
"Sudah selesai semuanya?" tanya Bima.
"Tentu, pakai ini." Bimo memberikan sebuah setelan berwarna putih kepada Bima.
Bima mengambil benda itu dan memperhatikan setelan perawat itu. Bima tersenyum miring melihat karya Bimo yang tidak pernah mengecewakan. "Baiklah, kita harus segera ke sana. Untung kita mempersiapkan lebih cepat. Siapa sangka istrinya malah pendarahan." Bima berucap sambil tersenyum miring.
"Kita akan mengambil alih keranjang bayi dulu?" tanya Bimo.
"Iya, cepatlah," balas Bima.
Sepasang laki-laki kembar itu berjalan santai di koridor rumah sakit besar itu. Langkah mereka terhenti saat melihat puluhan laki-laki bersiaga di sebuah lorong rumah sakit. Bima dan Bimo saling tatap dan tersenyum miring. "Benar bukan? Pasti penjagaannya akan sangat ketat. Tapi, kita tidak bodoh," papar Bima.
Seorang perawat keluar dari ruangan operasi sambil mendorong sebuah ranjang bayi. Bima dan Bimo kembali tersenyum miring melihat itu semua. "Bagus, kita tunggu di sini," tutur Bima.
Sedangkan di depan ruangan, perawat wanita itu nampak begitu kaku karena melihat puluhan anggota Death. "Ini keponakan saya?" tanya Juan antusias.
"Iya, Tuan," balas perawat itu kaku.
"Bagaimana dengan adik saya?" tanya Juan lagi.
"Nyonya Vetro sedang tidak sadarkan diri, Tuan. Mungkin Dokter nanti akan menjelaskan lebih rinci," sahut perawat itu. Alex terdiam mendengar perkataan perawat itu.
'Kamu akan baik-baik saja kan, Dek?' batin Alex khawatir.
__ADS_1
"Baiklah, kau ingin membawanya ke mana?" tanya Alex.
"Ruangan yang sudah diminta oleh Tuan Vetro, Tuan," sahut perawat.
"Baik, kau temani dia." Alex menatap satu laki-laki yang saat ini sudah menunduk patuh.
"Baik, Tuan," sahut laki-laki itu.
Perawat wanita itu pergi diikuti satu anggota Death di belakangnya. Melihat itu membuat Bima dan Bimo saling tatap. "Kau membawa jarum?" tanya Bima.
"Tentu saja, untuk laki-laki itu bukan?" balas Bimo.
"Iya, kita harus bisa menjaga suara. Kalau mereka tahu, sudah pasti hidup kita akan berakhir di sini," tutur Bima.
"Tenang saja, kau ambil ini. Kau urus laki-laki itu, aku urus perawat seksi itu." Bimo menjilat bibirnya menatap perawat wanita yang mulai mendekat ke arahnya.
"Hanya sebentar, melepas ****** saja. Kita kan bermain santai, tidak akan ketahuan," balas Bimo santai.
"Ck, terserah kau. Sekarang kau ambil posisi, di sana. Aku di sini," titah Bima.
"Mantap, pas untuk aku membanting tubuh seksi itu," sahut Bimo masih tidak seirama dengan keinginan Bima.
"Seriuslah, Bimo!" tegur Bima.
__ADS_1
"Aku serius," jawab Bimo.
...*****...
"Bagaimana? Kau sudah membawa mereka ke sini?" tanya Alex kepada Farel.
"Sudah, mereka sedang di bawah bersama Rical. Bagaimana kondisi Cyra dan keponakanku?" balas Farel tidak sabar.
Alex menghela napas berat mendengar pertanyaan Farel. "Bayinya sudah lahir, tapi Cara tidak sadarkan diri. Aku masih menunggu dokter keluar," ucap Alex.
Wajah Farel yang biasanya tampak datar, sekarang begitu terlihat tegang dan khawatir. Kesunyian itu terganti oleh suara cukup nyaring dari langkah beberapa pasang kaki. Dari kejauhan terlihat Rical berjalan dengan tiga wanita sekaligus. Tiga wanita itu adalah Siera, Lamira dan Helen yang nampak bergegas dengan wajah panik.
"Bagaimana kondisi Cara, Kak?" tanya Siera tidak sabar. Raut tegang di wajah gadis itu begitu kental terlihat.
"Tenanglah dulu, Sie," balas Farel.
"Jawablah, Kak," tutur Siera lagi.
"Bayinya sudah lahir, tapi Cara masih di dalam. Aku juga sedang menunggu," jelas Alex.
Siera menatap pintu ruangan operasi yang masih nampak tertutup rapat. Lampu ruangan operasi itu juga masih menyala, menandakan operasi masih berlangsung. Siera memegang lengan Farel merasa persendiannya mulai lemah. Farel menoleh dan melotot melihat wajah pucat calon tunangannya itu. "Sie, ayo duduk." Farel membawa tubuh Siera untuk duduk di kursi tunggu.
"Cara akan baik-baik saja kan, Kak?" tanya Siera pelan.
__ADS_1
"Tentu saja, bukankah kamu sendiri yang tahu. Bagaimana kuatnya Cara selama ini," balas Farel.
"Kak, Kak Cara pasti baik-baik saja." Lamira mendekat bersama Helen. Dua gadis itu mencoba menenangkan Siera yang terlihat begitu khawatir.