Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
101. Bertelepon (lb)


__ADS_3

"Ini Nyonya." Sasdia menyodorkan sebuah piring berisi omelet kepada Cara.


Cara menatap makanan di atas piring itu, kemudian menatap Sasdia dan Jesy yang ikut menatapnya. "Lumayan juga bentuknya," tutur Cara.


Wanita itu mengambil pisau dan garpu. Secara perlahan Cara mulai memotong omelet sosis permintaannya tadi. Cara menusuk sepotong omelet dan mengarahkan ke dalam mulutnya. Kunyahan kedua mata Cara melotot, kemudian wanita itu melepehkan makanan yang ada di mulutnya. 'Asin sekali,' batin Cara kesal.


Prang …. Cara membanting piring di atas meja dengan kasar. Sasdia dan Jesy terlonjak mendengar bunyi nyaring itu. "Kalian sebut ini omelet? Apa kalian berniat meracuniku?" desis Cara.


Deg …. Sasdia dan Jesy menegang, suara pelan Cara sukses membuat mereka keringat dingin. Kejadian dua hari yang lalu kembali menghantui pikiran sepasang ibu dan anak itu. "Maaf, Cara ka …."


"Siapa kalian berani memanggil namaku?" sela Cara pelan.


"Maksud saya, Nyonya Vetro. Maafkan kami, mungkin selera kita sedikit berbeda," tutur Sasdia.


Cara tersenyum sinis. "Huh … tentu saja, gembel seperti kalian memangnya tahu apa? Seharusnya aku memang tidak boleh terlalu berharap dengan selera rendahan kalian itu," ejek Cara.


Untuk kesekian kalinya Sasdia dan Jesy mengepalkan tangannya. Mereka hanya bisa diam mendengar dan menahan semua lontaran Cara yang terus merendahkan mereka. "Sudahlah, cepat bersihkan itu," titah Cara.


Sasdia menahan tangan Jesy dan menggelengkan kepalanya pelan. "Biar Mama saja, Sayang," ucap Sasdia.


"Tapi, Ma." Sasdia kembali menggeleng pelan menghentikan kalimat Jesy.


"Ck, tidak usah banyak drama. Bersihkan saja itu cepat," ucap Cara.


Cara berdiri dari duduknya dan menatap sapasang ibu dan anak itu. "Aku beri kalian waktu sepuluh menit untuk membersihkan itu. Setelahnya susul aku ke ruangan tamu." Setelah mengatakan itu Cara pergi begitu saja dari sana.


Sasdia menatap benci punggung kecil Cara. "Wanita brengsek," desis Sasdia.


"Ayo cepat, Ma. Nanti kegialaannya kumat," tutur Jesy khawatir.

__ADS_1


"Dia memang sudah gila," balas Sasdia.


"Jaga mulut kalian," tegur salah satu pengawal. Sasdia dan Jesy menatap sinis ke arah pengawal itu.


.


.


.


"Sudah selesai?" tanya Cara.


"Sudah, Nyonya," sahut Sasdia.


"Bagus, sekarang …."


"Cara!" Kalimat Cara terputus karena suara seorang gadis. Cara tersenyum manis melihat kedatangan Siera.


"Aku tidak telat bukan?" tanya Siera.


"Tentu tidak, aku masih memulainya," balas Cara.


"Wah, baguslah. Sekarang kita akan bermain apa?" Siera tersenyum sinis ke arah Sasdia dan Jesy yang nampak tidak suka melihat kehadirannya.


...*****...


"Kau sudah di dalam?" tanya Rical.


"Hemm, sudah kau tangkap?" balas Geo.

__ADS_1


"Sudah, aku sudah memasukkannya ke penjara markas. Ingin berapa hari?" tutur Rical.


"Tiga hari, eksekusi di depan angkatannya," papar Geo.


"Wah … aku suka kalau begini."


"Laporan ke markas utama?" tanya Geo.


"Sudah aku kirim ke Farel, dia sudah membuat dokumen baru," papar Rical.


"Berkasmu tidak lengkap," ucap Geo.


"Iya, aku menyimpan selebihnya di Amerika. Sebelum kembali, aku akan ambil," balas Rical.


"Setelah semuanya selesai, kau urus gudang utama. Aku yakin di sana ada satu tikus," kata Geo.


"Benarkah? Baiklah, waktuku sebelum pulang masih lumayan. Tapi, di mana Cara? Kenapa aku tidak mendengar suaranya?" papar Rical.


"Di bawah," balas Geo.


"Oh iya, aku lupa. Nanti aku kirim laporan baru, aku ingin bermain," kata Rical. Mendengar kalimat itu Geo memutuskan sambungan telepon begitu saja.


.


.


.


Ada yang penasaran gak hubungan antara Geo dengan Rical? Atau mungkin sudah ada yang menebak?🤭

__ADS_1


Tunggu satu bab lagi untuk hari ini ya, nanti sore atau malam aku up🥳 Ingin bab untuk hubungan Geo dengan Rical gak nih?🥰


__ADS_2