Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
116. Kabut Gairah (lb)


__ADS_3

Cara memeluk tubuh Geo erat, sedangkan Geo terus berjalan membawa tubuh sang istri ke dalam kamar utama. Geo membaringkan tubuh Cara di atas ranjang dan mencium pipi sang istri. "Aku bersih-bersih dulu, ya Baby," bisik Geo.


"Engh … aku ikut," tutur Cara serak.


"Aku hanya sebentar, Sayang," ucap Geo.


"Ikut," ulang Cara.


Geo tersenyum, kemudian laki-laki itu memilih berbaring di samping sang istri dan memeluk tubuh Cara hangat. "Tidurlah, aku di sini," bisik Geo.


Cara melenguh kecil kala mulut nakal Geo menjalar pelan di area belakang telingannya. "Kak," panggil Cara tertahan


"Hemm," deham Geo lembut.


"Nanti tidak jadi tidurnya," gumam Cara.


Geo tersenyum mencium wajah sang istri gemas. "Aku tidak apa-apa, ingin berapa permainan malam ini?" goda Geo.


Cara membuka sedikit matanya dan tersenyum manis melihat wajah tampan sang suami. "Inginnya berapa?" Cara balik bertanya sambil mengusap rahang kekar laki-laki tampan itu.

__ADS_1


"Sekali saja, cukup dengan menyapa baby kita di sana. Kamu tidak boleh kelelahan, Sayang." Geo mengungkung tubuh mungil Cara.


"Kalau baby kita yang ingin lebih dari satu, bagaimana?" goda Cara. Wanita itu mengusap perut kekar suaminya dan mengecup lembut dada kiri Geo.


"Kamu semakin nakal, Baby." Suara serak Geo dan mata berkabut gairah membuat Cara tersenyum tipis.


Geo mendekat dan mulai mengecup leher putih istrinya. Bahkan tanpa sadar laki-laki itu meninggalkan jejak kemerahan di sana. Aksi panas pun mulai berlangsung. Sepasang suami istri itu bergelut manja di atas ranjang kingsize itu.


...*****...


"Apa?" Sasdia sedikit berteriak karena begitu terkejut.


"Terus kita harus apa sekarang, Mas?" tanya Sasdia lesu.


"Aku tidak tahu, aku pun sudah hampir gila rasanya," tutur Torih frustasi.


"Kalau rumah kita disita, lalu kita akan tinggal di mana nantinya, Mas. Perusahaan jelas akan segera gulung tikar," papar Sasdia.


"Untuk persiapan, kalian minta izinlah kepada Tuan Sunder untuk ikut menampung aku di sana. Aku sudah tidak memiliki solusi, semua rekan kerjaku lari dan pura-pura tidak mengenalku. Mereka memang brengsek," tutur Torih marah.

__ADS_1


Sasdia terdiam, meminta izin kepada Erick adalah suatu hal yang sulit bagi mereka. "Bagaimana kalau dia tidak mengizinkannya, Mas?" pungkas Sasdia.


"Kau cobalah dulu, kenapa malah mengatakan tidak bisa. Apa pun itu, bujuklah dia. Aku akan tinggal di mana lagi? Kalian enak-enak di sana, sedangkan aku harus terlantar?" murka Torih.


Sasdia kembali terdiam, setelahnya wanita paruh baya itu menghela napas berat. "Akan aku coba, Mas. Kami akan berusaha," balas Sasdia pelan.


"Ada apa, Ma?" Jesy kembali bertanya saat melihat Sasdia sudah menyelesaikan kegiatan meneleponnya.


Sasdia menghela napas berat sebelum memulai kalimatnya. "Perusahaan kita semakin kacau, perkataan Cara waktu itu tidak main-main. VT Group mulai mengambil saham mereka. Kemungkinan perusahaan kita tidak akan bisa bertahan lagi, bahkan sampai besok pagi," jelas Sasdia lesu.


Jesy terkejut mendengar itu, wanita itu menunduk. "Terus kita harus apa sekarang, Ma?" tanya Jesy pelan.


"Hutang sudah menumpuk dan kita tidak sanggup membayarnya. Rumah kita disita, dan besok harus sudah dikosongkan," sambung Sasdia.


Jesy mendongak dan melotot terkejut. "Ma," panggil Jesy serak.


Sasdia masih diam menatap lurus dengan tatapan kosong. Perlahan tetesan air mata mulai berjatuhan. Jesy yang melihat wajah frustasi milik Mamanya ikut menangis. Wanita hamil itu memeluk tubuh kaku Sasdia sambil terisak kecil. "Sepertinya hidup senang kita benar-benar sudah berakhir, Jes. Sudah tidak ada harapan lagi," lirih Sasdia.


"Maafkan aku, Ma. Ini semua karena aku yang tidak bisa meluluhkan Rical, aku memang tidak berguna. Pantas Papa marah kepadaku," isak Jesy.

__ADS_1


"Tidak, Sayang. Ini bukan salah kamu, kamu korban di sini. Ini semua karena wanita kurang ajar itu, dia membuat kehidupan kita menjadi seperti di neraka," desis Sasdia.


__ADS_2