
Helen berjalan santai di koridor kampus sambil membawa satu buku tebal di tangannya. Gadis itu berjalan sambil tersenyum ramah ke arah mahasiswa lain yang menyapa dirinya. Helen memang tidak memiliki teman dekat. Hanya Siera yang sesekali menemaninya, itu pun jika jadwal kuliah mereka kebetulan sama.
Bruk …. "Maaf," ucap Helen. Gadis itu tidak sengaja menabrak seseorang saat dia sedang fokus dengan telepon genggamnya.
"Tidak masalah." Helen mendongak dan tersenyum kikuk melihat laki-laki dihadapannya.
Sedangkan laki-laki yang baru saja ditabrak Helen, saat ini sedang menatap Helen dengan pandangan menilai. 'Bule? Cantik dan berisi juga, boleh ni,' batin laki-laki itu kotor.
"Kamu mahasiswi baru di sini? Aku baru melihatmu sekarang," ucap laki-laki itu.
"Maaf, aku belum begitu mengerti bahasa Indonesia," balas Helen canggung.
"Oh, kamu murid baru?" ulang laki-laki itu menggunakan bahasa Inggris.
"Mungkin masih termasuk baru, tapi aku sudah hampir lima bulan di sini," sahut Helen.
"Benarkah? Mungkin aku yang jarang masuk kuliah," balas laki-laki itu. "Oh, perkenalkan namaku Rizal. Boleh tahu siapa namamu?" sambung laki-laki itu.
__ADS_1
"Aku Helen," balas Helen ramah. Laki-laki yang bernama Rizal itu mengangguk pelan sambil menatap Helen dengan senyum tidak dapat diartikan.
...*****...
Brak …. Rical menendang pintu gudang itu, sehingga pintu yang cukup besar itu ambruk ke lantai. Mata Helen menggelap melihat pemandangan di dalam gudang itu. "Anj***!"
Bugh … Brak …
Rizal terpelanting jauh ke sudut ruangan karena tendangan Rical. Laki-laki itu meringis merasakan tulang punggungnya seakan terasa patah saat ini. Sedangkan pemandangan Rical saat ini sudah menggelap kehilangan kendali.
Tubuh Helen sudah nampak sangat memprihatinkan. Pipi lebam dan baju robek hampir telanjang. Belum lagi dengan banyaknya tanda merah di leher gadis itu membuat Rical begitu murka. Helen sudah meringkuk di atas lantai, gadis itu merasa begitu ketakutan saat ini.
Alex yang baru sampai di dalam ruangan kumuh itu, dengan segera berjalan mendekat ke arah Helen yang nampak bergetar ketakutan. Alex melepas jas kantornya dan menyampirkan benda itu ke tubuh terbuka Helen. Setelahnya laki-laki itu menoleh ke arah Rical yang nampak sudah kalap. Keadaan Rizal bahkan sudah seperti daging yang seakan terkoyak binatang buas, mengerikan.
"Rical!" panggil Alex.
Namun, Rical seakan tidak mendengar dan tidak menghiraukan panggilan Alex. Melihat itu Alex melirik singkat ke arah Helen yang nampak semakin ketakutan. "Rical! Lebih baik kau bawa Helen pergi dari sini," teriak Alex.
__ADS_1
Sukses, teriakan itu sukses membuat pergerakan Rical terhenti. Laki-laki itu menoleh dan membalikkan badannya. Namun, sebelum itu, Rical masih menyempatkan untuk menendang tubuh Rizal tanpa ampun.
Rical berjalan ke arah Helen, tangan laki-laki itu terkepal erat saat melihat banyaknya tanda merah di tubuh gadisnya. "Bangsat," desis Rical.
Sekuat tenaga laki-laki itu mencoba mengontrol emosinya. Rical memejamkan matanya sejenak dan menarik napas dalam. Setelahnya laki-laki itu berjongkok dan berniat menyentuh Rical. Namun, Helen dengan cepat mengelak dan menjerit ketakutan. "Jangan! Jangan sentuh aku! Tolong … tolong!"
Hati Rical berdenyut sakit mendengar jeritan pilu gadis dihadapannya. Laki-laki itu menatap sendu wajah Helen yang nampak sudah lebam. Bibir Helen juga membengkak dengan segumpal darah di bibir bawahnya. "Bawa bajingan itu ke markas, aku yang akan menjadi malaikat pencabut nyawa ya," desis Rical.
"Kau bujuk Helen cepat, dia sepertinya sangat terguncang," tutur Alex.
Rical kembali berusaha mendekat, tetapi hasilnya sama. Helen kembali berteriak ketakutan dengan tubuh bergetar hebat. "Jangan! Apa salahku? Jangan sentuh aku!"
"Hei, tenanglah. Ini aku, aku Rical. Tenanglah," ucap Rical mencoba menenangkan Helen.
"Kenapa?" Geo dan Farel yang baru saja masuk menoleh ke arah Helen. Dua laki-laki itu terkejut melihat keadaan Helen yang jauh dari kata baik-baik saja.
"Sh**! Jika Cara tahu keadaan Helen, dia bisa marah besar," gumam Geo.
__ADS_1