
Satu minggu berlalu, Rical dengan Jesy sekarang resmi menjadi pasangan suami istri menurut agama. Rical menatap datar Jesy. "Aku masih banyak urusan, kau datang sendiri ke mansionku." Setelah mengucapkan itu Rical pergi begitu saja.
Jesy yang berniat menyanggah diurungkan saat melihat Rical sudah menjauh. Wanita itu mendengus kesal, sedangkan Sasdia menatap sendu putrinya. "Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Sasdia.
"Tidak apa-apa Ma, mulai nanti aku akan memulai aksiku." Jesy tersenyum senang.
Sasdia terdiam. "Hah … padahal Mama masih belum siap berpisah denganmu," lirih Sasdia.
"Ini semua demi kehidupan bahagia kita ke depannya Ma. Aku akan sering pulan ke rumah," ucap Jesy.
"Janji ya, Mama pasti akan kesepian di rumah sendiri," balas Sasdia.
"Iya, Mama datang saja ke mansion Rical. Secara tidak langsung mansion itu juga menjadi milikku sebagai istrinya bukan?" papar Jesy angkuh.
Sasdia tertawa. "Iya, nanti Mama akan sering ke sana," sahut Sasdia.
"Sudah bukan? Sekarang kau silakan kemas barang dan pergi ke kediaman Sunder. Jangan membuat Tuan Carves itu marah, buat dia takhluk," sela Torih tiba-tiba.
"Mas, kenapa kamu menyuruh Jesy cepat pergi? Biarkanlah dia di sini sebentar lagi, kau terlihat sedang mengusirnya," protes Sasdia.
"Aku memang mengusirnya, dia bukan tanggung jawabku lagi," sahut Torih santai.
Sasdia menatap Torih tidak percaya. "Mas! Kamu benar-benar keterlaluan," geram Sasdia.
"Apa? Memang benar bukan? Bagus juga kau menikah, pengeluaranku menjadi berkurang. Sudahlah, aku sedang tidak ada waktu untuk berdebat. Cepat kemasi barangmu dan pergi ke mansion Tuan Carves," ujar Torih.
__ADS_1
Sasdia menggelengkan kepalanya sambil menatap Torih nanar. "Sudah Sayang, kamu di sini saja dulu. Sebentar lagi baru ke sana," papar Sasdia.
"Apa yang Papa katakan benar Ma, aku harus mulai berusaha membuat Rical jatuh. Semakin cepat, semakin baik bukan?" sahut Jesy. Mendengar itu Sasdia hanya bisa menghela napas panjang.
.
.
.
Jesy menatap kagum bangunan mewah dihadapannya. "Turun!" titah Torih.
Jesy keluar dari mobil, Torih membuka bagasi mobil dan mengeluarkan koper yang cukup besar dari sana. "Ini, masuk dan keluar dengan membawa berita bahagia. Mengerti?" tutur Torih.
"Iya Pa, aku akan berusaha," sahut Jesy.
Wanita itu menatap tidak suka ke arah Jesy. Namun, dia tetap mendekat dan mengambil alih koper di tangan Jesy. "Tunjukkan kamar utamanya," sambung Jesy.
"Maaf Nyonya, tapi … Tuan Carves sudah berpesan untuk membawa Nyonya ke kamar tamu," ujar pelayan itu.
Jesy melotot terkejut. "Apa? Aku ini istrinya Rical, kau tahu!" bentak Jesy.
"Maaf Nyonya, saya hanya mengikuti perintah Tuan Carves," sahut pelayan itu.
Jesy mengepalkan tangannya marah. "Brengsek," umpat Jesy.
__ADS_1
"Mari Nyonya, saya antar ke kamar Nyonya," ajak pelayan itu.
Jesy dengan terpaksa mengikuti langkah kaki pelayan itu. Kening Jesy berkerut saat melihat sang pelayan membawanya ke area sedikit ke belakang. "Tunggu, kau ingin membawaku ke mana?" tanya Jesy.
Pelayan itu menoleh. "Kamar Anda Nyonya," sahut pelayan itu.
Jesy mengerutkan keningnya. "Di lantai satu dan … ke belakang seperti ini?" tanya Jesy.
"Iya Nyonya, ini semua pesan dari Tuan Carves," papar pelayan itu.
"Apa?" teriak Jesy.
Pelayan itu sempat terkejut mendengar teriakan Jesy. "Mana kamarnya?" desis Jesy bertanya.
"Itu, pintu sebelah kiri Nyonya." Pelayan itu menunjuk sebuah pintu yang tinggal beberapa langkah lagi dari sana.
"Cepat buka." Jesy berjalan cepat ke arah pintu itu dan menyuruh pelayan itu membukanya.
Cklek …. Jesy melotot tidak percaya, mulutnya sudah menganga melihat isi kamar yang sangat kecil itu. "Kau yakin Rical menyuruh aku di sini? Aku istrinya, bukan pembantunya," geram Jesy.
"Benar Nyonya, ini pesan Tuan Carves," sahut pelayan itu.
"Rical brengsek, apa maksudnya?" Jesy meraih ponselnya sambil menggerutu marah. Wanita itu dengan segera menghubungi nomor laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.
"Hemm?" sahut Rical di seberang telepon.
__ADS_1
"Apa maksudmu menyuruh aku tidur di kamar jelek seperti ini?" teriak Jesy.
"Kamar jelek? Oh … kau sudah sampai di mansionku? Aku mengucapkan selamat datang kepadamu, kamar itu sesuai untukmu. Aku bahkan rencananya ingin meletakkanmu di bagian yang lebih ke belakang lagi. Tapi sekarang aku sedang dalam mode baik," jelas Rical santai.