Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
227. Tobat (lb)


__ADS_3

"Mereka mulai bergerak, jadi bagaimana sekarang?" tanya Alex.


Geo hanya diam dengan wajah datarnya sambil mengetuk-ngetuk meja pelan. "Bersiap," cetus Geo.


"Berapa anggota?" tanya Alex lagi.


"Satu per delapan cukup," balas Geo.


Alex mengangguk kecil menanggapi perkataan Geo. "Mereka mengerahkan semua anggota, aman kalau kita hanya membawa satu per delapan?" tanya Rical.


Geo menoleh ke arah Rical kemudian tersenyum miring. "Jadi kau tidak percaya dengan kemampuan anggota Death?" balas Geo balik bertanya.


"Bukan, hanya saja aku ingin semua ini cepat selesai. Aku sudah muak dan tidak sabar," sahut Rical.


Geo mengangguk pelan mendengar kalimat Rical. "Jarko memang nampak hilang kendali, tapi dia masih mampu menahan amarah dan akal sehatnya. Aku yakin, nanti dia tidak akan langsung menyerang," ungkap Geo.


"Iya, kau dengar sendiri jika Elzar nampak ragu dengan bukti dari Romy. Jadi sepertinya mereka masih ingin bermain damai," kata Alex.


"Terus bagaimana dengan si bedebah itu?" geram Rical.


"Kau tenanglah, dia masih diam di tempatnya," balas Farel.


"Sekarang bergerak," titah Geo. Laki-laki itu berdiri dari duduknya dan berniat keluar dari ruangan kerjanya. Namun, langkah kaki Geo terhenti saat laki-laki itu mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Jangan lupa minta izin kepada para Nyonya, kalau kalian masih ingin aman," pesan Geo. Tiga laki-laki yang sedang berdiri di belakang Geo saling pandang.


"Iya juga," celetuk mereka serentak.


...*****...


"Ck, dia berbohong. Katanya dia yang menjemputku, kenapa dia malah ada di sini?" Siera menggerutu kesal sambil menatap sebuah mobil yang begitu dikenalinya.


Gadis itu berjalan ke dalam mansion Vetro dengan raut kesal. Dia berpikir jika orang yang menjemputnya pulang dari kampus adalah Farel. Ternyata Farel malah menyuruh salah satu anggota Death untuk menjemputnya. Raut wajah kesal Siera menghilang saat melihat keberadaan Cara di ruangan tengah. Wajah gadis itu tiba-tiba nampak semangat mendekat ke arah Cara.


"Ra," panggil Siera semangat.


Cara menoleh menatap wajah Siera dengan kening berkerut. "Kenapa, Sie? Nampaknya kamu sedang senang," tutur Cara.


Cara nampak semakin bingung sekaligus penasaran. "Berita apa?" tanya Cara.


"Berita yang sedang hot dan menjadi rank satu di kampus saat ini. Aku saja terkejut," ungkap Siera.


Mendengar itu Cara nampak semakin penasaran. "Apa, Sie?" tanya Cara tidak sabar.


"Ini tentang Jesy," ucap Siera.


Cara nampak bingung saat nama Jesy diucapkan oleh Siera. "Kenapa dia? Dia sudah kembali ke kampus?" tanya Cara menebak.

__ADS_1


Siera menggeleng cepat menanggapi pertanyaan Cara. "Bukan, tunggu sebentar. Biar aku perlihatkan kepada kamu."


Cara dia menunggu Siera yang nampak sibuk dengan telepon genggamnya. Rasa penasaran wanita itu semakin menjadi saat melihat Siera nampak begitu serius. "Ini, Ra."


Cara mengambil alih telepon genggam itu dan membaca judul artikel itu. "Mantan primadona kampus yang dulu begitu angkuh dan sombong. Sekarang berakhir mengerikan, di jeruji rumah sakit jiwa."


Cara yang baru saja selesai membaca judul artikel itu menoleh cepat ke arah Siera. "Kamu pencet saja, di sana ada sebuah video yang membuat mahasiswa bahkan dosen heboh," tutur Siera.


Dengan rasa penasaran yang semakin tinggi, Cara mulai memencet halaman artikel utama kampus itu. Secara perlahan sebuah video mulai terputar di layar ponsel Siera. Mata Cara melotot melihat itu semua. Tatapan mata Cara yang melihat kejadian itu tidak dapat diartikan. Entah senang, sedih, haru, kasihan atau yang lainnya.


"Aku sangat terkejut, aku tidak menyangka dia akan separah itu. Aku pikir dia sudah lebih baik, tapi yang aku herankan … siapa yang merekam dan mendapatkan video ini?" tutur Siera.


Cara menghela napas pelan sambil mengembalikan telepon genggam milik Siera. "Biarlah, aku sudah tidak ingin membahas mereka. Aku sudah melepaskan mereka, meski sejujurnya di dalam hatiku masih ada segores dendam. Aku hanya berusaha untuk mengalah, aku rasa cukup dengan semua yang sudah mereka dapatkan sejauh ini," cetus Cara.


Siera terdiam menatap wajah Cara yang nampak sedikit sendu. Mungkin wanita itu saat ini sedang mengingat penderitaan mendiang Dea, begitu pula dengan penderitaan dirinya selama bertahun-tahun lamanya. Goresan luka selama bertahun-tahun itulah, yang begitu sulit dihilangkan dan dihapus oleh Cara. Bahkan sampai saat ini wanita itu masih sedang berusaha.


"Maaf kalau aku menjadi mengingatkan kamu tentang masa lalu," papar Siera merasa bersalah.


Cara mendongak dan terkekeh kecil ke arah Siera. "Tidak, Sie. Aku tidak apa-apa. Aku juga cukup penasaran dengan keadaan Jesy. Sebab waktu aku hamil sembilan bulan kemarin, aku melihat Tuan dan Nyonya Gerisam itu di makam Bunda," ujar Cara.


Siera nampak terkejut mendengar kalimat Cara. "Apa yang mereka lakukan di sana?" tanya Siera penasaran.


"Aku tidak mendengar dengan jelas, tapi sayup-sayup kudengar mereka meminta maaf. Aku juga melihat wanita itu menangis, yang lucunya … aku mendengar dia meminta untuk mencabut kutukan dari Jesy." Cara tertawa saat mengingat kejadian satu bulan yang lalu.

__ADS_1


"Benarkah? Wah, sepertinya mereka sudah tobat dan sadar dengan kesalahan ya," cetus Siera.


__ADS_2