
"Ma, perut aku kenapa sering sakit, ya?" tanya Jesy.
"Seharusnya kita pergi ke dokter, Sayang. Sudah berapa bulan kita tidak cek kandungan kamu," papar Sasdia.
"Terus kita harus apa, Ma? Kita bahkan tidak memiliki uang," tutur Jesy.
"Kita coba tanyakan kepada Rical, ya. Mana tahu dia berbaik hati memberi sedikit uang," usul Sasdia.
"Entahlah, aku tidak yakin." Jesy menunduk sambil mengusap perut buncitnya.
Sasdia menatap wajah sedih Jesy, wanita paruh baya itu menghela napas sambil ikut mengusap perut sang putri. "Cucu Nenek kuat, pasti tidak ada apa-apa kan di sana?" bisik Sasdia di depan perut buncit Jesy.
Tes …. Sasdia mendongak saat merasakan pipinya basah terkena tetesan air. Wanita paruh baya itu menatap sendu sang putri yang sedang menangis dalam diam. Hampir setiap hari ibu hamil itu menangis, dengan alasan berbagai rupa. Sasdia dan Torih yang melihat itu hanya bisa menenangkan sang putri.
Sasdia memeluk tubuh Jesy yang sudah bergetar karena menangis. "Sayang," panggil Sasdia pelan.
"Anakku butuh ayahnya, Ma. Dia butuh dan ingin disapa dan disentuh ayahnya. Aku yakin, perutku sering kali sakit, karena dia protes di dalam sana."
__ADS_1
Hati Sasdia teriris mendengar isakan sang putri. Belum lagi dengan isi hati Jesy yang hampir setiap hari dia keluarkan. "Apa yang harus aku lakukan lagi, Ma? Aku lelah, aku ingin istirahat dari ini semua. Aku …."
Jesy akhirnya melepaskan suara tangisnya. "Sesak rasanya jika menahan tangis, apa aku boleh sesekali melepaskannya seperti ini?" sambung Jesy.
"Lepaskan, Sayang. Tidak usah ditahan lagi, lepaskan saja." Sasdia menyahut di sela tangisnya.
"Aku juga ingin bahagia, Ma. Jika Rical tidak ingin menganggap aku sebagai istrinya, setidaknya dia mengingat anak ini. Ini anak kandungnya, tapi sampai saat ini dia bahkan tidak pernah menyapa calon anaknya."
"Ada apa?" Suara Torih mengalihkan perhatian Sasdia. Laki-laki paruh baya itu mendekat dan menatap putrinya yang masih menangis.
"Cobalah, Mas. Kasihan anak kita, setiap hari perutnya sakit," sahut Sasdia.
"Tuan Carves sedang di ruangan tamu, aku akan mencoba bernegosiasi dengannya."
"Negosiasi apa?" Suara Erick mengambil alih perhatian tiga manusia yang sedang berada di ruangan makan itu.
"Tuan Carves," sapa Torih pelan.
__ADS_1
"Kau berisik, aku tidak fokus dengan pekerjaanku. Hentikan tangismu itu, drama sekali kau." Semenjak kejadian pendorongan Helen beberapa bulan yang lalu, sikap Rical benar-benar berubah kepada Jesy. Laki-laki yang biasanya terlihat santai itu, sekarang berubah cuek dan begitu dingin kepada Jesy.
"Rical, tolonglah kami kali ini. Perut Jesy setiap hari merasakan sakit, Jesy perlu cek ke dokter. Sudah berapa bulan kandungannya tidak diperiksa," terang Sasdia.
Rical menatap datar Jesy yang masih tampak mengeluarkan air mata. "Dia saja yang manja, Cara juga sedang hamil. Tapi tidak pernah seperti dirimu. Sengaja ingin mencari perhatian orang lain, drama," cemooh Rical.
Mata Sasdia membola mendengar perkataan Rical. "Dia bukan drama Rical, Jesy benar-benar kesakitan. Kamu tidak bisa membandingkan dengan Cara yang selalu mendapatkan apa pun dari suaminya. Sedang Jesy, jangankan menyentuhnya, meliriknya saja kau tidak pernah," protes Sasdia tidak terima.
Rical tersenyum miring. "Menyentuh? Aku tidak sudi, melihat wajahnya saja sudah membuat aku ingin muntah. Tidak usah banyak drama kalian, hentikan tangis itu. Jangan berisik di mansionku, kalau kau ingin menangis, pergi ke kamarmu dan tahan suaramu itu."
Jesy mengepalkan tangannya melihat punggung Rical yang mulai bergerak dari sana. "Setidaknya kau sapa anakmu, Rical!"
Langkah Rical terhenti saat mendengar teriakan Jesy. Laki-laki itu membalikkan badannya dan menatap Jesy dengan sebelas alis terangkat. "Kalau kau memang tidak mengakui aku sebagai istrimu, setidaknya sapa anakmu. Dia anak kandungmu, darah dagingmu," lirih Jesy.
Rical terkekeh sinis, setelahnya laki-laki itu menoleh ke arah Torih yang sempat terkejut. "Silakan kau tanyakan kepada Papamu itu, dia yang sudah berpengalaman masalah ini bukan? Jika sudah membenci ibunya, maka tidak ada rasa untuk anaknya. Bukan begitu Tuan Torih?"
Deg …. Torih menatap punggung tegap Rical yang mulai menjauh dari sana. Perasaan bersalah kembali membuncah di dalam hatinya. Torih menunduk sambil menghela napas berat. Sedangkan Jesy sudah melanjutkan tangisnya dengan Sasdia yang berusaha keras untuk menenangkan.
__ADS_1