Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
81. Mengikuti atau Melawan (lb)


__ADS_3

"Apa kau ingat kejadiannya? Apa perlu aku contohkan lagi, supaya kau ingat jelas?" tutur Cara dingin.


Sasdia mendongak dengan wajah benci. "Jangan kau sentuh anakku lagi," geram Sasdia.


"Oh … sepertinya Anda masih belum mengingatnya." Cara membalikkan badannya ke arah Jesy yang sudah ketakutan.


"Jangan!" teriak Sasdia.


Plak … plak …


Kali ini tamparan Cara mampu membuat sudut bibir Jesy mengeluarkan darah. Jesy yang sedari tadi memberontak, sekarang sudah meringis kesakitan. Bruk …. Wanita itu terduduk merasakan tamparan Cara tidaklah main-main. Sedangkan Sasdia yang melihat itu semua sudah menangis histeris.


"Jangan sakiti putriku." Sasdia berteriak di sela air mata yang sudah membanjiri pipinya. Bruk …. Sasdia ikut terduduk merasa tidak mampu menopang tubuhnya yang terasa lemas.

__ADS_1


Sedangkan Cara, wanita itu masih saja bertahan dengan wajah dinginnya. Perkataan Sasdia yang sempat menyinggung mendiang bundanya tadi, sukses membangkitkan jiwa iblis yang dibentuk Geo dalam dirinya. "Aku peringatkan … jangan pernah menyinggung mendiang bundaku lagi, jika kalian masih ingin hidup lama," desis Cara.


"Lepaskan mereka," titah Cara. Dengan patuh, para pengawal dan pelayan yang menahan tangan Sasdia dan Jesy melepaskan cekalannya. Tepat saat Sasdia lepas dari para pengawal, dengan cepat wanita paruh baya itu mendekat ke arah Jesy yang sedang menangis sakit. Sasdia meraung melihat kondisi waja putrinya. Muka merah yang mungkin sebentar lagi akan membengkak atau lebam.


"Aku beri kalian pilihan, ingin melawan seperti yang kalian lakukan tadi. Atau … mengikuti permainanku, sama seperti mendiang bundaku dulu," ucap Cara.


"Apa maksudmu?" desis Sasdia.


"Mulai hari ini, kalian harus mengikuti semua perintahku sebab kalian adalah babuku. Tanpa terkecuali, apa pun itu harus kalian lakukan. Semua pilihan ada di tangan kalian, aku tidak memaksa. Ingin melawan atau mengikuti?" balas Cara.


"Jawablah!" tegas Cara.


Sasdia dan Jesy terlonjak, dengan begitu terpaksa mereka harus menguikuti permainan Cara. Mereka tidak ingin Cara semakin gila dari ini. "Baiklah, kami akan mengikuti perintahmu. Tapi … tidak bisakah sekarang kau memanggil dokter untuk Jesy?" tutur Sasdia.

__ADS_1


Cara tertawa keras mendengar perkataan itu. "Babu meminta dipanggilkan dokter? Sadar dirilah, urus sendiri. Oh … atau kau ingin membawa putrimu ini pulang?" papar Cara.


"Apa boleh?" tanya Sasdia.


Cara terkekeh sinis. "Tentu saja, aku tidak melarang. Tapi … aku yakin selangkah Jesy pergi dari sini, Tuan Carves akan segera menceraikannya. Terus, apa Tuan Gerisam masih menerima putrinya ini?" ledek Cara.


Sasdia dan Jesy terdiam, mengingat Torih. Jelas saja laki-laki paruh baya itu tidak akan tinggal diam. Torih merasa begitu malu dengan pernikahan tiba-tiba yang dilakukan Jesy. Jika Jesy pulang dengan keadaan perut membuncit, jelas saja laki-laki itu akan semakin marah. "Tidak usah pulang Ma," lirih Jesy.


Sasdia menatap sendu ke arah putrinya. "Terus kita harus bertahan di sini, dengan semua ini?" tanya Sasdia.


"Kita coba jalani dulu, mana tahu ke depannya Rical bisa tergerak olehku," bisik Jesy.


Cara tersenyum remeh mendengar bisikan Jesy. "Sudah selesai musyawarahnya? Waktuku tidak banyak, sopir suruhan suamiku sudah datang menjemput," tukas Cara.

__ADS_1


"Aku akan tetap di sini, lagi pula ini adalah mansion suamiku. Aku rasa belum tentu kau akan diizinkan masuk untuk kedua kalinya," tutur Jesy sinis.


Cara mengangguk singkat sambil tersenyum miring. "Terserah kau, kita lihat nanti saja kalau begitu. Aku juga ada sesuatu tentang gosip permusuhan suamiku dengan Tuan Carves. Tapi, aku beri tahu kalian besok saja yah. Sebelum itu, persiapkan mental." Cara tersenyum miring.


__ADS_2