangan tidak dapat diartikan. "Perlu aku usir mereka, Baby?" tanya Geo.
"Tidak perlu, Kak. Niat mereka baik dengan meminta maaf kepada Bunda. Meski aku masih belum bisa memaafkan mereka sepenuhnya. Aku tidak akan mengganggu mereka lagi. Cukup sampai di sana, biarkan mereka menjalani kehidupan mereka tanpa menyeretku lagi," tutur Cara.
"Tidak perlu dipantau lagi?" tanya Geo.
"Tidak, aku tahu mereka sudah berubah. Meski dengan begitu, hatiku masih belum bisa menerima mereka. Kita besok saja ke sini, Kak." Cara menoleh ke arah Geo yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Baiklah, ayo." Geo kembali membukakan pintu mobil untuk sang istri.
...*****...
__ADS_1
"Istrinya akan segera melahirkan. Sepertinya bagus kalau kita mencari cela di saat itu," ucap seorang laki-laki.
"Aku yakin penjagaannya akan sangat ketat," tutur Bima.
"Kita bisa membuat rencana dari sekarang. Ayo kita culik anaknya nanti," ujar Bimo.
"Tidak semudah itu, Bimo," balas Bima.
"Kita bisa menyamar nanti, aku akan segera membuat kartu pengenal palsu untuk kita. Aku sudah tidak sabar. Sudah enam bulan setelah kematian Papa, kita masih belum bisa mendapatkan apa-apa. Laki-laki bangsat itu harus sengsara di tangan kita," geram Bimo
"Aku tahu, tapi kita butuh otak tenang untuk melawannya. Death bukan lawan biasa," papar Bima.
"Kalau memang gampang mengelabuinya, maka Papa tidak akan mati di tangannya. Maka kau tenanglah dulu, aku sedang berpikir," pungkas Bima.
Bimo memilih diam, memang apa yang dikatakan oleh Bima ada benarnya. Mendiang Papanya meninggal saat ketahuan berkhianat kepada Death. Bima dan Bimo adalah sepasang adik kakak kembar identik. Mereka berprofesi sebagai pembunuh bayaran dengan harga cukup mahal di negara Indonesia.
__ADS_1
"Aku dengar istrinya cantik, mungkin melalui dia kita bisa sedikit bermain. Tapi, mencari cela yang akan sangat sulit," tutur Bima.
"Kalau benar cantik kau ingin apa? Bermain? Kau saja belum pernah bermain dengan dengan wanita," ejek Bimo.
"Ck, bukan bermain itu maksudku bangsat! Lagi pula kau sendiri yang yang mengatakan kalau dia akan segera melahirkan. Pasti jadi longgar, lebih baik aku mencari perawan untuk permainan pertamaku," sahut Bima.
"Apa perlu kita berpesta dulu sebelum beraksi?" Bimo tersenyum miring ke arah Bima yang saat ini sedang mendengus malas.
"Kau saja, aku malas." Bima berdiri dari duduknya dan pergi dari sana meninggalkan sang saudara kembar.
"Kau rugi!" teriak Bimo.
"Setelah selesai, cepat temui aku ke ruangan eksekusi. Aku sedang ingin memotong tangan orang, atau kau tidak ingin kebagian?" tanya Bima sedikit berteriak.
"Tinggalkan aku lehernya," balas Bimo.
__ADS_1
"Makanya cepat, sebelum aku menghabisinya sendiri. Kau tahu aku paling tidak tahan melihat darah, aku bisa menghabisinya hanya dalam hitungan menit," tutur Bima.
"Tunggu tubuh Geo, kita buat menjadi seperti itu juga." Bimo bersuara sambil menyeringai licik.