
"Coba berputar-putar, Kak," ucap Cara antusias.
Tiga laki-laki kekar di depan sana sudah menghela napas lesu. Namun, tidak urung mereka tetap mengikuti perintah sang ratu. Berbeda dengan Cara yang sudah bertepuk tangan kegirangan. Tiga manusia yang menjadi korban ngidam aneh istri pemimpin Death itu sudah menunduk lesu. "Setelah ini tolong tenggelamkan aku ke laut afrika," ucap Alex lesu.
Sedangkan tiga gadis yang sedari tadi memperhatikan penampilan aneh tiga inti Death itu sudah mengulum bibir mencoba menahan tawa. Berbeda dengan Geo yang sedang menyeringai menatap tiga laki-laki kekar yang tiba-tiba berubah menjadi seorang princess tampan. "Kak, foto aku." Cara berjalan cepat ke arah tiga laki-laki yang sudah melotot terkejut.
"Tidak usah difoto segala, Ra," celetuk Rical.
"Sayang sekali kalau tidak diabadikan, Kak. Sudah, ayo cepat bergaya," papar Cara. Tiga bahu kekar itu merosot lesu, mereka pasrah melakukan apa yang Cara inginkan.
Sedangkan Jesy yang sedang memperhatikan kegiatan empat pasang manusia itu dari kejauhan, sudah tersenyum kecut. Wanita itu menunduk dan mengusap perutnya dengan rasa sedih di dalam hatinya. Sasdia yang melihat wajah sedih sang anak, sudah menghela napas pelan. "Apa kita ke dalam kamar saja, Sayang?" ucap Sasdia.
Jesy diam, wanita itu masih terus mengusap perutnya sambil menperhatikan kehebohan di ruangan tamu. "Andai aku memiliki suami seperti milik Cara, akan sangat bahagianya aku, Ma. Hari ini aku merasakan, tidak perlu dengan apa pun. Cukup dengan suami yang bersedia dan mau memperlakukan aku bak ratu … seperti yang dirasakan oleh Cara saat ini," lirih Jesy.
Untuk kesekian kalinya dalam hari ini, hati Sasdia berdenyut perih. Kalimat kesedihan yang di keluarkan oleh sang putri membuat hati Sasdia begitu remuk. Kehidupan yang dialami Jesy saat ini, sangat berbanding terbalik dengan kehidupannya yang dulu.
__ADS_1
Dulu, saat Sasdia hamil, wanita itu mendapatkan perhatian khusus dari Torih. Dia tidak menyangka, apa yang dirasakan oleh Jesy saat ini sangat berbanding terbalik dengan kehidupannya dulu. "Aku sekarang tidak perlu dengan harta, Ma. Aku ingin kasih sayang dan perhatian dari suamiku. Aku tidak meminta lebih, anakku juga butuh duperhatikan," sambung Jesy.
"Jangan berbicara seperti itu, Sayang. Masih ada Mama di sini, kamu tenanglah," ujar Sasdia pelan.
"Hati aku sakit, Ma. Hiks … aku juga sedang hamil, aku juga mengidam. Bahkan keinginan anakku tidaklah berat dan aneh seperti keinginan Cara itu. Aku hanya ingin Rical menyapaku dan menyapa anaknya. Permintaanku itu tidak aneh kan, Ma?" Jesy menangis menatap Sasdia dengan air mata yang sudah menganak sungai.
Dada Sasdia sesak mendengar keluhan sang anak. Air mata yang sedari ditahannya, kini sudah tak terbendung. Sasdia memeluk tubuh bergetar milik Jesy. "Tidak, Sayang. Permintaan kamu tidak aneh, jangan menangis. Nanti cucu Mama ikut bersedih," tutur Sasdia mencoba menenangkan.
"Aku harus apa supaya Rical melihatku, Ma. Aku harus apa?" Jesy berteriak tidak mampu menahan suara isakannya lagi.
"Tidak usah dihiraukan, Ra. Palingan mereka sedang mendrama. Apa boleh kami membuka pakaian ini sekarang?" ucap Rical.
Cara menoleh ke arah Rical kemudian mengangguk kecil. "Bukalah, aku juga sudah lelah rasanya," tutur Cara.
"Yes!" Alex dan Rical bersorak senang mendengar jawaban Cara. Berbeda dengan Farel yang langsung mendekat ke arah Siera, meminta tolong untuk membuka pakaian kesialan itu.
__ADS_1
"Lelah, Sayang? Ingin pulang?" tanya Geo lembut.
"Iya, aku ingin segera berbaring," jawab Cara.
Setelahnya wanita hamil muda itu menoleh ke arah Siera yang tampak sedang membantu Farel. "Sie, kamu pulang bersama Kak Farel, ya?" tanya Cara.
Siera menoleh dan mengangguk pelan. "Iya, Ra. Kamu pulanglah, kamu sudah terlihat begitu lelah. Kasihan calon keponakan aku." Siera tersenyum ke arah Cara yang sedang terkekeh kecil.
"Ya sudah, aku pulang, ya," ucap Cara.
"Iya, hati-hati," balas Siera.
Cara berdiri dan menatap Lamira dan Helen bergantian. Wanita itu tersenyum manis ke arah dua gadis itu. "Aku pulang lebih dulu, ya. Mora pulang bersama Kak Alex, kan? Kalau Helen pasti akan menginap di sini. Kak Rical jangan main-main bersama Helen, ya," papar Cara.
"Iya, Ra," sahut Rical.
__ADS_1